Jumlah tersebut tetap sama meski PT Swayasa Prakarsa Tbkmenunda pelaksanaan penawaran umum perdana saham atau initial public offering
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin mengatakan, hingga 4 September 2026 terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. Dari jumlah tersebut, sektor healthcare mendominasi dengan tiga perusahaan.
“Sehingga saat ini terdapat 7 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” kata Saidu dalam keterangan tertulis pada Ahad, 6 September 2026.
Selain healthcare, pipeline tersebut terdiri dari 2 perusahaan sektor energy serta masing-masing 1 perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals dan industrials.
Berdasarkan klasifikasi aset yang mengacu pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017, pipeline pencatatan saham tersebut terdiri dari 2 perusahaan dengan aset skala kecil, 2 perusahaan aset skala menengah, dan 3 perusahaan aset skala besar.
Adapun perusahaan dengan aset skala kecil memiliki aset di bawah Rp50 miliar, skala menengah memiliki aset Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, sedangkan skala besar memiliki aset di atas Rp250 miliar.
Sepanjang 2026 hingga 4 September, BEI telah mencatat 7 perusahaan baru dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp2,16 triliun.
SWAP Tunda IPO
Bursa Efek Indonesiatelah menerima surat resmi dari perseroan terkait permohonan penundaan pelaksanaan rencana penawaran umum tersebut.
Direktur Penilaian BEI, Saidu Solihin, mengatakan surat permohonan penundaan IPO Swayasa Prakarsa diterima bursa pada 1 September 2026.
“Bursa telah menerima Surat Permohonan Penundaan Pelaksanaan Rencana Penawaran Umum Perdana Saham dari PT Swayasa Prakarsa Tbk tanggal 1 September 2026,” kata Saidu dalam pesan tertulis, Rabu, 2 September 2026.
Menurut Saidu, penundaan tersebut bukan disebabkan oleh kondisi pasar saham, melainkan karena perseroan belum memperoleh Pernyataan Efektif dari Otoritas Jasa Keuanganhingga batas waktu yang ditentukan.
“PT Swayasa Prakarsa Tbk belum memperoleh Pernyataan Efektif dari Otoritas Jasa Keuangan untuk melaksanakan penawaran umum,” ujarnya.
Saidu menjelaskan, terdapat faktor administratif yang berkaitan dengan masa berlaku laporan keuangan yang digunakan perseroan dalam proses IPO.
“Perseroan menggunakan Laporan Keuangan per 28 Februari 2026 pada proses penawaran umum sehingga masa berlaku Laporan Keuangan tersebut hanya sampai 31 Agustus 2026,” kata Saidu.
Hal itu membuat rencana penawaran umum yang sebelumnya dijadwalkan mulai 2 September 2026 belum dapat dilaksanakan sesuai jadwal awal.
Diketahui, Swayasa Prakarsa telah memasuki tahapan penawaran awal atau bookbuilding melalui sistem e-IPO pada 24–27 Agustus 2026.
Berdasarkan prospektus perseroan, SWAP menawarkan sebanyak-banyaknya 323 juta saham baru dari portepel. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 30,30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Saham yang ditawarkan memiliki nilai nominal Rp20 per saham dengan rentang harga penawaran awal Rp130-Rp140 per saham. Dengan harga maksimal Rp140 per saham, perseroan menargetkan perolehan dana IPO hingga sekitar Rp45,22 miliar.
Dalam jadwal awal, Swayasa Prakarsa memperkirakan memperoleh Pernyataan Efektif dari OJK pada 31 Agustus 2026. Setelah itu, penawaran umum dijadwalkan berlangsung pada 2–8 September 2026.
Selanjutnya, penjatahan saham dijadwalkan pada 8 September 2026, distribusi saham dan pengembalian uang pemesanan pada 9 September 2026, sedangkan pencatatan saham di BEI semula ditargetkan pada 10 September 2026.
Namun, hingga 1 September 2026, perseroan belum memperoleh Pernyataan Efektif dari OJK. Kondisi tersebut membuat jadwal penawaran umum yang telah disusun sebelumnya harus ditunda.
Pipeline EBUS
Selain pencatatan saham, BEI juga mencatat aktivitas penerbitan efek bersifat utang dan sukuk
Hingga 4 September 2026, telah diterbitkan 126 emisi EBUS dari 62 penerbit dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp118,06 triliun.
Sementara itu, terdapat 13 emisi dari 9 penerbit yang masih berada dalam pipeline EBUS.
Berdasarkan sektor, pipeline EBUS terdiri dari 3 perusahaan sektor energy, 3 financials, 2 infrastructures, dan 1 basic materials.
Rights Issue
Untuk aksi korporasi rights issue, BEI mencatat 15 perusahaan tercatat telah menerbitkan rights issue hingga 4 September 2026 dengan total nilai Rp15,85 triliun.
Selain itu, masih terdapat 1 perusahaan tercatat dalam pipeline rights issue BEI. Perusahaan tersebut berasal dari sektor properties & real estate.
Dengan demikian, hingga 4 September 2026, pipeline pencatatan saham BEI masih berjumlah 7 perusahaan, dengan healthcare menjadi sektor yang memiliki jumlah perusahaan terbanyak.
Sementara itu, pipeline EBUS mencapai 13 emisi dari 9 penerbit dan pipeline rights issue terdiri dari 1 perusahaan.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.