Dolar AS Menguat, Rupiah Diprediksi Mendekati Rp18.000

Rupiah di pasar spot melemah 0,55 persen menjadi Rp17.916 per dolar AS, sementara kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR turun 0,53 persen ke Rp17.898 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah berlangsung ketika dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama. Indeks dolar atau DXY naik 0,15 persen menjadi 101,28 setelah sempat menyentuh 101,39.

Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 29 Juli dan memperpanjang penguatan dolar menjadi empat hari perdagangan berturut-turut.

Penguatan dolar terjadi bersamaan dengan kenaikan imbal hasil US Treasury. Yield Treasury 30 tahun mencapai level tertinggi sejak Juni 2004, sedangkan yield tenor 10 tahun berada di level tertinggi dalam hampir dua dekade.

Kenaikan tersebut memperkuat daya tarik aset berbasis dolar dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Tekanan eksternal juga datang dari pasar energi. Harga minyak mentah kembali melonjak setelah serangan rudal kelompok Houthi ke Arab Saudi memunculkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.

Kenaikan harga minyak kemudian mereda setelah muncul laporan mengenai pembicaraan Amerika Serikat dan Iran terkait kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Kombinasi ini menciptakan tekanan berlapis terhadap rupiah.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor energi sekaligus meningkatkan tekanan terhadap neraca eksternal.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, mengatakan tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari kondisi eksternal, terutama harga minyak yang masih berada di atas USD100 per barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

Prediksi Analis, Rupiah Kembali Sentuh Level Rp18.000

Menurut Ibrahim, risiko tersebut juga perlu diperhatikan karena fenomena El Nino berpotensi mengganggu produksi dan pasokan pangan. Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tekanan harga domestik.

Ibrahim memperkirakan sejumlah indikator ekonomi Indonesia yang akan dirilis pada awal Oktober perlu dicermati. Neraca perdagangan yang sebelumnya mencatat surplus disebut berpotensi kembali defisit pada Agustus.

Inflasi Agustus juga diperkirakan lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, sementara PMI manufaktur September masih berpotensi berada di zona kontraksi.

Ia juga memperkirakan cadangan devisa dapat menyusut akibat intervensi di pasar non-deliverable forward atau NDF. Sementara itu, indeks keyakinan konsumen diperkirakan turun dibandingkan Agustus.

Perkembangan tersebut menjadi penting karena rupiah memasuki periode ketika tekanan eksternal masih tinggi. Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur September mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen.

Keputusan tersebut menjadi bulan ketiga berturut-turut BI mempertahankan tingkat suku bunga tersebut.

Dari sisi global, ruang kebijakan BI juga perlu mempertimbangkan pergerakan mata uang regional dan arah suku bunga Amerika Serikat.

Ketika dolar menguat dan imbal hasil aset AS meningkat, tekanan terhadap mata uang negara berkembang dapat bertambah melalui arus modal dan perubahan preferensi investor.

Ekspektasi The Fed Kembali Naik

Perhatian pasar terhadap rupiah semakin besar setelah ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve meningkat.

Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober berada di sekitar 69 persen.

Dalam laporan Reuters, probabilitas tersebut tercatat 68,6 persen, meningkat dari 55,4 persen sepekan sebelumnya.

Kenaikan ekspektasi tersebut terjadi setelah sejumlah pejabat The Fed membuka kemungkinan pengetatan tambahan apabila inflasi belum menunjukkan perlambatan yang cukup.

The Fed sebelumnya telah menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75 persen-4,00 persen. Setelah keputusan tersebut, sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat menyampaikan pandangan yang tetap menekankan risiko inflasi.

Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams dan Presiden Federal Reserve Bank of Philadelphia Anna Paulson termasuk pejabat yang membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Data ekonomi Amerika Serikat juga memberikan ruang bagi ekspektasi tersebut. Klaim awal tunjangan pengangguran turun 1.000 menjadi 197.000 pada pekan terakhir, lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom sebesar 201.000.

Data tersebut menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil.

Di sisi lain, aktivitas bisnis AS yang tetap kuat dan tekanan harga yang meningkat membuat pasar kembali memperhatikan kemungkinan inflasi bertahan lebih lama.

Kondisi itu tercermin dalam pasar obligasi.

Kenaikan yield Treasury 30 tahun ke level tertinggi sejak 2004 dan yield 10 tahun ke level tertinggi dalam hampir dua dekade menjadi salah satu indikator utama perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS.

Dolar Capai Level Tertinggi Dua Bulan

Penguatan dolar tidak hanya terjadi terhadap rupiah. Euro melemah 0,07 persen menjadi USD1,1372 setelah sempat turun ke USD1,1358, level terendah sejak 28 Juli.

Dolar juga menguat terhadap sejumlah mata uang lainnya. Terhadap krona Norwegia, dolar naik 0,33 persen menjadi 9,51, sedangkan terhadap krona Swedia menguat 0,1 persen menjadi 9,921. Dolar terhadap franc Swiss naik 0,34 persen ke 0,8280.

Yen Jepang juga melemah 0,32 persen menjadi 158,82 per dolar. Pergerakan yen masih dipengaruhi perbedaan ekspektasi kebijakan moneter antara Jepang dan Amerika Serikat.

Pergerakan mata uang tersebut memperlihatkan bahwa penguatan dolar berlangsung cukup luas. Dalam kondisi seperti itu, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga dari perubahan kondisi pasar global.

Rupiah Mengarah ke Rp18.000

Untuk perdagangan Jumat, 25 September 2026, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.910-Rp18.000 per dolar AS.

Rentang tersebut menempatkan level Rp18.000 sebagai salah satu batas psikologis yang kembali diperhatikan pasar.

Jika tekanan dolar berlanjut, pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh kombinasi arah DXY, yield Treasury, harga minyak, arus modal, serta respons Bank Indonesia terhadap volatilitas nilai tukar.

Sebaliknya, perkembangan yang dapat meredakan tekanan eksternal, terutama penurunan harga minyak atau perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed, dapat memengaruhi arah perdagangan rupiah.

Untuk saat ini, tekanan terhadap rupiah berlangsung bersamaan dengan penguatan dolar AS ke level tertinggi dua bulan, kenaikan yield Treasury, serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Di pasar energi, harga minyak yang masih tinggi menambah perhatian terhadap risiko inflasi dan kebutuhan valuta asing.

Dengan posisi rupiah di Rp17.916 per dolar AS pada perdagangan Kamis, level Rp18.000 kembali menjadi area yang diperhatikan dalam perdagangan berikutnya.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.