Penguatan tersebut terjadi ketika investor mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap beban utang pemerintah Amerika Serikat.
Harga emas spot naik 0,4 persen menjadi USD4.126,78 per ons pada Jumat, 9 Oktober 2026 dini hari WIB.
Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level USD4.000-an per ons, tepatnya level terendah sejak 5 Agustus, setelah dolar AS dan imbal hasil US Treasury menguat.
Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Desember ditutup naik 0,4 persen menjadi USD4.157 per ons.
Penguatan harga emas dunia tersebut terjadi ketika dolar AS dan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun masih berada pada level tinggi untuk sesi kedua berturut-turut.
Kondisi ini biasanya menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil dan harganya menggunakan dolar AS.
Namun, emas kembali mendapat dukungan dari meningkatnya perhatian investor terhadap utang pemerintah Amerika Serikat dan ketidakpastian arah kebijakan moneter.
Analis WisdomTree Nitesh Shah mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas terhadap tingginya tingkat utang.
Jika beban utang terus meningkat, emas berpotensi semakin diminati karena dipandang sebagai aset yang berbeda karakter dengan mata uang fiat dan aset pemerintah.
Faktor kebijakan The Fed juga menjadi perhatian utama. Risalah rapat The Fed bulan lalu menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pembuat kebijakan mengenai alasan kenaikan suku bunga.
Sebagian pejabat menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga energi dan komoditas lainnya terhadap inflasi.
Sementara kelompok yang lebih hawkish melihat kenaikan suku bunga diperlukan untuk mengantisipasi inflasi yang berasal dari sisi permintaan.
Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan. Namun, dia juga membuka ruang bagi bank sentral Amerika Serikat untuk menahan suku bunga pada Oktober.
Ekspektasi pasar memperlihatkan perbedaan yang cukup jelas antara pertemuan Oktober dan Desember.
Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober berada di 17 persen, sedangkan probabilitas kenaikan pada Desember mencapai 81 persen.
Ketidakpastian tersebut membuat emas bergerak lebih volatil. Di satu sisi, prospek suku bunga tinggi menekan daya tarik emas.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap utang pemerintah dan risiko geopolitik memberikan dukungan terhadap permintaan aset tersebut.
Risiko geopolitik juga kembali menjadi perhatian setelah meningkatnya ancaman terhadap kapal tanker yang melewati Selat Hormuz. Iran mengeluarkan peringatan bahwa negara tersebut akan memblokir rute yang tidak memperoleh izin.
Perkembangan tersebut menambah ketidakpastian di pasar komoditas. Terlebih, harga minyak dunia juga melonjak akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan dan konflik di Timur Tengah.
Lalu, bagaimana dengan harga emas Antam di dalam negeri?
Pada Jumat, 9 Oktober 2026, harga emas batangan Antam tercatat Rp2.565.000 per gram. Harga tersebut menjadi acuan harga jual emas batangan Antam pada hari tersebut.
Untuk ukuran lainnya, harga emas Antam 0,5 gram berada di Rp1.332.500, sedangkan ukuran 2 gram dibanderol Rp5.070.000. Untuk ukuran 3 gram, harganya mencapai Rp7.580.000.
Sementara itu, harga buyback atau harga pembelian kembali emas Antam tercatat Rp2.366.000 per gram.
Dengan demikian, terdapat selisih Rp199.000 per gram antara harga jual emas Antam dan harga buyback.
Selisih tersebut perlu diperhatikan karena kenaikan harga emas dunia tidak berarti investor langsung memperoleh keuntungan sebesar persentase kenaikan emas spot ketika menjual kembali emas fisiknya.
Pergerakan harga emas Antam juga tidak hanya ditentukan oleh harga emas dunia.
Harga emas dalam rupiah turut dipengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, sehingga perubahan harga emas global perlu dilihat bersama dengan pergerakan kurs.
Hal tersebut penting karena emas dunia dalam data perdagangan internasional dihitung dalam dolar AS per ons, sedangkan emas Antam diperdagangkan dalam rupiah per gram.
Karena itu, perubahan harga emas global dan harga emas domestik tidak selalu bergerak dengan persentase yang sama.
Pada perdagangan Kamis, emas spot naik 0,4 persen menjadi USD4.126,78 per ons. Namun, harga emas Antam pada Jumat berada di Rp2.565.000 per gram.
Perbedaan satuan, mata uang, serta mekanisme pembentukan harga membuat kedua angka tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung sebagai kenaikan atau penurunan harian.
Di pasar logam mulia lainnya, pergerakan juga tidak seragam. Harga perak spot turun 1,9 persen menjadi USD58,98 per ons.
Platinum naik tipis 0,1 persen menjadi USD1.637,41 per ons, sedangkan paladium menguat 0,1 persen menjadi USD1.126 per ons.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa penguatan emas tidak terjadi secara merata pada seluruh kelompok logam mulia.
Untuk emas, perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada arah kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS dan imbal hasil US Treasury, perkembangan utang pemerintah Amerika Serikat, serta risiko geopolitik di Timur Tengah.
Kombinasi faktor tersebut menjadi penting karena emas saat ini berada di tengah dua kekuatan yang berlawanan.
Ekspektasi suku bunga tinggi dan imbal hasil obligasi memberikan tekanan, sementara ketidakpastian fiskal dan geopolitik menjadi faktor pendukung.
Di pasar domestik, harga emas Antam tetap perlu dilihat bersama pergerakan harga emas dunia dan nilai tukar rupiah.
Dengan harga jual Rp2.565.000 per gram dan buyback Rp2.366.000 per gram pada 9 Oktober 2026, investor emas fisik juga perlu memperhitungkan selisih harga tersebut ketika mengevaluasi pergerakan nilai investasinya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.