Di saat yang sama, ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga Federal Reserve hingga akhir tahun relatif tidak banyak berubah.
Indeks Dolar AS, yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,08 persen menjadi 102,17 setelah sempat menyentuh 102,46. Euro berbalik menguat 0,08 persen ke USD1,1204 setelah sebelumnya melemah hingga USD1,1171.
Pergerakan tersebut terjadi ketika pasar valuta asing menghadapi sejumlah faktor yang saling berlawanan. Di satu sisi, kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi menjaga perhatian investor terhadap kemungkinan kebijakan moneter ketat.
Di sisi lain, meredanya kenaikan yield obligasi zona euro memberikan ruang bagi euro untuk pulih dan menekan indeks dolar.
Yield obligasi pemerintah negara-negara zona euro sebelumnya kembali meningkat setelah harga minyak melonjak.
Kenaikan harga energi memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi, sementara investor terus melepas obligasi negara dengan beban utang tinggi seperti Prancis dan Italia.
Yield obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun naik 2,7 basis poin menjadi 4,8873 persen, setelah sempat mencapai 4,9685 persen.
Pergerakan tersebut menunjukkan perhatian pasar terhadap kondisi fiskal Prancis, termasuk beban utang, defisit anggaran dan prospek politik menjelang pemilihan presiden 2027.
Kondisi serupa juga terlihat di Spanyol. Serikat pekerja pada Rabu mengumumkan rencana mogok nasional pada 11 November terkait persoalan perumahan.
Aksi tersebut dijadwalkan berlangsung beberapa pekan sebelum pemilihan umum yang dipercepat.
Pelebaran selisih yield antara obligasi pemerintah Jerman dan negara-negara dengan beban utang lebih besar turut memberikan tekanan terhadap euro.
Namun, ketika kenaikan yield mereda, mata uang tunggal tersebut kembali menguat dari level terendah hariannya.
Kepala Riset SimCorp Christoph Schon mengatakan pergerakan mata uang dalam beberapa pekan terakhir masih sangat dipengaruhi dolar AS dan ekspektasi kebijakan Federal Reserve.
Namun, euro kini menghadapi faktor tambahan berupa persoalan politik di Prancis dan Spanyol.
Sinyal The Fed Masih Beragam
Dari Amerika Serikat, arah kebijakan Federal Reserve masih menjadi perhatian utama pasar. Risalah rapat terbaru menunjukkan inflasi dipandang sebagai risiko terbesar terhadap prospek ekonomi.
Meski demikian, risalah tersebut tidak memberikan perubahan besar terhadap ekspektasi pasar.
Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan diperlukan untuk membawa inflasi kembali menuju target 2 persen.
Waller juga menegaskan adanya fleksibilitas mengenai kecepatan kenaikan suku bunga dan membuka kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Data CME Group melalui FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan Oktober hanya 17,2 persen, turun dari 24,4 persen sepekan sebelumnya.
Sementara peluang kenaikan pada Desember mencapai 81,2 persen.
Goldman Sachs masih memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin pada Desember.
Presiden Federal Reserve Bank of St Louis Alberto Musalem juga menyampaikan pandangan hawkish dengan mengatakan bank sentral AS perlu kembali menaikkan suku bunga untuk membawa inflasi menuju target 2 persen.
Di sisi lain, pasar tenaga kerja Amerika masih menunjukkan ketahanan. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran mingguan turun 2.000 menjadi 197.000, sedikit di bawah perkiraan ekonom sebesar 200.000.
Kombinasi data tersebut membuat pasar menghadapi dua sinyal. Pasar tenaga kerja masih relatif stabil, sementara tekanan inflasi dan pernyataan sejumlah pejabat The Fed mempertahankan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember.
Dolar Melemah, Rupiah Masih Tertekan
Pergerakan dolar AS tersebut belum otomatis memberikan ruang penguatan bagi rupiah. Pada penutupan perdagangan Kamis, rupiah justru melemah 0,16 persen atau 28 poin ke Rp17.915 per dolar AS.
Sementara kurs referensi JISDOR Bank Indonesia berada di Rp17.890 per dolar AS.
Untuk perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp17.870 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah datang ketika harga minyak dunia melonjak. Brent ditutup naik 4,1 persen menjadi USD104,28 per barel, sedangkan WTI menguat 3,6 persen menjadi USD91,49 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi persoalan penting bagi mata uang negara berkembang karena dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor energi.
Pada saat yang sama, meningkatnya harga energi juga berpotensi menambah tekanan inflasi.
Faktor lainnya berasal dari tingginya yield US Treasury.
Kenaikan imbal hasil aset berdenominasi dolar dapat membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, terutama ketika investor masih mencermati arah kebijakan The Fed.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian. Risiko terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz meningkat ketika Iran mengeluarkan peringatan mengenai pembatasan jalur pelayaran.
Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan gangguan produksi minyak Amerika Serikat akibat badai di Teluk Meksiko.
Bank Indonesia juga tetap memiliki peran dalam menjaga stabilitas rupiah melalui instrumen pasar valuta asing, termasuk pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward
Dengan demikian, pelemahan dolar AS pada perdagangan global belum cukup untuk membalikkan tekanan terhadap rupiah.
Pergerakan rupiah pada Jumat akan dipengaruhi oleh kombinasi harga minyak, yield US Treasury, ekspektasi suku bunga The Fed, arus modal serta perkembangan geopolitik.
Di pasar global, dolar memang melemah tipis, tetapi faktor domestik dan eksternal yang memengaruhi rupiah bergerak lebih kompleks.
Harga minyak yang kembali menembus USD104 per barel menjadi salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan karena menyentuh sekaligus aspek inflasi, kebutuhan valuta asing dan persepsi risiko investor terhadap pasar negara berkembang.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.