Secara tahunan, tingkat inflasi IHK merangkak naik ke posisi 3,28 persen dari realisasi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,19 persen.
Meskipun terus dibayangi tekanan harga pangan bergejolak dan kenaikan biaya pendidikan, realisasi inflasi ini dinilai masih berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan otoritas moneter sebesar 2,5 plus minus 1 persen.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa pencapaian ini tecermin dari koordinasi kebijakan yang kuat di tingkat pusat dan daerah.
Terjaganya laju inflasi nasional merupakan buah dari konsistensi kebijakan moneter BI yang terukur serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.
Langkah terpadu ini menjadi kunci utama dalam mengamankan pasokan kebutuhan pokok masyarakat.
“Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasarannya ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah dalam TPIP dan TPID.
Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam siaran pers dikutip, Minggu, 4 Oktober 2026.
Laju inflasi bulanan September 2026 sebesar 0,30 persen tercatat sedikit terakselerasi dibandingkan dengan inflasi Agustus 2026 yang sebesar 0,21 persenKenaikan tipis laju inflasi secara bulanan ini utamanya dipengaruhi oleh pergeseran pola konsumsi serta dinamika pasokan pangan di tingkat daerah.
Guna menjaga stabilitas harga, sinergi kebijakan moneter dan fiskal terus diperkuat secara berkesinambungan. BI memastikan bakal terus mengawal pergerakan harga komoditas utama agar tidak melampaui batas toleransi inflasi nasional.
Langkah antisipasi juga disiapkan untuk menghadapi berbagai risiko gejolak eksternal yang berpotensi memengaruhi laju inflasi domestik.
Kenaikan Harga Pangan Bergejolak Tekan Komponen Inflasi
Meskipun inflasi umum masih berada dalam rentang target, kelompok harga bergejolakmencatatkan lonjakan yang cukup signifikan.
Pada September 2026, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 1,46 persen, melompat tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,88 persen
Secara tahunan, inflasi komponen pangan bergejolak melesat hingga 5,03 persen, meningkat tajam dari posisi Agustus 2026 sebesar 4,06 persen
Ramdan menjelaskan bahwa tekanan pada komponen bahan pangan bergejolak terutama dipicu oleh dinamika cuaca di wilayah sentra produksi.
Komoditas cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras menjadi penyumbang terbesar inflasi komponen ini.
Kenaikan harga terjadi seiring penurunan hasil panen di beberapa daerah akibat gangguan cuaca ekstrem serta lonjakan biaya input produksi di tingkat petani.
“Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap terkendali, didukung oleh sinergi erat pengendalian inflasi Bank Indonesia bersama TPIP dan TPID melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera.
Langkah ini secara khusus disiapkan untuk mengantisipasi dampak gangguan cuaca ekstrem seperti El Nino terhadap harga bahan pangan,” kata Ramdan.
Di sisi lain, komponen inflasi intimencatatkan pergerakan yang relatif melandai dan terkendali. Inflasi inti pada September 2026 tercatat sebesar 0,10 persen, lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang mencapai 0,21 persen
Terjaganya komponen inti ini dipengaruhi oleh konsistensi ekspektasi inflasi masyarakat di tengah gejolak harga komoditas global, dengan andil utama disumbang oleh biaya kuliah perguruan tinggi.
“Secara tahunan, inflasi inti pada September 2026 tercatat sebesar 2,84 persen, lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,92 persen.
Perkembangan inflasi inti secara tahunan ini antara lain banyak disumbang oleh komoditas emas perhiasan sejalan dengan kenaikan harga emas dunia,” tutur Ramdan.
Melandainya inflasi inti tahunan September ke level 2,84 persen sekaligus membalikkan arah tren Agustus 2026 yang sempat naik ke posisi 2,92 persendari Juli 2026 sebesar 2,76 persenPada Agustus, inflasi inti terdorong oleh lonjakan harga emas perhiasan seiring reli kenaikan harga emas global.
Pengendalian ekspektasi inflasi oleh Bank Indonesia terbukti efektif dalam menjaga stabilitas komponen harga inti dari dampak krisis eksternal.
Sementara itu, kelompok harga yang diatur pemerintahpada September 2026 mencatatkan inflasi rendah mendekati 0 persenAngka ini sedikit berbalik dari realisasi Agustus 2026 yang mencatatkan deflasi sebesar 0,33 persenakibat penurunan tarif angkutan udara serta penyesuaian harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Turbo.
Secara tahunan, inflasi administered prices September 2026 melandai ke 3,25 persendari Agustus sebesar 3,32 persen, dan BI optimistis sinergi lintas lembaga mampu menjaga daya beli masyarakat tetap aman hingga akhir tahun.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.