Langkah pemerintah dalam mengoptimalkan rantai pasok kelapa bertujuan untuk memperkuat hilirisasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Upaya tersebut menjadi sorotan dalam perhelatan World Coconut Day2026 di Manado, Sulawesi Utara yang mempertemukan 700 peserta dari 21 negara anggota International Coconut Community
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan menyatakan, pengelolaan perkebunan kelapa di Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar, terutama minimnya perawatan tanaman, pemupukan, dan peremajaan benih.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia dalam meningkatkan produktivitas dan mengoptimalkan nilai tambah dari komoditas kelapa.
“Selama ini kelapa itu seperti ‘Tuhan yang tanam, Tuhan yang petik’.
Tanaman dibiarkan tumbuh sendiri lalu saat berbuah tinggal dipetik tanpa ada perawatan, pemupukan, atau peremajaan benih yang terencana,” ujar Zulkifli dalam keterangannya, dikutip Minggu, 11 Oktober 2026.
Lebih lanjut, persoalan di sektor hulu ini menjadi perhatian pemerintah lantatan besarnya peran petani rakyat dalam produksi kelapa nasional.
Dalam hal ini, para petani kelapa memiliki berbagai kendala seperti keterbatasan modal, akses teknologi, dan pengolahan pascapanen.
Berbagai kendala tersebut turut memengaruhi kemampuan petani dalam memperoleh nilai tambah dari kelapa.
Bicara nilai tambah, kelapa dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, mulai dari air kelapa, sabut, tempurung, hingga Virgin Coconut Oildan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel
Pemerintah kini mendorong penguatan rantai pasok dari perkebunan hingga industri pengolahan dan pasar ekspor.
Upaya ini diarahkan agar pengembangan hilirisasi dapat meningkatkan nilai jual produk serta memperluas manfaat ekonomi bagi petani sebagai pemasok bahan baku.
Untuk mengurai masalah rantai pasok tersebut, pemerintah mendorong kemitraan terintegrasi antara Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, serta Badan Pengelola Dana Perkebunandan daerah, khususnya Provinsi Sulawesi Utara
Oleh sebab itu, WCD 2026 diadakan sebagai forum internasional yang membahas kebijakan pengembangan industri kelapa, pertukaran teknologi, dan perluasan kerja sama antarnegara.
Sejumlah negara, termasuk Belgia, Jepang, Sri Lanka, Thailand, India, dan Filipina terlibat dalam agenda penguatan sektor kelapa.
WCD 2026 juga dihadiri Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus, dan Direktur Jenderal ICC Jelfina C. Alouw.
Terkait pengembangan sektor hulu, pemerintah menyoroti kebutuhan peremajaan tanaman dan penggunaan benih unggul untuk meningkatkan produktivitas kebun.
Pendampingan budidaya dan penerapan teknologi pertanian juga menjadi bagian dari upaya memperbaiki pengelolaan perkebunan rakyat.
Selain itu, upaya penguatan sektor kelapa juga mencakup kelembagaan petani melalui koperasi.
Langkah ini dinilai dapat menjadi jalur untuk memperpendek rantai distribusi dan memperluas akses ke pasar.
Kemudian, integrasi petani dengan industri pengolahan dan pembeli internasional juga berkaitan dengan pemenuhan standar keberlanjutan serta ketertelusuran produk.
Cara lainnya, pengembangan teknologi pascapanen menjadi bagian lain dari agenda hilirisasi kelapa lewat pengolahan sabut, tempurung, dan bagian kelapa lainnya.
Langkah tersebut bertujuan memperluas ragam produk sekaligus mengurangi limbah kelapa di sentra produksi.
Sinergi pemerintah pusat dan beberapa pihak lewat beberapa langkah tersebut diharapkan mampu mendukung pengembangan ekosistem kelapa nasional dari hulu hingga hilir.
Posisi Indonesia di Industri Kelapa Global
Diketahui, Indonesia merupakan salah satu pendiri ICC dan tercatat sebagai produsen kelapa terbesar kedua di dunia.
Posisi tersebut menjadi modal bagi Indonesia untuk memperluas kerja sama internasional, meningkatkan daya saing produk olahan, dan memperkuat peran petani dalam rantai nilai global.
Direktur Jenderal ICC Jelfina C. Alouw menyatakan, pengembangan industri kelapa perlu melibatkan petani kecil sebagai bagian utama ekosistem komoditas tersebut.
“Kelapa bukan sekadar tanaman komoditas komersial, melainkan Tree of Life yang menopang ketahanan pangan, energi, dan penghidupan jutaan keluarga di negara-negara berkembang.
Melalui WCD 2026, kami mempertemukan inovator industri dengan kelompok tani untuk membangun kemitraan yang adil dan inklusif,” sebut Jelfina.
Jelfina sendiri, menjadi pemimpin pertama ICC asal Indonesia sejak organisasi tersebut didirikan pada 1969 di bawah naungan Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik
WCD 2026 yang berlangsung pada 7 hingga 10 Oktober ini, menggelar berbagai kegiatan yakni agenda diskusi internasional, pameran produk olahan kelapa, lokakarya peningkatan kapasitas, serta pertemuan bisnis antara produsen lokal dan pembeli internasional.
WCD 2026 juga memberikan pelatihan kultur jaringan untuk penggandaan bibit unggul, pembuatan nata de coco dan es krim berbahan kelapa bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengahlokal, serta kunjungan teknis ke fasilitas pengolahan kelapa terpadu PT Kether Bio Coco di Minahasa Utara.
Selain mendorong pengembangan industri, penyelenggara WCD 2026 tutut memperkenalkan potensi pariwisata Sulut, termasuk Danau Linau dan Tuur Ma’asering di Tomohon.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.