Diesel Global Mencekam, Seberapa Besar Dampaknya ke Indonesia?

Namun, kondisi tersebut belum berkembang menjadi krisis solar yang dirasakan secara luas oleh masyarakat.

Pengamat komoditas, pasar modal dan Founder Traderindo, Wahyu Laksono, mengatakan dampak kenaikan harga dan mengetatnya pasokan diesel global sudah mulai terasa di Indonesia, terutama pada sektor industri.

Meski demikian, menurut dia, kondisi saat ini belum dapat disebut sebagai krisis solar nasional.

Menurut Wahyu, kondisi pasar diesel global saat ini dipengaruhi guncangan pasokan yang terjadi secara beruntun atau compounding supply shock.

Gangguan tersebut berasal dari sejumlah pusat produksi dan perdagangan diesel dunia, termasuk Rusia, Timur Tengah, serta kebijakan ekspor China dan India.

Tekanan tersebut semakin besar karena Amerika Serikat menjadi salah satu pemasok penting diesel ke pasar internasional. Data yang dikutip Reuters menunjukkan ekspor diesel AS mencapai rekor sekitar 1,6 juta barel per hari pada Agustus 2026.

Reuters juga melaporkan harga diesel ritel AS telah mencapai rekor sekitar USD6,51 per galon di tengah rendahnya persediaan dan gangguan pasokan global.

Kondisi tersebut menjadi semakin sensitif setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungan terhadap gagasan pembatasan ekspor diesel untuk menekan harga di dalam negeri. Namun, pemerintah AS belum memutuskan larangan ekspor penuh.

Energy Secretary Chris Wright sebelumnya menyatakan pembatasan ekspor secara menyeluruh berpotensi menimbulkan persoalan baru.

Hingga 28 September, Gedung Putih masih mempertimbangkan sejumlah opsi, termasuk perluasan penggunaan red-dyed diesel dan kemungkinan pembatasan ekspor secara sukarela melalui perusahaan penyulingan.

Bagi pasar global, persoalan tersebut penting karena AS memasok porsi besar kebutuhan diesel lintas negara.

Reuters mencatat ekspor diesel AS telah meningkat lebih dari 20 persen dibandingkan 2025 menjadi sekitar 1,3 juta barel per hari dalam periode yang dilaporkan, ketika gangguan kilang di Timur Tengah dan Rusia membuat kapasitas pasokan global semakin terbatas.

Wahyu mengatakan, kombinasi gangguan pasokan fisik, ketidakpastian geopolitik, gangguan jalur pelayaran dan kepanikan pasar membuat harga diesel bergerak tajam.

Menurut dia, pembeli global bersedia membayar premi lebih tinggi untuk mengamankan kargo karena khawatir pasokan semakin sulit diperoleh.

Tekanan tersebut relevan bagi Indonesia karena pasar BBM domestik memiliki keterkaitan dengan harga produk minyak regional.

Kementerian ESDM sebelumnya menjelaskan pemerintah menggunakan Mean of Platts Singaporesebagai salah satu acuan harga BBM karena Singapura merupakan pasar terdekat yang dapat digunakan sebagai border price.

Artinya, meskipun Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada impor produk diesel, kenaikan harga produk minyak di kawasan tetap dapat memberikan tekanan terhadap biaya pengadaan dan harga BBM, terutama produk nonsubsidi.

Wahyu menilai, tekanan paling cepat dirasakan sektor industri yang menggunakan diesel dalam jumlah besar.

Pertambangan, manufaktur, perkebunan, logistik dan transportasi menjadi sektor yang menurut dia perlu mencermati perkembangan tersebut.

Pada sektor pertambangan, misalnya, diesel digunakan untuk operasional alat berat dan kendaraan pengangkut. Kenaikan biaya bahan bakar dapat meningkatkan biaya operasional apabila tidak dapat sepenuhnya diteruskan kepada pelanggan.

Hal serupa berlaku pada sektor logistik dan transportasi. Kenaikan biaya bahan bakar dapat meningkatkan biaya pengangkutan barang dan pada tahap berikutnya berpotensi diteruskan melalui kenaikan tarif atau fuel surcharge.

Namun, tekanan tersebut belum otomatis berarti masyarakat akan langsung menghadapi kenaikan harga Solar subsidi di SPBU.

Apakah Krisis Diesel Global Sudah Berdampak ke Indonesia?

Menurut Wahyu, pemerintah masih memiliki ruang untuk menjadi bantalan terhadap gejolak harga BBM melalui kebijakan subsidi dan kompensasi.

Karena itu, dampak awal lebih mungkin terlihat pada pelaku usaha yang menggunakan BBM nonsubsidi dan pada struktur biaya perusahaan.

Di sisi lain, Indonesia saat ini memiliki instrumen yang membuat ketergantungan terhadap impor solar lebih rendah dibandingkan sebelumnya, yakni implementasi mandatori biodiesel B50.

Kementerian ESDM menyebut B50 merupakan salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah menargetkan melalui B50 Indonesia tidak lagi mengimpor produk solar.

Dari konsumsi solar nasional sekitar 38 juta-40 juta kiloliter per tahun, sebelumnya terdapat kebutuhan impor sekitar 3 juta-4 juta kiloliter.

Pemerintah juga memperkirakan implementasi B50 dapat mengurangi impor solar hingga sekitar 18 juta kiloliter pada 2026 atau setara sekitar 310 ribu barel per hari, sekaligus meningkatkan penghematan devisa hingga Rp170 triliun.

B50 juga telah diuji untuk sektor dengan konsumsi diesel tinggi, termasuk pertambangan.

ESDM mencatat pengujian alat berat dengan B50 menunjukkan performa yang stabil, meskipun terdapat peningkatan konsumsi bahan bakar dalam pengujian tertentu.

Wahyu menilai keberadaan B50 menjadi salah satu faktor defensif yang membantu Indonesia menghadapi ketatnya pasar diesel global.

Namun, menurut dia, program tersebut tidak berarti Indonesia sepenuhnya kebal terhadap kenaikan harga energi dunia.

Pasalnya, tekanan global tetap dapat memengaruhi biaya produksi, nilai tukar, harga bahan baku dan biaya logistik.

Karena itu, menurut Wahyu, kondisi saat ini masih perlu menjadi peringatan bagi pemerintah.

Ia menilai pasar belum berada dalam kondisi krisis solar, tetapi tekanan yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko bagi industri dan perekonomian apabila tidak diantisipasi.

Tekanan tersebut juga berpotensi berlangsung lebih lama. Wahyu memperkirakan pasar diesel global masih dapat berada dalam kondisi ketat hingga 2027.

Perkiraan tersebut sejalan dengan perkembangan pasar global.

Reuters melaporkan analis industri memperkirakan kekurangan diesel global dapat berlanjut hingga 2027, sementara persediaan diesel AS berada pada level terendah untuk periode September sejak 1982.

Dengan demikian, persoalan utama bagi Indonesia saat ini bukan semata-mata apakah masyarakat akan segera mengalami kelangkaan solar, tetapi seberapa lama industri dapat menanggung tekanan biaya energi apabila kondisi pasar global tetap ketat.

Bagi pasar modal, perkembangan tersebut menjadi penting karena dampaknya dapat masuk melalui biaya operasional perusahaan.

Emiten dengan konsumsi diesel tinggi berpotensi menghadapi tekanan margin apabila kenaikan biaya bahan bakar tidak dapat sepenuhnya diteruskan kepada pelanggan.

Sebaliknya, kemampuan perusahaan melakukan pass-through, efisiensi bahan bakar, penggunaan B50, serta struktur kontrak dengan pelanggan akan menentukan seberapa besar dampak kenaikan diesel global terhadap kinerja masing-masing emiten.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan harga diesel global, kebijakan ekspor AS, perkembangan pasokan Timur Tengah dan Rusia, serta efektivitas implementasi B50 menjadi sejumlah indikator yang perlu diperhatikan dalam beberapa bulan ke depan.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.