Sentimen negatif ini dipicu oleh laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak usulan gencatan senjata bersyarat yang diajukan oleh Iran.
Dilansir CNBC, indeks Nikkei 225 Jepang diproyeksikan bergerak melemah.
Kontrak berjangka Nikkei di Chicago berada di level 66.275, sementara kontrak berjangka di Osaka terakhir diperdagangkan pada posisi 66.470, jika dibandingkan dengan posisi penutupan indeks sebelumnya di level 66.364,20.
Pergerakan serupa terlihat pada kontrak berjangka Indeks Hang Seng Hong Kong yang berada di level 24.501, dibandingkan dengan posisi penutupan terakhir indeks di angka 24.510,09.
Sebaliknya, kontrak berjangka Indeks S&P/ASX 200 Australia terakhir diperdagangkan di level 8.720, memimpin dibandingkan posisi penutupan indeks sebelumnya pada level 8.665.
Berdasarkan data penutupan bursa sebelumnya, Indeks S&P/ASX 200 Australia berada di level 8.665,00, Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup pada level 24.510,09, dan Indeks KOSPI Korea Selatan berada di posisi 7.080,92.
Selanjutnya, Indeks Nikkei 225 Jepang berada di angka 66.364,20, Indeks NIFTY 50 India di level 23.140,50, serta Indeks Shanghai Composite bertahan di posisi 3.888,37.
Donald Trump dilaporkan menolak proposal bersyarat Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Menurut laporan The Wall Street Journal pada Sabtu dengan mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, Trump menyampaikan kepada para penasihatnya bahwa ia berharap dapat melanjutkan pemboman terhadap negara tersebut setelah pemilihan umum selausai November mendatang.
Meskipun demikian, Trump dilaporkan menyampaikan kepada Axios pada Minggu bahwa dirinya memperkirakan pembicaraan dan negosiasi dengan pihak Iran bakal kembali berlanjut pada pekan ini.
Dampak ketegangan geopolitik tersebut membuat harga minyak mentah berjangka AS melonjak lebih dari 1 persen pada perdagangan Senin selama jam bursa Asia, sebagaimana dilaporkan oleh Justina Lee.
Di tengah pembukaan bursa Asia yang dibayangi ketegangan геоpolitik dan proyeksi lonjakan imbal hasil obligasi, para pelaku pasar di kawasan regional juga mencermati dampaknya terhadap arus modal keluardi bursa berkembang, di mana fluktuasi harga komoditas energi serta ketidakpastian suku bunga The Fed berpotensi menekan nilai tukar mata uang lokal dan memicu aksi wait and see investor menjelang rilis data inflasi PCE serta tenaga kerja AS pekan ini.
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan kecerdasan buatankini menghadapi peningkatan risiko bisnis seiring melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah ASDengan imbal hasil Treasury yang memanjat ke level tertinggi sejak 2007 pada pekan ini, perusahaan-perusahaan yang bergantung pada utang berpotensi menghadapi kenaikan biaya pinjaman
Kondisi tersebut menandakan bahwa pembangunan infrastruktur AI yang telah mencapai rekor historis diperkirakan bakal menelan biaya yang jauh lebih mahal dari sebelumnya.
JPMorgan Chase pada Juni lalu memperkirakan bahwa penerbitan utang terkait AI akan mencapai USD4,1 triliun hingga tahun 2030.
Lonjakan penarikan utang ini terjadi karena perusahaan data center dan entitas lain yang terikat dalam lonjakan kecerdasan buatan berlomba membangun kapasitas untuk memenuhi permintaan layanan AI yang dinilai sangat tinggi oleh para pakar industri.
Ketika para peminjam kembali ke pasar modal, mereka kini dihadapkan pada imbal hasil Treasury 10-tahun yang berada di dekat kisaran 5,17 persen, atau naik sekitar 1 poin persentase sejak awal tahun.
Hal ini memaksa perusahaan penerbit utang untuk menawarkan tingkat pengembalianyang lebih menarik guna memikat investor.
Kendati terdapat tekanan biaya pinjaman, para pelaku pasar menilai kondisi pasar saat ini belum memasuki mode panik, sebagaimana dilaporkan oleh Kif Leswing, Isabel O’Brien, dan Seema Mody.
Sementara itu, investor institusi mulai mengambil alih kendali di pasar saham dari tangan investor ritel. Setelah bertahun-tahun mencatatkan tren aksi beli dalam jumlah besar, para pedagang ritel tampaknya mulai bergerak ke pinggir lapangan
Data terbaru dari Vanda Research menunjukkan bahwa para investor besar atau institusi tetap bertahan memegang saham di tengah gejolak lonjakan imbal hasil Treasury.
Strategis Pasar Global Vanda Research, Viraj Patel, memberikan pandangannya terkait ketahanan investor institusi tersebut.
“Investor institusional secara mengejutkan terbukti sangat tangguh melewati volatilitas makro pekan ini,” tulis Viraj Patel kepada para kliennya sebagaimana dirangkum oleh Alex Harring.
Adapun pada pembukaan perdagangan awal, kontrak berjangka saham AS secara resmi dibuka melemah.
Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average terkoreksi 106 poin atau 0,2 persen, yang diikuti penurunan 0,2 persen pada kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq-100 sebagaimana dilaporkan oleh Fred Imbert.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.