Bank Mandiri Biayai Refinancing Utang Jababeka Senilai USD185 JutaAsing Gencar Jual Saham KIJA Sepekan, Dana Miliaran Rupiah Keluar
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa definisi dan cakupan penghitungan kapasitas data center perlu diperhatikan.
Tetapi satu hal tampak jelas, industri ini sedang bergerak cepat dan pemerintah melihat ruang ekspansinya masih sangat besar.
Kementerian ESDM bahkan menghitung kebutuhan listrik untuk data center Indonesia dapat mencapai sekitar 32 GW pada 2032.
Dalam proyeksi yang sama, ESDM memperkirakan potensi investasi sektor data center mencapai USD15 miliar hingga USD20 miliar dalam tiga sampai lima tahun mendatang.
Saat ini terdapat lebih dari 60 calon investor dengan sekitar 40 proyek data center yang berada dalam pipeline pemantauan pemerintah.
Artinya, persoalan Indonesia beberapa tahun ke depan bukan lagi sekadar mencari investor. Pemerintah harus memastikan sistem kelistrikan mampu mengejar pertumbuhan industri yang konsumsi energinya bisa melonjak berkali-kali lipat.
ESDM mencatat pertumbuhan kebutuhan sektor data center meningkat lebih dari lima kali lipat hanya dalam lima tahun.
Karena itu, pemerintah mulai mendorong penguatan sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali sekaligus membuka peluang pengembangan data center di luar Jawa, termasuk Batam dan Kepulauan Riau serta sejumlah wilayah yang memiliki akses terhadap kabel laut internasional.
Di level kawasan, perlombaan tersebut juga bukan milik Indonesia seorang diri. ASEAN Investment Report 2025 mencatat kawasan ASEAN telah memiliki sekitar 390 data center pada 2024, meningkat dari 295 pada 2020.
Dari sisi kapasitas, kemampuan data center ASEAN melonjak dari sekitar 800 MW pada 2019 menjadi 1.700 MW pada 2023.
Peta persaingan itu bahkan menunjukkan posisi Indonesia mulai menarik perhatian lebih serius.
ASEAN Guide for Sustainable Data Centre Development mencatat wilayah Greater Jakarta memiliki pipeline data center lebih dari 1 GW, menjadikannya hub data center terbesar di kawasan di luar Singapura.
Namun, Indonesia masih harus berhadapan dengan Malaysia, terutama Johor, yang memiliki lebih dari 5 GW proyek data center dalam berbagai tahap pengembangan.
Data Bank Dunia yang menggunakan sumber Cushman & Wakefield juga memperlihatkan besarnya pipeline Indonesia.
Pada paruh pertama 2025, kapasitas data center Indonesia tercatat sekitar 1.170 MW jika kapasitas yang sudah beroperasi, sedang dibangun, dan masih direncanakan digabungkan.
Dari jumlah tersebut, 333 MW sudah beroperasi, 123 MW dalam pembangunan, dan 714 MW masih berada dalam tahap perencanaan.
Angka terakhir ini menjelaskan satu hal yang sering luput dari cerita tentang ledakan investasi data center. Kapasitas yang direncanakan tidak otomatis berarti listrik sudah mengalir dan server sudah menyala.
Sebagian besar kapasitas Indonesia masih berupa proyek yang harus melewati tahap konstruksi, penyediaan energi, konektivitas, hingga kesiapan operasional.
Karena itu, tantangan Indonesia berikutnya bukan cuma membuktikan bahwa investor tertarik. Tantangannya adalah mengubah pipeline menjadi kapasitas yang benar-benar beroperasi.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.