Emas Terkoreksi, Investor Justru Tambah Kepemilikan Lewat ETF

Namun, di tengah koreksi harga tersebut, investor justru terus menambah kepemilikan melalui produk exchange-traded fundberbasis emas.

Kondisi tersebut menjadi anomali di pasar emas. World Gold Councilmencatat harga emas dalam denominasi dolar AS turun lebih dari 8 persen sepanjang September.

Pada saat yang sama, ETF emas global justru mencatatkan arus dana masuk lebih dari 70 ton. WGC menyebut kombinasi penurunan harga sebesar itu dengan kenaikan kepemilikan ETF dalam skala tersebut merupakan kondisi yang tidak biasa.

Reuters pada 6 Oktober 2026 melaporkan, pergerakan harga emas memasuki Oktober juga masih berfluktuasi.

Pada 30 September, harga emas spot turun 0,7 persen menjadi USD4.152,86 per troy ounce dan mengakhiri September dengan penurunan 6,6 persen.

Tekanan datang meski data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan sempat mengurangi peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober.

Pada 2 Oktober, emas kembali melemah 0,9 persen menjadi US$4.140,06 per troy ounce. Harga tersebut membuat emas berada di jalur penurunan mingguan sekitar 3,4 persen.

Penguatan dolar AS dan kenaikan yield Treasury menjadi faktor yang membatasi daya tarik emas.

Masih Tunggu Sinyal The Fed

Harga emas kemudian mulai pulih pada perdagangan Selasa, 6 Oktober. Emas spot naik 0,7 persen menjadi USD4.168,33 per troy ounce, sedangkan kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 0,7 persen menjadi USD4.187,10.

Kenaikan tersebut terjadi ketika yield Treasury AS turun dan dolar melemah.

Kondisi itu membuat emas kembali lebih menarik bagi investor di luar Amerika Serikat karena biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi lebih rendah.

Pasar kini menunggu risalah rapat Federal Reserve pada September untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Berdasarkan perkembangan ekspektasi pasar, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober telah turun menjadi sekitar 22 persen. Namun, peluang kenaikan pada Desember masih berada di sekitar 84 persen.

Perbedaan ekspektasi tersebut menjadi penting bagi emas. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berbunga sekaligus menekan aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Sebaliknya, apabila pasar semakin yakin bahwa The Fed akan menahan kenaikan suku bunga, emas berpeluang mendapatkan dukungan dari penurunan yield dan dolar.

ETF Menjadi Penyangga

Di tengah tekanan harga, arus dana ETF menunjukkan bahwa sebagian investor belum meninggalkan emas. Data WGC menunjukkan lebih dari 70 ton emas masuk ke ETF global sepanjang September, ketika harga justru turun lebih dari 8 persen.

Kondisi tersebut berbeda dengan pergerakan posisi investor di pasar berjangka. WGC mencatat posisi Managed Money di COMEX turun setara 84 ton sepanjang September.

Posisi kategori spreading juga turun setara 156 ton. Perbedaan arus antara ETF dan pasar berjangka tersebut membantu menjelaskan mengapa harga emas bisa melemah meskipun permintaan ETF tetap kuat.

Analis TD Securities, yang dikutip Reuters menilai pembelian ETF yang berkelanjutan masih menjadi salah satu penopang harga emas meski logam mulia menghadapi tekanan dalam jangka pendek.

“Meskipun menghadapi tekanan dalam jangka pendek, pembelian ETF yang terus berlanjut dan permintaan dari investor diskresioner tetap memberikan dukungan terhadap harga emas,” kata analis, dikutip Reuters, 6 Oktober 2026.

Fenomena itu juga menunjukkan bahwa tekanan harga emas selama September tidak serta-merta mencerminkan hilangnya minat investasi terhadap logam mulia.

Investor ETF justru tetap meningkatkan eksposur, sementara sebagian pelaku pasar berjangka mengurangi posisi.

Sebelum koreksi September, arus ETF emas memang telah menunjukkan penguatan.

Pada Agustus, ETF emas global menarik dana sekitar US$18 miliar dan meningkatkan total kepemilikan sebesar 121 ton menjadi 4.189 ton, level tertinggi sepanjang sejarah.

Dengan demikian, pergerakan emas memasuki Oktober memperlihatkan dua kekuatan yang berlawanan. Dalam jangka pendek, harga masih sensitif terhadap dolar, yield Treasury dan ekspektasi kebijakan The Fed.

Namun, dari sisi investasi melalui ETF, permintaan justru menunjukkan ketahanan.

Bagi investor, kondisi tersebut membuat arah emas berikutnya sangat bergantung pada perubahan ekspektasi suku bunga sekaligus kemampuan permintaan investasi mempertahankan arus masuk ke ETF.

Jika yield dan dolar kembali menguat, tekanan harga masih dapat berlanjut. Sebaliknya, pelemahan keduanya berpotensi memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.