Bursa Asia Kompak Menghijau di Tengah Perang AS-Iran Terbaru

Obligasi DKI Rp5,6 Triliun Dinilai Tersandera Kalkulasi Politik 2029Demutualisasi BEI Makin Dekat, Danantara Siap Jadi Pemegang Saham

Masalahnya, minyak mahal bisa merembet ke ongkos produksi, transportasi, harga barang, lalu inflasi.

Setelah itu, bank sentral mendapat pekerjaan rumah yang biasanya tidak pernah murah, memilih antara menjaga pertumbuhan ekonomi atau kembali menginjak rem moneter.

Pasar Amerika Serikat mulai memasukkan risiko tersebut ke dalam perhitungan.

Menurut data CME FedWatch yang dikutip Reuters, probabilitas Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September melonjak menjadi sekitar 67 persen, dari hanya 37 persen sepekan sebelumnya.

Kenaikan ekspektasi tersebut terjadi ketika harga minyak bertahan di atas USD90 per barel dan konflik Amerika Serikat-Iran kembali menimbulkan kekhawatiran mengenai pasokan energi.

Dengan kata lain, pasar saham boleh tersenyum, tetapi pasar obligasi dan pelaku pasar suku bunga mulai memasang wajah lebih serius.

Imbal hasil Treasury Amerika Serikat tenor 10 tahun juga masih berada di sekitar 4,77 persen pada Kamis.

Sehari sebelumnya, yield tersebut sempat berada di sekitar 4,79 persen setelah tekanan terhadap pasar obligasi meningkat akibat kekhawatiran inflasi, perang, dan membengkaknya utang pemerintah Amerika Serikat.

Di Indonesia, situasinya punya lapisan persoalan sendiri. Inflasi nasional pada Juli masih berada di 2,88 persen secara tahunan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik.

Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi Bank Indonesia yang ditetapkan sebesar 2,5 persen dengan koridor plus minus 1 persen.

Namun, data terbaru menunjukkan ruang nyaman tersebut mulai menyempit. Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 meningkat menjadi 3,19 persen secara tahunan dari 2,88 persen pada Juli.

Angka itu memang masih berada dalam koridor sasaran, tetapi sudah lebih dekat dengan batas atas target Bank Indonesia.

Artinya, ketika harga minyak kembali bertahan di sekitar USD95 per barel, Indonesia tidak bisa hanya melihat pergerakan IHSG sebagai satu-satunya indikator.

Kenaikan biaya energi dapat menjadi tekanan tambahan terhadap inflasi, terutama apabila harga minyak tinggi berlangsung cukup lama dan kemudian masuk ke biaya transportasi maupun produksi.

Pasar saham domestik memang sempat menunjukkan daya tahan. Otoritas Jasa Keuangan mencatat investor asing kembali membukukan pembelian bersih saham Indonesia sebesar Rp1,62 triliun pada Juli 2026.

Posisi tersebut berbalik dari tekanan jual asing pada bulan sebelumnya. Pada periode yang sama, IHSG ditutup di level 6.236,13 atau menguat 10,5 persen dibandingkan akhir Juni.

Tetapi data tersebut merupakan kondisi Juli, sebelum eskalasi terbaru Amerika Serikat-Iran dan lonjakan minyak pada awal September.

Karena itu, penguatan IHSG pada awal September belum cukup untuk membuktikan bahwa investor asing menganggap risiko geopolitik tersebut sudah selesai.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.