DEN Akui Indonesia Kalah dari Filipina dan Vietnam soal PLTS

APINDO Usul Dua Persen APBN Dialokasikan ke Vokasi untuk Atasi Kesenjangan Skill Pekerja dan IndustriPemerintah tak Perlu Parno, Obligasi Daerah bisa Jadi Jurus Baru Biayai Pembangunan

RUPTL yang sama juga menempatkan penyimpanan energi sebagai bagian penting dari ekspansi EBT. PLN menargetkan tambahan sistem penyimpanan sebesar 10,3 GW, terdiri atas 6 GW pumped storage dan 4,3 GW Battery Energy Storage System atau BESS.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pemerintah dan PLN mulai memperlakukan persoalan intermitensi sebagai bagian dari desain sistem, bukan sekadar hambatan teknis yang muncul setelah PLTS dibangun.

Bagi PLTS, baterai bekerja dengan prinsip yang relatif sederhana. Ketika produksi listrik surya tinggi, sebagian energi dapat disimpan.

Ketika produksi PLTS turun, energi yang tersimpan dapat dilepaskan kembali ke jaringan. Dengan mekanisme tersebut, perubahan produksi listrik akibat kondisi cuaca dapat diredam.

Rencana tersebut juga mulai diterjemahkan dalam proyek. Dalam dokumen perusahaan PLN, disebutkan bahwa PLN telah menjalankan proyek percontohan BESS, termasuk sistem penyimpanan 5 MW bersama Indonesia Battery Corporation.

PLN juga mencatat proyek pembangkit angin 70 MW yang dipadukan dengan BESS 10 MWh di Tanah Laut, Kalimantan Selatan, serta proyek PLTS dan BESS sekitar 18 MW di Nusa Penida, Bali.

PLN Nusantara Power juga mencatat proyek Green Flagship yang menggabungkan PLTS sebesar 58,296 MWp dengan BESS berkapasitas 64,419 MWh di 48 lokasi.

Proyek tersebut tersebar di Kalimantan, Sumatra, Jawa dan Madura dengan target operasi komersial pada 2025.

Namun, skala proyek-proyek tersebut masih harus dilihat dalam konteks kebutuhan sistem nasional. Target BESS sebesar 4,3 GW dalam RUPTL jauh lebih besar daripada proyek percontohan yang selama ini berjalan.

Artinya, pembangunan storage harus bergerak dari tahap demonstrasi teknologi menuju penggunaan secara lebih luas di sistem kelistrikan.

International Energy Agencymencatat Indonesia memiliki rencana untuk mengembangkan hingga 6 GW BESS utilitas mandiri dan 3,6 GW PLTS yang dipadukan langsung dengan penyimpanan pada 2035.

Angka tersebut merupakan bagian dari pembahasan IEA bersama pemangku kepentingan Indonesia mengenai pembiayaan dan pengembangan penyimpanan energi.

Kebutuhan storage juga berkaitan dengan karakter geografis Indonesia. Sistem kelistrikan nasional tidak berdiri sebagai satu jaringan tunggal yang sepenuhnya terintegrasi.

Banyak sistem kelistrikan berada di wilayah kepulauan dan daerah terpencil, sehingga kemampuan menyimpan listrik dapat menjadi penting terutama ketika pembangkit surya dan angin digunakan untuk menggantikan pembangkit berbahan bakar diesel.

IEEFA bahkan mencatat pemerintah tengah mendorong program PLTS dan BESS hingga 100 GW, dengan tahap awal sekitar 13 GW yang diarahkan untuk menggantikan pembangkit diesel.

Program tersebut menunjukkan bahwa storage tidak hanya diposisikan sebagai pendamping PLTS skala besar, tetapi juga sebagai instrumen untuk meningkatkan ketahanan pasokan listrik di wilayah yang selama ini bergantung pada pembangkit diesel.

Di sisi lain, tantangan Indonesia bukan berarti tidak ada peluang untuk mengejar. RUPTL terbaru justru memberikan ruang ekspansi yang jauh lebih besar bagi energi surya.

Dari total tambahan pembangkit EBT dan storage sebesar 52,9 GW, PLTS mendapatkan porsi 17,1 GW. Masalahnya adalah kecepatan eksekusi.

Vietnam telah lebih dahulu membangun basis PLTS dalam skala puluhan gigawatt. Sementara itu, Indonesia baru mulai memasuki fase pembangunan PLTS yang lebih agresif.

Bahkan pada 25 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto meresmikan 14 proyek PLTS dengan total kapasitas 5,3 GW. Pemerintah juga memasang target penambahan 100 GW kapasitas surya baru hingga 2029.

Jika target tersebut benar-benar terealisasi, struktur pembangkitan listrik Indonesia akan berubah secara signifikan.

Tetapi skala pembangunan tersebut sekaligus membuat kebutuhan jaringan, transmisi, storage dan fleksibilitas pembangkit menjadi semakin besar.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.