Tekanan Inflasi Diprediksi Meningkat pada November 2026, BI Beber Alasannya

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan catatan tersebut tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga UmumNovember 2026 dan Februari 2027 yang masing-masing sebesar 149,9 dan 177,9.

“Lebih tinggi dibandingkan dengan indeks pada periode sebelumnya yang masing-masing tercatat sebesar 146,5 dan 166,0,” ujar dia dalam keterangannya dikutip Sabtu, 10 Oktober 2026.

Adapun Ramdan menyebut penjualan eceran pada September 2026 diprediksi meningkat secara tahunan berkaca dari Indeks Penjualan Riilbulan tersebut yang diprakirakan tumbuh sebesar 1,4 persen year on year

“Lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,3 persen, sehingga mencapai level 221,3,” katanya.

Ramdan menyampaikan, peningkatan penjualan tersebut didorong oleh kenaikan penjualan pada Kelompok Barang Lainnya, Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, serta Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi.

“Secara bulanan, penjualan eceran pada September 2026 diprakirakan terkontraksi sebesar 2,3 persenterutama dipengaruhi oleh penurunan pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau,” pungkasnya.

Keyakinan Konsumen Terjaga

Di sisi lain, Survei Konsumen Bank Indonesiamenyatakan bahwa keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga pada September 2026.

Ramdan Denny mengatakan catatan tersebut  tecermin dari Indeks Keyakinan KonsumenSeptember 2026 yang berada pada level optimissebesar 118,1.

Menurut dia, tetap terjaganya keyakinan konsumen pada September 2026 ditopang oleh Indeks Ekspektasi Konsumenyang tercatat sebesar 128,7, 

“Lebih tinggi dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 127,6,” ujar dia.

Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Iniberada pada level 107,5, atau lebih rendah dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya yang sebesar 109,4.

APBN September 2026: Pendapatan Negara Naik 25,5 Persen

Kementerian Keuangan mengumumkan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negarahingga 30 September 2026. APBN 2026 sampai periode tersebut menunjukkan pertumbuhan pendapatan negara yang lebih cepat dibandingkan belanja.

Meski pemerintah telah membelanjakan Rp2.660,5 triliun, defisit anggaran tercatat Rp319 triliun atau setara 1,24 persen terhadap Produk Domestik Bruto

Berdasarkan paparan dalam APBN KiTa, pendapatan negara mencapai Rp2.341,5 triliun atau 74,2 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun. Realisasi tersebut tumbuh 25,5 persen secara tahunan

Sementara itu, belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun atau 69,2 persen dari pagu Rp3.842,7 triliun. Angka ini meningkat 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan, kinerja APBN September ini terbilang positif dan semakin mendekati target yang dicanangkan, khususnya pada pendapatan negara.

“Ini adalah kondisi yang sehat. Karena kalau kita lihat pendapatan negara sampai akhir September 74,2 persen dari target APBN.

Kita tahu kalau akhir September itu tiga per empat tahun atau 75 persen. Kalau pendapatan negara sudah terkumpul 74 persen, ini on track,” ujarnya dalam konferensi pers APBN KiTa, Jumat, 9 Oktober 2026.

Masih terkait pendapatan, penerimaan perpajakan masih menjadi komponen terbesar dalam menopang kapasitas fiskal pemerintah. Realisasi penerimaan perpajakan mencapai Rp1.847,7 triliun atau 68,6 persen dari target Rp2.693,7 triliun.

Nilai tersebut terhitung tumbuh 21,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di dalamnya, penerimaan pajak tercatat Rp1.607,6 triliun atau 68,2 persen dari target Rp2.357,7 triliun.

Penerimaan pajak tumbuh 24,1 persen secara tahunan, lebih tinggi daripada pertumbuhan belanja negara yang sebesar 19 persen. “Penerimaan pajak Rp1.606,7 triliun sudah dikumpulkan teman-teman Direktorat Jenderal Pajak.

Ini kita harapkan terus menguat ke depannya,” kata Suahasil.

Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp240,1 triliun atau 71,5 persen dari target Rp336 triliun. Realisasi tersebut tumbuh 8,5 persen secara tahunan.

Kinerja penerimaan juga ditopang oleh Penerimaan Negara Bukan Pajakyang mencapai Rp492,3 triliun.

Angka ini dilaporkan telah melampaui target tahunan sebesar Rp459,2 triliun, dengan realisasi mencapai 107,2 persen dan pertumbuhan 41,7 persen secara tahunan.

Beralih ke sisi pengeluaran, belanja pemerintah pusat tercatat mencapai Rp2.061,3 triliun atau 65,4 persen dari pagu Rp3.149,7 triliun. Realisasi ini tumbuh 29,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Belanja kementerian dan lembaga mencapai Rp1.069,4 triliun atau 70,8 persen dari pagu Rp1.510,5 triliun. Sementara itu, belanja nonkementerian dan lembaga mencapai Rp991,9 triliun atau 60,5 persen dari pagu Rp1.639,2 triliun.

Transfer ke daerah tercatat Rp599,2 triliun atau 86,5 persen dari pagu Rp693 triliun. Namun, realisasi transfer ke daerah dalam paparan tersebut turun 7,1 persen secara tahunan.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.