RI Ketinggalan Vietnam, Airlangga Bongkar Jurus Mengejar Ekonomi Sembilan Persen

Hilirisasi 28 Komoditas Butuh USD618 Miliar, Airlangga Bidik Ekspor RI USD857 MiliarDPR Tagih Perlindungan OJK-BEI Terhadap Investor Ritel saat IHSG Ambruk 30 Persen

Yang membuat cerita Vietnam semakin menarik adalah bagaimana pertumbuhan itu ditopang oleh aktivitas industrinya.

Produksi industri Vietnam sepanjang sembilan bulan 2026 tumbuh 12,3 persen, sementara industri pengolahan dan manufaktur tumbuh 12,9 persen. Pada September saja, produksi industri melonjak 16,7 persen secara tahunan.

Ekspornya pun bergerak searah. General Statistics Office Vietnam mencatat ekspor barang Januari hingga September 2026 mencapai USD434,30 miliar (sekitar Rp7.770 triliun), tumbuh 24,5 persen secara tahunan.

Dari angka tersebut, produk industri pengolahan menyumbang USD392,79 miliar (sekitar Rp7.031 triliun) atau 90,4 persen dari total ekspor.

Menariknya, sekitar 80,7 persen ekspor Vietnam tersebut berasal dari perusahaan dengan modal asing.

Artinya, mesin ekspor Vietnam sangat berkaitan dengan keberadaan perusahaan asing yang berproduksi di dalam negeri dan menjadikan Vietnam sebagai basis rantai pasok global.

Salah satu gambaran paling jelas terlihat dari produk teknologi. Dalam delapan bulan pertama 2026, ekspor komputer, produk elektronik dan komponennya mencapai USD101,06 miliar (sekitar Rp1.808 triliun).

Nilai tersebut melonjak 51,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyumbang sekitar 27 persen dari total ekspor Vietnam.

Sementara itu, Indonesia sebenarnya tidak sedang duduk diam menonton Vietnam berlari.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi mencatat realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan.

Dari jumlah tersebut, PMA mencapai Rp507,6 triliun atau 50,2 persen dari total investasi.

Investasi hilirisasi juga sudah mencapai Rp300,1 triliun atau 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional pada semester pertama tahun ini.

Industri logam dasar, barang logam, pertambangan, transportasi, pergudangan, telekomunikasi, serta perumahan dan kawasan industri menjadi sektor-sektor dengan realisasi investasi terbesar.

Persoalannya kemudian bukan sesederhana siapa yang paling banyak menarik investasi. Indonesia juga punya modal investasi yang besar.

Yang menjadi pembeda adalah ke mana modal tersebut mengalir dan seberapa cepat investasi itu berubah menjadi kapasitas industri berorientasi ekspor.

Data perdagangan memperlihatkan kontras tersebut. BPS mencatat ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai USD193,64 miliar (sekitar Rp3.465 triliun), tumbuh 4,74 persen secara tahunan.

Pada periode yang sama, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus USD7,25 miliar (sekitar Rp129,8 triliun).

Vietnam memang memiliki mesin ekspor yang lebih besar, tetapi ketergantungannya terhadap perusahaan asing juga sangat tinggi. Pada Januari hingga September, perusahaan bermodal asing menyumbang 80,7 persen ekspor Vietnam.

Di sisi lain, lonjakan ekspor elektronik menunjukkan bagaimana investasi asing telah terhubung dengan rantai pasok manufaktur berteknologi tinggi.

Jadi, ketika Airlangga mengatakan Indonesia harus mengejar digitalisasi, semikonduktor, dan AI, tantangannya bukan semata-mata mengejar angka pertumbuhan Vietnam.

Indonesia perlu memastikan investasi yang masuk mampu membawa struktur industrinya naik kelas, bukan sekadar memperbesar nilai investasi di atas kertas.

Sebab Vietnam sudah memberikan contoh yang cukup terang. Pertumbuhan tinggi datang bersama ekspor manufaktur yang besar, investasi asing yang kuat, dan industri teknologi yang semakin dominan.

Pertanyaannya sekarang, apakah Indonesia mampu membuat investasi dan hilirisasi yang sudah dikejar selama ini menghasilkan lompatan industri yang sama?

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.