Lembaga investasi negara tersebut juga berencana menambah investasi saham dan obligasi sekitar USD1 miliar hingga akhir 2026.
Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management, Rani Piputri, mengatakan peluang investasi dapat dimanfaatkan ketika tekanan pasar hanya dipicu sentimen eksternal sementara.
Peluang tersebut termasuk kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI. Indonesia berpotensi turun dari kategori pasar berkembangmenjadi pasar perbatasan
MSCI dijadwalkan memberikan pembaruan terkait peninjauan klasifikasi Indonesia pada bulan depan.
Sebelumnya, tekanan terhadap pasar saham Indonesia juga berlangsung di tengah kekhawatiran investor mengenai transparansi pasar modal dan kemungkinan penurunan klasifikasi Indonesia oleh MSCI dari kategori emerging market menjadi frontier market.
Dalam pemberitaan pada 8 Oktober 2026, Financial Times melaporkan IHSG telah turun 28 persen sepanjang tahun berjalan, menjadikan pasar saham Indonesia berkinerja terburuk secara global pada periode tersebut.
Rani mengatakan Danantara telah membeli saham secara bertahap sejak akhir tahun lalu. Pembelian juga dilakukan ketika pasar saham tertekan setelah MSCI memperingatkan potensi penurunan status Indonesia pada Januari.
Menurutnya, Danantara dapat kembali memasuki pasar jika penurunan harga menciptakan peluang investasi yang menguntungkan. Namun, setiap keputusan tetap harus melalui proses uji tuntas
“Kami membeli saham pada awal tahun ini karena melihat nilai investasi yang menarik. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar,” kata Rani, Jumat, 9 Oktober 2026.
Ia menambahkan, tekanan pasar dapat membuka kesempatan untuk membeli aset dengan harga lebih rendah. Nilai aset tersebut berpotensi meningkat kembali seiring perubahan kondisi pasar.
Danantara Siapkan Tambahan Investasi USD1 Miliar
Unit investasi publik Danantara telah mengalokasikan sekitar USD3 miliar untuk membeli saham dan obligasi di dalam maupun luar negeri.
Dengan mempertimbangkan kondisi pasar, lembaga tersebut berencana menambah investasi sekitar USD1 miliar hingga akhir 2026.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi pengelolaan portofolio investasi publik Danantara. Keputusan pembelian tetap mempertimbangkan valuasi dan kelayakan aset.
Danantara diluncurkan pada awal 2025 dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
Lembaga tersebut mendapat mandat mengelola aset negara senilai sekitar USD900 miliar. Aset itu tersebar di sekitar 1.000 perusahaan, dengan dividen dimanfaatkan untuk memaksimalkan hasil investasi.
Dalam portofolio investasi publik, sekitar 65 persen aset Danantara ditempatkan pada saham. Sebanyak 30 persen dialokasikan ke instrumen pendapatan tetap, sedangkan lima persen lainnya ditempatkan pada dana lindung nilai
Sekitar seperempat portofolio investasi publik tersebut dialokasikan ke Indonesia.
Selain pasar saham, Rani menjelaskan pendekatan Danantara terhadap investasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI).
Menurutnya, Danantara tidak menganggap AI sebagai gelembung investasi yang akan segera pecah. Meski demikian, lembaga tersebut tetap berhati-hati karena dinilai terlambat memasuki sektor itu.
Rani menilai kekhawatiran investor terhadap potensi gelembung dapat membantu menjaga disiplin pasar. Sebaliknya, risiko perlu diwaspadai jika seluruh pelaku pasar menganggap investasi AI selalu menguntungkan.
Danantara Targetkan Imbal Hasil di Atas Biaya Modal
Sementara itu, Direktur Pelaksana Hubungan Global dan Komunikasi Danantara Indonesia, Pahala Mansury, menyampaikan target imbal hasil investasi lembaganya.
Danantara menargetkan imbal hasil sebesar 200–300 basis poin di atas biaya modal. Sebagai pembanding, biaya modal tersebut merujuk pada penerbitan obligasi dolar AS bertenor lima tahun pada Juni.
Obligasi tersebut menawarkan imbal hasil sebesar 5,35 persen.
Danantara juga berpeluang mempertahankan dividen sebesar Rp120 triliun atau sekitar USD6,7 miliar. Dana tersebut sebelumnya disebut akan disetorkan kepada pemerintah pada tahun ini.
Pahala mengatakan Danantara masih membahas persoalan dividen tersebut dengan Menteri Keuangan Suahasil Nazara.
Sejauh ini, terdapat indikasi bahwa Danantara masih dapat mengelola dividen tersebut. Namun, keputusan akhir belum ditetapkan.
Danantara Tegaskan Investasi Bukan untuk Intervensi Pasar
Pahala menegaskan Danantara tidak memiliki mandat khusus untuk menstabilkan pasar keuangan.
Menurutnya, investasi lembaga tersebut harus dipandang sebagai upaya memperdalam pasar keuangan dan memperbaiki tata kelola. Aktivitas itu bukan merupakan bentuk intervensi pasar.
Danantara ingin memastikan keputusan investasinya tidak menimbulkan persepsi bahwa pemerintah sedang mengintervensi pergerakan harga saham.
Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia.
Dengan demikian, peluang Danantara membeli saham ketika pasar melemah tetap bergantung pada valuasi dan kelayakan investasi. Keputusan tersebut bukan semata-mata ditujukan untuk menopang indeks saham.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.