Suahasil menyebut, pihaknya kini tengah menghitung berbagai data yang diperlukan dalam laporan APBN KiTa periode tersebut.
“APBN KiTa saya usahakan sekaligus ini mengasih instruksi kepada semua, segera difinalkan dan kemudian kita segera menyampaikan kepada media APBN akhir September ini segera.
Kalau bisa sebelum tanggal 11,” ujarnya di kantor Kementerian Keuangan, Kamis, 1 Oktober 2026.
“Oh next week, nah udah dijanjikan next week. Sabar sampai next week kita finalkan angkanya, nanti kami sampaikan ke media,” lanjut Suahasil.
Meski APBN KiTa disebut belum final, Menkeu sudah menginformasikan beberapa capaian keuangan negara. Suahasil menyatakan, Purchasing Managers’ Indexmanufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansif.
“Hari ini ada beberapa angka yang keluar yang cukup membesarkan hati. Pertama adalah PMI, angka PMI kita akhir September tercatat menjadi 52 dan ini berarti kembali ke zona ekspansif,” sebut Suahasil.
Sementara hingga akhir Agustus lalu, PMI manufaktur Indonesia tercatat di level 49,8 atau berada di zona kontraksi. Sebelumnya pada Juli 2026, PMI manufaktur nasional berada pada level 50,2.
Capaian PMI manufaktur pada September 2026 tersebut, dianggap sebagai perbaikan ekonomi oleh Suahasil. “Setelah bulan sebelumnya itu di 49, jadi ini tanda perekonomian kita bergerak,” katanya.
Lebih lanjut, Bendahara Negara tersebut juga mengumumkan tingkat inflasi Indonesia sampai akhir September 2026 di posisi 3,28 persen. Menurutnya, inflasi tersebut juga menunjukkan kondisi ekonomi yang tetap bergerak dan masih terjaga.
Sementara pada Agustus lalu, tingkat inflasi secara tahunan menurut data Badan Pusat Statistikmencapai 3,19 persen atau 0,21 persen secara bulanan.
“Inflasi juga keluar angka yang cukup baik, 3,28 persen yang berarti bahwa gerak ekonomi terjadi.
3,28 persen itu ada di dalam range 2,5 persen plus minus 1, jadi perekonomiannya terjaga, inflasi terjaga, malah inflasinya ini kita harapkan nanti memberikan sinyal kepada dunia usaha untuk melanjutkan proses produksi,” jelasnya.
Suahasil menyampaikan, skor PMI manufaktur beserta inflasi tersebut diharapkan sesuai dengan target pertumbuhan ekonomi. Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 6 persen.
Sementara pada Semester I 2026, pertumbuhan ekonomi domestik tercatat sebesar 5,45 persen dan 5,29 persen pada Triwulan II tahun ini.
“Bersama-sama dengan PMI melanjutkan proses produksi, memproduksi barang dan jasa yang lebih banyak, menumbuhkan ekonomi,” ucap Suahasil.
Selain itu, Suahasil juga menginformasikan bahwa trade balance atau neraca perdagangan nasional hingga akhir September 2026 membukukan raihan positif dengan surplus USD3,5 miliar.
“Kita juga lihat statistik lain yaitu trade balance yang juga positif di 3,5 billion USD. Jadi ini juga angka yang baik, kembali ke teritori positif,” pungkasnya.
Sebagai informasi, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari sampai Agustus 2026 mencatat surplus kumulatif sebesar USD7,5 miliar. Khusus Agustus tahun ini, secara bulanan angkanya sebesar USD3,55 miliar.
Neraca Perdagangan Semester I 2026 Surplus USD3,58 Miliar
Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia sepanjang paruh pertama tahun 2026 menunjukkan ketahanan yang solid. Neraca perdagangan nasional pada semester I 2026 secara kumulatif masih membukukan surplus sebesar USD3,58 miliar.
Surplus tersebut berhasil dicatatkan berkat sokongan sektor nonmigas yang membukukan surplus sebesar USD19,35 miliar, kendati sektor migas mengalami defisit senilai USD15,77 miliar.
Secara khusus pada Juni 2026, surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat sebesar USD3,04 miliar.
Angka surplus ini menjadi pilar utama penopang neraca perdagangan yang mampu meredam tekanan defisit sektor migas yang berada di angka USD3,49 miliar.
Walaupun neraca perdagangan pada bulan Juni 2026 secara keseluruhan mencatatkan defisit tipis USD450 juta, eskalasi ekspor nonmigas terbukti efektif mempersempit celah defisit tersebut.
Menteri PerdaganganBudi Santoso menekankan bahwa performa sektor nonmigas yang tetap tangguh menjadi fondasi esensial bagi ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global.
Penguatan ini terefleksikan pula pada total ekspor Indonesia pada Juni 2026 yang bangkit dengan pertumbuhan positif sebesar 9,72 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya.
“Penguatan ekspor nonmigas menjadi bukti tetap terjaganya daya saing produk Indonesia.
Pemerintah akan terus memperluas akses pasar, memperkuat promosi dagang, serta mengoptimalkan berbagai perjanjian perdagangan agar kinerja ekspor terus meningkat,” ujar Busan, sapaan akrab Budi Santoso dikutip, Jumat, 7 Agustus 2026.
Nilai ekspor Indonesia pada Juni 2026 menyentuh angka USD25,46 miliar. Perolehan ini bertambah 9,72 persen secara bulanan atau month-to-monthserta tumbuh 8,84 persen secara tahunan atau year-on-yearjika disandingkan dengan Juni 2025.
Laju positif ini didorong oleh sektor nonmigas yang menyumbang USD24,39 miliar, atau mengalami kenaikan 8,68 persendan menanjak 9,46 persen
Secara kumulatif sepanjang Semester I 2026, total nilai ekspor Indonesia telah mencapai USD140,81 miliar, atau menguat 4,13 persen dibanding periode yang sama tahun lalu cum-to-cum
Dari jumlah tersebut, kontribusi ekspor nonmigas menyumbang USD134,58 miliar dengan pertumbuhan sebesar 4,90 persen
Sektor industri pengolahan kembali mengukuhkan dominasinya sebagai motor penggerak utama ekspor nasional pada paruh pertama 2026 dengan porsi sumbangsih mencapai 82,02 persen.
Posisi berikutnya disusul oleh sektor pertambangan dan lainnya sebesar 11,71 persen, sektor migas menyumbang 4,43 persen, serta sektor pertanian yang berkontribusi 1,84 persen dari total keseluruhan ekspor Indonesia.
Menariknya, industri pengolahan tercatat sebagai satu-satunya sektor yang mendulang pertumbuhan positif pada semester I 2026, di mana nilai ekspornya menanjak 7,37 persendari USD107,57 miliar menjadi USD115,50 miliar.
Sebaliknya, tiga sektor lain mengalami koreksi.
Sektor pertanian mendapati kontraksi terdalam hingga 22,55 persenmenjadi USD2,59 miliar, sektor migas menyusut 10,11 persenmenjadi USD6,23 miliar, serta sektor pertambangan dan lainnya terkoreksi 5,12 persenmenjadi USD16,49 miliar.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.