Ditekan Panasnya Geopolitik Global, Cek Proyeksi Harga Emas Dunia Pekan Depan

Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global yang terus berkembang.

Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mencatat harga emas dunia ditutup di level USD4.454 per troy ons pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Ia memprediksi jika emas dunia mengalami koreksi pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026, harga komoditas ini berpotensi menyentuh level USD4.381 per troy ons.

Jika tekanan jual berlanjut sepanjang pekan depan, posisi emas dunia diperkirakan berada di kisaran harga USD4.262 per troy ons.

Sebaliknya, kata Ibrahim, jika emas dunia berhasil berbalik menguat, batas resistance pertama diprediksi menyentuh angka USD4.553 per troy ons.

“Kemudian resistance kedua di level USD4.682 per troy ons. Adapun emas dunia dalam pekan depan diproyeksikan ditransaksikan USD4262 per troy ons,” ujar dia dalam keterangannya, Minggu, 30 Agustus 2026.

Di pasar domestik, Ibrahim mencatat harga logam mulia ditutup pada level Rp2.711.000 per gram pada perdagangan Sabtu, 29 Agustus 2026.

Apabila terjadi koreksi pada perdagangan pekan depan, ia memperkirakan harga logam mulia diprediksi bergerak turun menuju kisaran Rp2.688.000 per gram.

“Apabila terkoreksi kembali, logam mulia di level Rp2.600.000 rupiah per gram,” kata dia.

Kemudian untuk area resistance pertama pekan depan, Ibrahim memprediksi logam mulia berpotensi menyentuh level Rp2.731.000 per gram.

“Kalau seandainya menguat lagi  dalam sepekan logam mulia berpotensi menembus Rp2.810.000 per gram,” kata dia.

Ibrahim mengatakan gejolak fluktuasi pada komoditas emas utamanya dipicu oleh dua isu geopolitik utama. Isu pertama berasal dari kawasan Amerika Latin, menyangkut dinamika politik dan penguasaan minyak di Venezuela oleh Amerika Serikat.

Menurut dia, kondisi tersebut memicu spekulasi bahwa Venezuela berpotensi keluar dari keanggotaan OPEC, yang berisiko menimbulkan oversupply atau kelebihan pasokan minyak di pasar global.

Isu geopolitik kedua melibatkan perselisihan antara Iran dan AS terkait klaim kendali atas Selat Hormuz. Menurut Ibrahim, pihak AS menyatakan bahwa armada lautnya telah melakukan pemblokiran di jalur perairan strategis tersebut.

“Di sisi lain, pemerintah Teheran mengklaim bahwa kendali penuh atas jalur perairan vital Selat Hormuz tetap berada di bawah kekuasaan Iran,” pungkas Ibrahim.

HPE dan HR Emas Naik di Periode II Agustus 2026, Kemendag Beberkan Pemicunya

Kementerian Perdagangantelah menetapkan Harga Patokan Ekspordan Harga Referensiuntuk komoditas emas pada periode II Agustus 2026.

HPE emas ditetapkan sebesar USD131.777,67 per kilogram atau naik 0,65 persen dari periode I Agustus 2026 yang sebesar USD130.921,50 per kilogram.

Kemudian, HR emas juga naik menjadi USD 4.098,75 per troy ouncedari USD 4.072,12 per t oz.

Ketentuan HPE dan HR emas ditetapkan dalam “Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1716 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar”.

Kepmendag tersebut berlaku untuk periode 15–31 Agustus 2026.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana mengatakan naiknya HPE dan HR emas dipengaruhi penurunan suku bunga acuan global yang menyebabkan potensi keuntungan dari instrumen seperti deposito menjadi kurang optimal.

“Hal ini mendorong investor untuk memindahkan  likuiditasnya ke komoditas emas untuk melindungi nilai aset,” ujar dia dalam keterangannya, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Menurut Tommy, kondisi peralihan investasi tersebut berdampak langsung pada meningkatnya permintaan emas di  pasar global.

Dengan pasokan emas yang cukup terbatas, situasi ini memicu kenaikan harga emas di pasar internasional.

Selain itu, melemahnya nilai tukar mata uang utama global serta menurunnya tingkat imbal hasil obligasi di pasar internasional turut menjadi faktor yang mendorong peningkatan HPE dan HR emas periode II Agustus 2026.

Tommy juga menyampaikan, nilai emas tercatat naik 0,65 persen selama periode pengumpulan data.

Sebagai informasi, HPE dan HR emas ditetapkan berdasarkan data dan masukan teknis dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineralyang mengacu pada publikasi London Bullion Market Association

“Penetapan dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga berdasarkan informasi, data, dan masukan yang disampaikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Perindustrian,” pungkas Tommy.

Rekor Emas USD5.594 Mulai Menjauh 

Sebelumnya diberitakan, peneliti Komoditas Asia dari Reuters, Clyde Russell, melihat sejarah harga emas menunjukkan bahwa reli besar biasanya diikuti periode penurunan yang cukup signifikan.

Meski begitu, sebagian besar kenaikan sebelumnya pada akhirnya tetap bertahan.

“Sejarah harga selama dua dekade terakhir menunjukkan bahwa reli yang kuat, seperti reli dari September 2022 hingga Januari 2026 ketika emas naik 245 persen, biasanya diikuti oleh penurunan yang cukup besar, meskipun sebagian besar kenaikan tersebut tetap terkonsolidasi,” tulis Russell dalam analisisnya yang dikutip dari Reuters, Ahad, 23 Agustus 2026.

Pola tersebut terlihat jelas dalam beberapa episode sebelumnya. Dari titik terendah USD697,45 per ons atau sekitar Rp12,48 juta pada Oktober 2008, emas melesat hingga rekor USD1.884,40 atau sekitar Rp33,73 juta pada September 2011. Kenaikan tersebut mencapai 170 persen.

Setelah itu, pesta emas tidak berlangsung selamanya. Harga kemudian turun 37 persen dan mencapai USD1.191,35 per ons atau sekitar Rp21,33 juta pada Agustus 2018.

Dari titik rendah tersebut, emas kembali menanjak. Harga melonjak 74 persen hingga mencapai USD2.072,49 per ons atau sekitar Rp37,10 juta pada Agustus 2020.

Namun, reli itu kembali disusul koreksi 22 persen hingga harga menyentuh USD1.620,20 atau sekitar Rp29 juta pada September 2022. Pola tersebut memberikan satu pelajaran sederhana, meski tentu tidak bisa dianggap sebagai rumus pasti.

Semakin besar kenaikan harga, semakin besar pula potensi penurunan setelahnya. Masalah lainnya, reli emas cenderung berlangsung lebih cepat dibandingkan periode penurunannya.

Setelah menyentuh titik terendah pada September 2022, emas kembali melesat. Harga kemudian mencetak rekor sepanjang masa sebesar USD5.594,82 per ons pada 29 Januari 2026 atau sekitar Rp100,15 juta per ons.

Sejak titik tersebut, harga emas telah melemah sekitar 20 persen menjadi USD4.473,89 per ons atau sekitar Rp80,08 juta pada Kamis.

Bagi investor yang baru masuk ketika harga berada di sekitar puncak, angka tersebut tentu terasa seperti pukulan.

Tetapi bagi mereka yang sudah mengikuti reli sejak 2022, koreksi 20 persen mungkin masih terlihat sebagai pengembalian sebagian keuntungan yang sangat besar.

“Berdasarkan pola reli dan penurunan sebelumnya, tampaknya masih ada kemungkinan terjadi penurunan yang lebih besar dalam beberapa bulan bahkan beberapa tahun ke depan sebelum tren kenaikan kembali berlanjut,” tulis Russell.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.