Bukan Cuma soal Listrik Murah, ini yang Diburu Investor Data Center

Harga tanah dan tarif listrik tak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan investor, karena kepastian pasokan, kualitas daya, kapasitas, hingga kemampuan meningkatkan suplai menjadi faktor yang semakin menentukan.

Koordinator Harga Tenaga Listrik Kementerian Energi dan Sumber Daya MineralOlga Arfiandani mengatakan kebutuhan listrik data center tidak sekadar soal ketersediaan energi.

Investor membutuhkan sistem kelistrikan yang mampu menjamin operasional pusat data secara berkelanjutan.

“Menurut kami, data center tidak hanya membutuhkan energi yang cukup, tetapi juga memerlukan kapasitas, kualitas daya, skalabilitas, dan kepastian atau dapat diprediksi,” ujar Olga dalam keterangannya di forum Kepastian Kebijakan, Permodalan, dan Regulasi untuk Mewujudkan ASEAN yang Kompetitif, dikutip Jumat, 25 September 2026.

Menurut Olga, perubahan kebutuhan tersebut turut menggeser faktor persaingan antarnegara dalam menarik investasi pusat data. Ke depan, harga tanah dan tarif listrik bukan lagi menjadi satu-satunya faktor yang menentukan keputusan investor.

“Di tahun-tahun mendatang, persaingan antarnegara untuk menarik investasi di pusat data dan kendaraan listrik tidak lagi ditentukan harga tanah atau tarif listrik, melainkan keunggulan kompetitif yang dapat menyediakan daya yang andal, dapat ditingkatkan, karbon rendah, dan koneksi yang cepat,” kata Olga.

Kebutuhan listrik untuk sektor data center sendiri terus melonjak seiring ekspansi ekonomi digital.

Direktur Pembinaan Ketenagalistrikan Strategis, Ditjen Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna mengatakan pemerintah memproyeksikan kebutuhan listrik data center di Indonesia dapat mencapai sekitar 32 Gigawattpada 2032.

“Pertumbuhan kebutuhan sektor data center meningkat lebih dari lima kali lipat hanya dalam lima tahun,” ujar Feby pada Data Center Power Forum.

Lonjakan kebutuhan listrik tersebut sekaligus membuka ruang investasi yang besar. Feby menyebut potensi investasi sektor data center dalam tiga hingga lima tahun mendatang diperkirakan mencapai USD15-20 miliar.

Saat ini, kata dia, terdapat lebih dari 60 calon investor dengan sekitar 40 proyek data center yang masuk dalam pemantauan pipeline.

Pemerintah pun mulai menyiapkan infrastruktur kelistrikan untuk mengantisipasi pertumbuhan tersebut.

Selain memperkuat sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali, Kementerian ESDM mendorong diversifikasi pembangunan data center ke wilayah di luar Jawa.

Batam dan Kepulauan Riau menjadi sejumlah wilayah yang didorong karena memiliki akses terhadap sistem kabel laut internasional. Pemerintah juga melihat Semarang, Batang, hingga Manado sebagai lokasi potensial untuk pengembangan data center.

Dorongan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan investor data center tidak berhenti pada tersedianya pembangkit.

Infrastruktur transmisi, kapasitas sistem, konektivitas dan kemampuan memasok listrik secara konsisten menjadi bagian penting dalam menentukan daya saing Indonesia.

Potensi Listrik Raksasa Jadi Modal Jualan

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya turut menawarkan potensi listrik berskala besar sebagai salah satu modal Indonesia untuk menarik investasi data center.

Saat membuka Electricity Connect 2026 in Partnership with Enlit Asia di ICE BSD, Bahlil menyebut potensi pembangkit listrik tenaga airdi Sungai Mamberamo, Papua, mencapai sekitar 23 GW.

Sementara Sungai Kayan di Kalimantan memiliki potensi sekitar 12 GW.

“Di beberapa negara sekarang kebutuhan terhadap energi sudah mulai ngos-ngosan, apalagi energi baru terbarukan. Data center, wah, ini banyak sekali.

Bapak-Ibu semua, tidak perlu ragu para investor kalau membangun data center di Indonesia,” ujar Bahlil.

Menurut Bahlil, Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan energi terbarukan. Potensi tersebut berasal dari matahari, air, panas bumi hingga angin yang tersebar di berbagai wilayah.

Namun, tantangannya adalah mengubah potensi energi tersebut menjadi listrik yang dapat digunakan oleh industri. Karena itu, pemerintah mulai menawarkan lokasi dengan potensi pembangkit besar sebagai bagian dari daya tarik investasi.

“Ada yang membangun di Kalimantan, ada yang membangun di Sumatera. Kalau ada yang mau air, PLTA di Papua, Sungai Mamberamo itu potensinya 23 gigawatt.

Kalau di Kalimantan, di Kayan, kurang lebih sekitar 12 gigawatt. Banyak sekali,” katanya.

Bahlil mengatakan kebutuhan energi bersih menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan industri data center. Hal itu sejalan dengan komitmen pemerintah mengejar target net zero emission pada 2050 hingga 2060.

“Ini bukan hanya tema, langsung dibuat program konkret,” tegas Bahlil.

Salah satu program tersebut tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga ListrikPLN 2025-2034.

Pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW dalam periode tersebut, dengan sekitar 70 persen berasal dari energi baru terbarukan.

RUPTL tersebut juga mencakup pengembangan sistem penyimpanan energi, seperti baterai dan pumped storage, serta pembangunan jaringan transmisi baru sepanjang 48.000 kilometer untuk mendukung interkoneksi antarpulau atau Super Grid.

Listrik Bersih dan Andal Jadi Kunci

Di sisi lain, Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM, Ahmad Amiruddin menegaskan pemerintah tetap mendorong percepatan transisi energi di tengah meningkatnya kebutuhan listrik nasional.

“Indonesia tetap berkomitmen penuh untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan dan mencapai target emisi nol bersihpada tahun 2060 atau lebih cepat,” tegas Ahmad dalam forum yang sama.

Ahmad menekankan bahwa transisi energi tidak hanya mengejar penurunan emisi. Sistem kelistrikan juga harus mampu menyediakan energi yang dapat diandalkan, terjangkau dan bisa diakses masyarakat secara luas.

“Transisi energi harus Andal, terjangkau, inklusif, dan berkelanjutan,” jelas Ahmad.

Hingga Juli 2026, kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional telah mencapai sekitar 109 GW. Dari jumlah tersebut, sekitar 16,3 GW atau 15 persen berasal dari energi baru terbarukan.

Sementara itu, produksi listrik nasional mencapai 296,5 TWh. Pembangkit berbahan bakar batu bara masih menjadi sumber utama dengan porsi 62 persen.

Kebutuhan data center yang terus meningkat membuat pengembangan kapasitas pembangkit harus berjalan beriringan dengan penguatan jaringan.

Sebab, bagi industri yang mengandalkan server selama 24 jam, pasokan listrik tidak hanya harus tersedia, tetapi juga stabil dan mampu mengikuti pertumbuhan kebutuhan.

Dengan proyeksi kebutuhan listrik data center mencapai 32 GW pada 2032 dan potensi investasi hingga USD20 miliar dalam tiga sampai lima tahun mendatang, kemampuan menyediakan listrik yang andal, berkualitas, dapat ditingkatkan, rendah karbon dan terhubung cepat menjadi bagian penting dari persaingan Indonesia dalam merebut investasi digital.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.