Bukan Lagi Daerah Tambang, Maluku Utara Kini Jadi Basis Industri Nikel

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyebut industri pengolahan kini menyumbang hampir separuh Produk Domestik Regional Brutoprovinsi tersebut.

Perubahan struktur perekonomian daerah ini membuktikan keberhasilan kebijakan penghentian ekspor bijih mentah yang didorong pemerintah sejak beberapa tahun lalu.

Rosan menegaskan bahwa Maluku Utara saat ini telah menjelma menjadi salah satu pusat manufaktur pengolahan nikel terbesar di kawasan timur Indonesia.

“Industri pengolahan di Maluku Utara ini menyumbang hampir separuh PDB Maluku Utara.

Provinsi ini tidak lagi sekadar daerah tambang, tapi telah menjadi daerah industri,” kata Rosan dalam pemaparannya saat Groundbreaking dan Komersialisasi 11 Ekosistem Hilirisasi Nikel serta Ekspor Perdana Baterai Kendaraan Listrik Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada Kamis, 8 Oktober 2026.

Pergeseran basis ekonomi ke sektor pengolahan berdampak langsung pada perbaikan neraca perdagangan wilayah lokal.

Aktivitas manufaktur berbasis mineral tersebut mencatatkan nilai surplus perdagangan yang melonjak signifikan bagi Maluku Utara.

“Surplus perdagangannya juga meningkat tajam mencapai Rp31,1 triliun pada tahun 2025,” ungkap Rosan.

Komoditas ekspor asal Maluku Utara kini tidak lagi berupa tanah tambang mentah, melainkan produk-produk turunan dengan nilai tambah tinggi.

Berbagai jenis produk olahan nikel dan mineral pendamping menguasai porsi pengiriman ekspor dari pelabuhan-pelabuhan di provinsi tersebut.

“Ekspor ini didominasi produk olahan nikel, feronikel, nikel matte, MSP (Mixed Sulphide Precipitate), nikel sulfat, dan juga kobalt, Bapak Presiden,” tuturnya.

Lompatan pertumbuhan ekonomi daerah ini juga dibarengi dengan besarnya kontribusi perusahaan pengelola kawasan terhadap masyarakat sekitar.

Program Corporate Social Responsibilitymengucurkan dana ratusan miliar rupiah untuk memberdayakan desa-desa di wilayah operasional tambang.

“Program CSR mereka menjangkau 32 desa di lingkar industri dan tambang yang telah terjangkau melalui program pemberdayaan masyarakat, dan mereka sudah melakukan spending lebih dari Rp600 miliar,” tambah Rosan.

Sinergi antara kegiatan pengolahan industri dan pemberdayaan masyarakat dinilai menjadi kunci utama keberlanjutan investasi daerah.

Pemerintah optimistis Maluku Utara akan terus memperkuat posisinya sebagai tulang punggung manufaktur bahan baku energi hijau dunia.

“Tentunya seperti yang Bapak sampaikan, hilirisasi ini ujungnya adalah industrialisasi.

Kehadiran kawasan industri ini tidak hanya mengubah struktur PDB daerah, tetapi juga mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi secara konkret di luar Jawa,” pungkasnya.

Dari Nikel hingga Recycling, Ekosistem Baterai EV RI Mulai Lengkap

Ekosistem baterai kendaraan listrikIndonesia terus berkembang seiring percepatan hilirisasi nikel dan pembangunan industri dari hulu hingga hilir.

Rantai pasok yang sebelumnya banyak bertumpu pada pengolahan bahan mentah kini mulai mencakup material baterai, komponen pendukung, produksi sel baterai hingga fasilitas daur ulang.

Pengembangan ekosistem tersebut terutama berpusat di kawasan industri berbasis nikel, seperti Indonesia Weda Bay Industrial Parkdi Halmahera Tengah, Maluku Utara, dan Indonesia Morowali Industrial Parkdi Sulawesi Tengah.

Kedua kawasan tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan industri baterai karena terhubung langsung dengan pengolahan mineral yang menjadi bahan baku utama baterai.

Pemerintah juga baru-baru ini mendorong sejumlah proyek baru melalui pembangunan fasilitas material baterai dan komponen pendukung, sekaligus melakukan ekspor perdana baterai kendaraan listrik.

Di sisi manufaktur sel baterai, Indonesia telah memiliki PT HLI Green Power di Karawang, Jawa Barat.

Perusahaan tersebut merupakan hasil kerja sama Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution dengan kapasitas produksi mencapai 10 GWh per tahun.

Selain itu, terdapat PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Batterydi Karawang yang dikembangkan melalui kerja sama PT Industri Baterai Indonesiadengan konsorsium CATL.

Kehadiran kedua fasilitas tersebut memperkuat kapasitas Indonesia dalam memproduksi sel baterai di dalam negeri.

Rantai pasok juga diperluas melalui pembangunan industri material dan komponen baterai. PT Guang Ching Nickel Cobalt mengembangkan material berbasis nikel, sementara PT Inno Prima Material mengembangkan separator baterai.

Di sisi lain, PT Tinci Materials Indonesia bergerak pada pengembangan material elektrolit baterai.

Keberadaan industri tersebut penting karena baterai kendaraan listrik tidak hanya membutuhkan sel, tetapi juga berbagai material dan komponen pendukung.

Dengan semakin banyak tahapan produksi yang dilakukan di dalam negeri, rantai pasok industri EV menjadi lebih terintegrasi.

PT Industri Baterai Indonesiamenjadi salah satu pihak yang berperan dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik nasional. Perusahaan tersebut mengoordinasikan pengembangan rantai pasok baterai dari hulu hingga hilir.

Tahap berikutnya adalah memperkuat industri daur ulang baterai.

Fasilitas recycling diperlukan untuk mengolah kembali material dari baterai yang sudah tidak digunakan sehingga rantai pasok tidak berhenti pada produksi dan penggunaan kendaraan listrik.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi nikel Indonesia mulai bergerak menuju industri yang lebih terintegrasi.

Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh fasilitas dapat beroperasi secara optimal, memenuhi standar industri global, serta mampu membangun pasar ekspor yang berkelanjutan.

Dengan pertambangan, pengolahan nikel, manufaktur material, produksi sel baterai, komponen pendukung hingga daur ulang yang terus dikembangkan, Indonesia sedang membangun rantai pasok baterai EV yang semakin lengkap di dalam negeri.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.