IHSG Rebound, Asing Masih Jual Rp2,44 Triliun: Ada Ruang ke 6.297?

Sejumlah sinyal rebound mulai terlihat setelah indeks menunjukkan pemulihan di akhir pekan lalu, meski pergerakannya masih dibayangi berbagai sentimen global dan domestik.

Selama pekan perdagangan 5–9 Oktober 2026 lalu Indeks Harga Saham Gabunganmenguat 0,94 persen atau 56,87 poin ke level 6.093,76 dari 6.036,89 pada pekan sebelumnya dan sepanjang pekan IHSG bergerak pada rentang 5.995–6.216.

Pada pekan tersebut kapitalisasi pasar BEI meningkat 0,69 persen menjadi Rp10.701 triliun dari Rp10.627 triliun. Namun, investor asing masih mencatatkan net foreign sell sekitar Rp2,44 triliun.

Saham yang paling banyak dibeli asing adalah ULTJ sebesar Rp111,5 miliar diikuti MEDC Rp48,5 miliar dan EMAS Rp42,1 miliar.

Sementara itu, saham yang paling banyak dijual asing adalah GOTO sebesar Rp663,2 miliar, BBCA Rp293,5 miliar, dan BMRI Rp235,6 miliar.

Dari sisi aktivitas perdagangan, rata-rata volume transaksi harian turun 7,62 persen menjadi 46,53 miliar saham dan frekuensi transaksi melemah 0,27 persen menjadi 1,67 juta kali.

Sebaliknya, rata-rata nilai transaksi harian meningkat 28,52 persen menjadi Rp16,23 triliun dan pada Jumat, 9 Oktober 2026 IHSG ditutup menguat 1,04 persen ke level 6.093,76 setelah sempat menyentuh level terendah 5.995,82 pada sesi perdagangan.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, menegaskan ada sejumlah sentimen dari global dan domestik memengaruhi pergerakan saham dalam sepekan terakhir.

“Pergerakan pasar global sepanjang pekan 5–9 Oktober 2026 diwarnai volatilitas saham teknologi, tingginya imbal hasil obligasi AS, dan risiko geopolitik,” dalam risetnya Senin, 12 Oktober 2026.

Ia menjelaskan Wall Street sempat bergerak bervariasi seiring tekanan pada saham teknologi akibat kekhawatiran terhadap prospek pendapatan OpenAI serta kenaikan yield US Treasury yang meningkatkan tekanan terhadap valuasi saham.

Di pasar obligasi, yield US Treasury 10Y tetap berada di level tinggi, meskipun sempat terkoreksi setelah lelang obligasi AS mendapat respons permintaan yang kuat.

“Sentimen membaik pada Jumat, ketika Dow Jones naik 0,83 persen, S&P 500 menguat 0,59 persen, dan Nasdaq naik 0,64 persen, didukung pemulihan saham teknologi dan meredanya tekanan pasar obligasi,” kata dia.

Selanjutnya dari sisi komoditas, harga minyak bergerak volatil akibat perubahan ekspektasi pasokan dan meningkatnya risiko geopolitik. WTI sempat turun ke USD 88,28/barel pada Rabu 

7 Oktober 2026 sebelum kembali naik tajam +3,64 persen ke level USD91.49/barel pada Kamis.

Ia menjelaskan penguatan dipicu meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, kekhawatiran terhadap potensi tindakan militer AS terhadap Iran, serta ancaman Badai Isaias terhadap produksi minyak di Teluk Meksiko.

“Pada Jumat 9 Oktober WTI kembali naik tipis 0,19 persen ke USD91,66/barel seiring gangguan produksi akibat badai yang mengimbangi tekanan dari perkembangan diplomatik AS – Iran.

Di sisi lain, emas menguat 1,47 persen ke USD4.193,9/troy ounce pada 9 Oktober, didukung pelemahan dolar AS dan permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar,” katanya.

Sementara itu, harga batu bara Newcastle terkoreksi ke USD 148,85/ton pada penutupan 9 Oktober setelah sempat menyentuh USD152/ton, level tertinggi dalam 23 bulan.

Permintaan listrik India dan China serta keterbatasan pasokan domestik China menjadi faktor pendukung harga, meskipun pemulihan produksi China berpotensi membatasi kenaikan lebih lanjut.

Dari sisi domestik, risiko eksternal masih menjadi perhatian seiring proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia menjadi 1,5 persen PDB pada 2026 akibat meningkatnya impor energi.

Kombinasi kebutuhan impor energi dan tingginya yield obligasi AS berpotensi meningkatkan sensitivitas rupiah serta arus dana asing terhadap perubahan sentimen global.

Di dalam negeri, Indeks Keyakinan Konsumen September 2026 tercatat sebesar 118,1 dan masih berada di zona optimistis.

Namun, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini melemah dari 109,4 menjadi 107,5, mengindikasikan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini mengalami moderasi.

“Perkembangan tersebut perlu dicermati bersama pergerakan arus dana asing dan volatilitas IHSG, tanpa mengasumsikan adanya hubungan sebab-akibat langsung,” terangnya.

Di sisi lain, sejumlah faktor masih menjadi penyangga stabilitas domestik, termasuk cadangan devisa sebesar USD146,3 miliar atau setara 5,3 bulan impor, status Indonesia yang dipertahankan FTSE Russell sebagai Secondary Emerging Market, serta defisit APBN hingga September 2026 yang dilaporkan sebesar 1,24 persen PDB dengan keseimbangan primer surplus.

Pemerintah juga berupaya menjaga disiplin fiskal melalui pengendalian belanja. Di pasar saham, IHSG rebound 1,04 persen pada Jumat, 9 Oktober meskipun tekanan jual asing masih terlihat di pasar reguler.

Selain itu, Danantara menyatakan terbuka untuk menambah investasi ketika valuasi saham dinilai menarik.

Dengan portofolio saham dan obligasi sekitar USD 3 miliar dan rencana tambahan investasi USD 1 miliar hingga akhir 2026, pendekatan berbasis valuasi dan due diligence berpotensi mendukung permintaan saham domestik.

Namun, efektivitasnya terhadap arus dana pasar secara keseluruhan tetap bergantung pada realisasi investasi dan kondisi likuiditas.

Prediksi IHSG dan Rekomendasi IPOT

Secara teknikal IHSG menguat 1,04 persen ke level 6.093,76 pada Jumat pekan lalu dan ditutup di atas MA3. Indeks juga berhasil bertahan di atas level psikologis 6.000.

Pada timeframe mingguan, IHSG menguat 0,94 persen dengan dukungan volume pembelian, tetapi belum menembus MA20 sehingga pemulihan tren jangka menengah belum terkonfirmasi.

Dari sisi momentum, histogram negatif MACD yang terus menyempit mengindikasikan tekanan jual mulai mereda. Namun, potensi death cross pada Stochastic RSI di area pivot menunjukkan bahwa penguatan jangka pendek masih berisiko tertahan.

“Dalam skenario bullish, IHSG berpeluang melanjutkan rebound menuju area penutupan gap di 6.227–6.231.

Namun, apabila gagal mempertahankan momentum dan menembus ke bawah 5.973, risiko koreksi lanjutan menuju 5.850–5.911 perlu diwaspadai,” prediksinya untuk sepekan kedepan 12-16 Oktober 2026.

Ia menambahkan untuk jangka pendek, area 6.008–6.025 menjadi zona koreksi yang perlu dicermati, dengan support terdekat di 6.018.

“Kami memperkirakan IHSG bergerak konsolidatif pada kisaran 6.000–6.215 pada pekan depan.

Penembusan resistance rentang tersebut berpotensi membuka ruang penguatan menuju 6.297, sedangkan pelemahan di bawah support 5.973 akan meningkatkan risiko koreksi lanjutan,” katanya.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.