Nasdaq Merosot 1,25 Persen, Saham Nvidia dan Micron Technology Top Losers

Harga minyak melonja akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan gangguan produksi Amerika Serikat kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Tekanan paling besar terjadi pada Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi. Indeks tersebut turun 345,35 poin atau 1,25 persen menjadi 27.193,34.

Penurunan terjadi hanya dua hari setelah Nasdaq mencatat rekor penutupan.

Sementara itu, S&P 500 turun 36,41 poin atau 0,47 persen ke level 7.765,36. Berbeda dengan dua indeks tersebut, Dow Jones Industrial Average justru menguat tipis 51,77 poin atau 0,10 persen menjadi 51.231,64.

Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan perdagangan tidak merata.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian utama pasar karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, sementara saham teknologi menghadapi tekanan tambahan dari perkembangan pembiayaan perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan.

Harga Minyak Melonjak, Kenaikan Suku Bunga Jadi PerhatianĀ 

Harga minyak menjadi salah satu penggerak utama perdagangan. Minyak mentah West Texas Intermediateuntuk pengiriman terdekat ditutup melonjak 3,6 persen, sedangkan Brent naik 4,1 persen.

Kenaikan tersebut terjadi setelah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global menyusul serangkaian serangan terhadap kapal di Selat Hormuz.

Pada saat yang sama, produksi minyak Amerika Serikat juga mengalami gangguan akibat aktivitas badai.

Gangguan pasokan tersebut membuat harga minyak AS telah meningkat lebih dari 60 persen sepanjang tahun berjalan.

Pergerakan harga minyak menjadi semakin penting bagi pasar karena kenaikan energi dapat meningkatkan tekanan inflasi dan menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam kebijakan moneter.

Investor juga mencermati langkah Federal Reserve setelah bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga pada September untuk pertama kalinya sejak Juli 2023.

Pasar saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober.

Namun, ekspektasi terhadap pertemuan Desember masih terbuka. Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada Desember berada di 69,2 persen.

Gubernur The Fed Christopher Waller juga menyampaikan bahwa kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan. Meski demikian, waktu pelaksanaannya masih fleksibel.

Perkembangan tersebut membuat harga minyak tidak hanya menjadi isu di pasar komoditas, tetapi juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor saham dan pasar obligasi dalam memperkirakan arah kebijakan moneter berikutnya.

Analis US Bank Wealth Management Terry Sandven mengatakan pasar cenderung bergerak mendatar menjelang dimulainya musim laporan keuangan kuartal ketiga pada pekan depan.

Investor juga terus mencermati perkembangan konflik Iran yang mendorong harga minyak.

Sektor Teknologi Catat Penurunan Terdalam

Di pasar saham, sektor energi menjadi sektor dengan kinerja terbaik di antara 11 sektor utama S&P 500. Sebaliknya, sektor teknologi mencatat penurunan terdalam.

Saham perusahaan semikonduktor menjadi salah satu kelompok yang mengalami tekanan. Saham Nvidia turun 2,94 persen, sementara Micron Technology anjlok 4,8 persen.

Tekanan terhadap saham chip juga muncul setelah laporan Financial Times menyebut pendapatan tahunan OpenAI berdasarkan laju pendapatan saat ini sekitar USD20 miliar lebih rendah dari yang sebelumnya diindikasikan perusahaan.

Perkembangan pembiayaan perusahaan teknologi turut menjadi perhatian. Wall Street Journal melaporkan Broadcom tengah menyiapkan pembiayaan senilai USD50 miliar untuk OpenAI.

Oracle juga disebut sedang mencari pendanaan dalam jumlah yang belum ditentukan.

Kabar tersebut meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan pendanaan perusahaan teknologi. Penerbitan utang dalam jumlah besar berpotensi meningkatkan persaingan dalam memperoleh modal di pasar.

Saham Broadcom turun 4,4 persen, sementara Oracle merosot 5,5 persen. Amazon juga melemah 2,25 persen.

Di sisi lain, sejumlah saham tetap mampu mencatat kenaikan.

Di Dow Jones, Home Depot menjadi saham dengan kinerja terbaik setelah naik 3,39 persen, diikuti Chevron yang menguat 3,12 persen dan International Business Machines sebesar 2,77 persen.

PepsiCo melonjak 3,7 persen setelah perusahaan menyampaikan rencana tambahan pemangkasan biaya, meskipun menurunkan proyeksi laba inti tahunan.

Chipotle Mexican Grill juga menguat 6,2 persen setelah muncul laporan bahwa Starbucks sedang menjajaki kemungkinan akuisisi perusahaan tersebut.

Palantir naik 2,4 persen setelah Goldman Sachs menaikkan rekomendasi saham perusahaan perangkat lunak analitik data itu menjadi buy dari sebelumnya neutral.

Pergerakan saham secara keseluruhan menunjukkan tekanan yang cukup luas. Di NYSE, saham yang naik masih mengungguli saham yang turun dengan rasio 1,28 banding 1.

Namun, terdapat 110 saham yang mencatat level tertinggi baru dan 416 saham mencapai level terendah baru.

Di Nasdaq, sebanyak 2.050 saham menguat dan 2.734 saham melemah. Rasio saham turun terhadap saham naik mencapai 1,33 banding 1.

S&P 500 mencatat empat saham pada level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 12 saham pada level terendah baru. Sementara Nasdaq Composite mencatat 33 saham pada level tertinggi baru dan 319 saham pada level terendah baru.

Volume perdagangan juga meningkat. Transaksi mencapai 18,81 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 17,74 miliar saham dalam 20 sesi terakhir.

Dengan demikian, perdagangan Wall Street Kamis kembali memperlihatkan pengaruh kuat harga minyak terhadap sentimen pasar.

Kenaikan harga energi terjadi bersamaan dengan meningkatnya perhatian terhadap inflasi dan peluang perubahan suku bunga The Fed.

Di tengah tekanan tersebut, investor kini memasuki periode yang lebih penting, yakni musim laporan keuangan kuartal ketiga.

Pergerakan harga minyak, perkembangan konflik Iran, kebijakan The Fed, serta kinerja perusahaan akan menjadi faktor yang diperhatikan pasar dalam perdagangan berikutnya.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.