Dolar AS Tertekan Ekspektasi Suku Bunga, Adakah Peluang Kenaikan Rupiah?

Sementara rupiah di pasar spot melemah 0,03 persen ke Rp17.723 per dolar AS pada penutupan perdagangan kemarin.

Pelemahan dolar AS kali ini dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve.

Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan September hanya 40,1 persen, turun dari sekitar 55 persen sebulan sebelumnya.

Turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga membuat daya tarik dolar berkurang karena investor mulai memperhitungkan kebijakan moneter AS yang lebih longgar.

Faktor lain berasal dari kebijakan Departemen Keuangan AS terkait pasar surat utang.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan rencana untuk menggandakan nilai pembelian kembali atau buyback surat utang pemerintah AS bertenor panjang secara kuartalan.

Departemen Keuangan juga berpotensi menggunakan sebagian saldo kas untuk membeli kembali obligasi bertenor panjang.

Langkah tersebut membantu menekan imbal hasil US Treasury bertenor panjang. Penurunan yield Treasury kemudian turut mengurangi daya tarik aset berbasis dolar.

Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membuat greenback kehilangan momentum dalam beberapa hari terakhir.

Peluang Kenaikan Suku Bunga Sejumlah Bank Sentral Mengurangi Daya Tarik Dolar AS?

Namun, tekanan terhadap dolar tidak hanya berasal dari kebijakan Amerika Serikat. Perbedaan arah kebijakan moneter dengan bank sentral negara lain juga menjadi perhatian.

Sejumlah bank sentral diperkirakan masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga lebih tinggi dibandingkan Federal Reserve.

Perbedaan ekspektasi tersebut membuat daya tarik dolar relatif berkurang terhadap sejumlah mata uang utama.

Kondisi fundamental yang negatif tersebut berhadapan dengan faktor teknikal. Dolar dinilai sudah berada dalam kondisi oversold sehingga ruang pelemahan lebih lanjut dapat menghadapi hambatan.

Artinya, meskipun fundamental masih memberikan tekanan terhadap dolar, indikator teknikal menunjukkan kemungkinan adanya pembatas terhadap penurunan berikutnya.

Euro Menguat, Mengapa Yen Jepang Melemah?

Pergerakan mata uang utama mencerminkan kondisi tersebut. Euro menguat 0,09 persen menjadi USD1,1673, sedangkan poundsterling naik 0,1 persen menjadi USD1,3644.

Yen Jepang justru melemah 0,06 persen menjadi 159,22 per dolar AS.

Sentimen geopolitik ikut mempengaruhi dolar. Washington memperluas sanksi terhadap Iran, tetapi langkah tersebut dinilai tidak sekeras yang sebelumnya dikhawatirkan pasar.

Pemerintah AS tidak menyebut secara spesifik negara mana yang menjadi sasaran dan memberikan waktu bagi negara terkait untuk memenuhi ketentuan.

Pendekatan yang lebih menitikberatkan pada tekanan ekonomi dibandingkan eskalasi militer membantu meredakan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.

Penurunan harga minyak juga ikut menekan imbal hasil Treasury dan memengaruhi pergerakan dolar.

Di sisi lain, ketegangan perdagangan Amerika Serikat dan Kanada menjadi faktor yang memengaruhi mata uang Kanada.

Dolar Kanada menguat 0,1 persen menjadi 1,383 per dolar AS setelah sebelumnya mengalami pelemahan terbesar sejak Juni.

Pergerakan tersebut terjadi setelah Washington dan Ottawa gagal mencapai kesepakatan perdagangan dan AS memberlakukan tarif 50 persen terhadap sejumlah barang Kanada.

Washington kemudian mengumumkan kenaikan tarif menjadi 50 persen untuk seluruh mobil, truk, suku cadang otomotif, dan baja dari Kanada mulai 1 Januari 2027.

Kanada merespons dengan tarif balasan terhadap impor AS senilai sekitar USD20 miliar per tahun.

Eskalasi tersebut menambah ketidakpastian perdagangan Amerika Utara, meskipun pasar masih memperhitungkan kemungkinan tercapainya kesepakatan kedua negara.

Bagaimana Prediksi Nilai Tukar Rupiah Hari ini?

Sementara itu, pelemahan rupiah memiliki faktor tambahan yang berasal dari kondisi domestik. Rupiah ditutup di Rp17.723 per dolar AS, melemah tipis dari Rp17.721 pada perdagangan sebelumnya.

Pelemahan tersebut terjadi ketika pasar domestik sedang libur nasional, sehingga pergerakan rupiah terutama mencerminkan penyesuaian terhadap sentimen eksternal.

Salah satu faktor yang diperhatikan adalah prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Fitch Ratings menilai target pertumbuhan 6 persen pada 2027 lebih realistis dibandingkan ambisi pertumbuhan 8 persen dalam jangka menengah.

Namun, proyeksi Fitch sendiri masih berada di sekitar 5 persen, sehingga terdapat perbedaan antara target pemerintah dan perkiraan lembaga pemeringkat tersebut.

Risiko lain berasal dari kondisi eksternal.

Ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan, kemungkinan kembali meningkatnya harga minyak dunia, serta perlambatan ekonomi negara-negara mitra dagang utama Indonesia dapat memengaruhi prospek pertumbuhan dan stabilitas rupiah.

Kondisi fiskal juga menjadi perhatian. Pemerintah menargetkan defisit anggaran 2027 sebesar 2,4 persen terhadap PDB, lebih rendah dibandingkan target 2026 sebesar 2,85 persen.

Target tersebut menunjukkan upaya menjaga defisit tetap di bawah batas legal 3 persen terhadap PDB.

Namun, Fitch menilai konsolidasi fiskal dapat menghadapi tantangan apabila pemerintah kembali meningkatkan belanja seperti yang pernah terjadi dalam penyusunan anggaran sebelumnya.

Untuk perdagangan hari ini, perhatian investor akan tertuju pada data inflasi Amerika Serikat serta pidato pertama Chairman Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole.

Data inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ekspektasi terhadap kebijakan Fed yang lebih longgar dan memberikan tekanan tambahan terhadap dolar.

Bagi rupiah, sentimen tersebut dapat menjadi faktor pendukung apabila pelemahan dolar berlangsung lebih luas.

Namun, penguatan rupiah tetap bergantung pada kondisi domestik, prospek pertumbuhan ekonomi, kebijakan fiskal, harga minyak, dan perkembangan geopolitik.

Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pada perdagangan Rabu bergerak dalam kisaran Rp17.730-Rp17.750 per dolar AS. Kisaran tersebut menunjukkan rupiah masih menghadapi tekanan meskipun dolar secara global sedang kehilangan momentum.

Secara keseluruhan, dolar AS sedang kehilangan daya tarik karena ekspektasi suku bunga Fed menurun dan yield Treasury melemah, sedangkan rupiah masih menghadapi tekanan dari risiko domestik dan eksternal.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.