Kenaikan dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah serta terhentinya sebagian besar produksi minyak lepas pantai Amerika Serikat di Teluk Meksiko akibat ancaman badai.
Minyak mentah Brent sebagai patokan internasional ditutup naik USD4,08 atau 4,1 persen menjadi USD104,28 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas IntermediateAmerika Serikat melonjak USD3,21 atau 3,6 persen menjadi USD91,49 per barel.
Kenaikan harga bahkan sempat lebih tinggi sepanjang perdagangan. Brent dan WTI masing-masing sempat melonjak lebih dari USD5 per barel.
Brent menyentuh level tertinggi sejak 29 September sebelum kemudian memangkas sebagian kenaikan.
Pergerakan tersebut terjadi ketika pasar kembali memperhitungkan risiko terhadap pasokan minyak global.
Di Timur Tengah, kekhawatiran meningkat menyusul kemungkinan serangan Amerika Serikat terhadap Iran dan meningkatnya ancaman terhadap lalu lintas kapal tanker di kawasan Teluk.
Badai Isaias di Teluk Meksiko
Pada saat yang sama, pasar minyak menghadapi gangguan pasokan dari Amerika Serikat. Badai Isaias yang bergerak menuju Teluk Meksiko mendorong perusahaan minyak dan gas menghentikan sebagian produksi lepas pantai.
Data US Marine Minerals Administration menunjukkan sekitar 1,3 juta barel minyak per hari telah dihentikan produksinya hingga Kamis.
Angka tersebut setara dengan 62,9 persen dari total produksi minyak lepas pantai Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Gangguan tersebut membuat pasar menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus. Risiko geopolitik mengancam jalur distribusi minyak di Timur Tengah, sementara cuaca buruk mengurangi produksi dari salah satu wilayah penting Amerika Serikat.
Teluk Meksiko menjadi perhatian karena penghentian produksi dalam jumlah besar dapat mengurangi pasokan minyak mentah dalam jangka pendek. Shell dan Chevron sebelumnya menyatakan telah mengurangi aktivitas operasi lepas pantai.
BP juga mengevakuasi seluruh personel dan menghentikan produksi di anjungan Na Kika dan Thunder Horse.
Serangan Iran dan Menunggu Balasan Washington
Di Timur Tengah, risiko terhadap pengiriman minyak juga meningkat. Konflik Iran telah memasuki bulan kedelapan dan ancaman terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz semakin tinggi.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia. Sebelum perang berlangsung, sekitar 20 persen minyak dan bahan bakar dunia disebut melewati jalur tersebut.
Serangan terhadap kapal tanker pada pekan lalu mencapai level tertinggi sejak konflik dimulai, meskipun negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk terus meningkatkan ekspor.
Kepala Energi MST Marquee Saul Kavonic mengatakan frekuensi serangan Iran terhadap kapal kini berada pada level tertinggi sejak perang dimulai dan berpotensi meningkat lebih lanjut.
Namun, ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya mendorong harga minyak bergerak satu arah. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai pembicaraan dengan Iran sempat menahan kenaikan harga.
Trump mengatakan Washington sedang melakukan pembicaraan produktif dengan Teheran dan Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran hingga setelah pemilihan umum sela pada 3 November.
Pernyataan tersebut membuat harga minyak memangkas sebagian kenaikan setelah Brent dan WTI sempat melonjak lebih dari USD5 per barel.
Iran juga dilaporkan sedang meninjau respons Amerika Serikat terhadap proposal yang memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi, menurut kantor berita Tasnim, menyatakan Teheran akan memberikan tanggapan dalam beberapa hari.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat pasar tetap sensitif terhadap setiap informasi mengenai konflik dan jalur pelayaran di kawasan Teluk.
Sanksi Baru untuk Iran
Di sisi lain, tekanan terhadap Iran terus meningkat setelah Amerika Serikat pada Kamis memberlakukan sanksi baru.
Departemen Keuangan AS mengatakan sanksi tersebut menyasar individu, jaringan, serta 17 kapal yang digunakan untuk mengangkut minyak mentah, produk minyak dan petrokimia Iran.
Langkah tersebut menambah tekanan terhadap rantai perdagangan minyak Iran ketika pasar sedang menghadapi risiko gangguan pasokan.
Risiko geopolitik juga meluas ke negara lain di kawasan. Prancis dan Arab Saudi disebut tengah mempelajari opsi penggunaan aset militer Prancis untuk membantu melindungi terminal minyak Yanbu. Pembahasan tersebut masih berlangsung.
Suriah juga mempertimbangkan kemungkinan memberikan bantuan militer kepada Arab Saudi dalam konflik melawan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Opsi yang dibahas mencakup bantuan pertahanan hingga pengerahan pasukan untuk mendukung pasukan Yaman yang didukung Saudi.
Dengan perkembangan tersebut, pasar minyak menghadapi kombinasi gangguan produksi, risiko transportasi dan ketidakpastian geopolitik.
Pernyataan IEA Sempat Redam Kenaikkan
Sehari sebelumnya, harga minyak justru ditutup melemah setelah Badan Energi Internasionalmenyepakati percepatan pelepasan cadangan minyak dan memprioritaskan pasokan diesel.
Kebijakan tersebut ditujukan untuk membantu negara-negara yang menghadapi harga bahan bakar tinggi dan gangguan pasokan akibat perang.
Namun, perkembangan di Teluk Meksiko dan meningkatnya ketegangan AS-Iran kembali mengubah sentimen pasar pada perdagangan berikutnya.
Kenaikan Brent ke atas USD104 per barel dan WTI mendekati USD92 per barel menunjukkan bagaimana pasar kembali memberikan perhatian besar terhadap risiko pasokan.
Dalam kondisi tersebut, perubahan situasi di Selat Hormuz, perkembangan hubungan Amerika Serikat-Iran, serta pemulihan produksi minyak Amerika di Teluk Meksiko menjadi faktor penting yang akan menentukan pergerakan harga selanjutnya.
Untuk saat ini, pasar minyak menghadapi dua persoalan berbeda yang terjadi bersamaan. Di satu sisi, konflik meningkatkan risiko terhadap jalur distribusi minyak global.
Di sisi lain, badai mengurangi produksi minyak Amerika Serikat. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat harga minyak melonjak lebih dari 4 persen pada perdagangan Kamis.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.