Krisis Hormuz Picu Indonesia Terbitkan Lebih Banyak Kebijakan EBTBursa Asia Tertekan Aksi Jual Obligasi, Yield AS Tembus Level Tertinggi Sejak 2004
DRMA juga menghubungkan agenda keberlanjutan dengan arah pengembangan produknya.
Sepanjang 2025, perusahaan mengembangkan charging station untuk kendaraan roda dua dan roda empat, Battery Energy Storage System atau BESS untuk penyimpanan energi matahari, motor konversi dari ICE ke EV, serta auxiliary battery berbasis lithium yang telah dipasarkan pada tahun pelaporan.
“Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui diversifikasi portofolio usaha dengan pengembangan produk yang mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon, khususnya di sektor kendaraan listrik dan energi terbarukan, seperti auxiliary battery berbasis lithium dan Battery Energy Storage System,” kata Irianto.
Bagi produsen komponen otomotif, perubahan teknologi kendaraan membawa konsekuensi langsung terhadap jenis produk yang dibutuhkan pasar.
Karena itu, masuk ke baterai, charging station, BESS, dan teknologi konversi EV menjadi bagian dari upaya DRMA memperluas portofolio ketika industri bergerak menuju elektrifikasi.
Dalam Laporan Keberlanjutan 2025, DRMA menempatkan pengembangan tersebut dalam kerangka Sustainability Strategy 5P yang mencakup Profit, People, Planet, Peace, dan Partnership.
Perusahaan menyatakan ESG dan nilai 5P Triputra Group diintegrasikan ke dalam strategi bisnis.
DRMA menyatakan keberlanjutan telah ditempatkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.
“Bagi Perseroan, keberlanjutan bukan sekadar pemenuhan kewajiban regulasi, melainkan bagian integral dari strategi jangka panjang perusahaan,” kata Irianto.
DRMA juga melakukan materiality assessment dengan pendekatan double materiality.
Artinya, topik ESG dilihat dari dua arah, yakni dampak aktivitas perusahaan terhadap aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan sekaligus kemungkinan faktor keberlanjutan memengaruhi kinerja bisnis.
Pada 2025, DRMA menyebut Sustainability Journey menjadi fondasi bagi penyusunan Sustainability Framework, tata kelola ESG, dan roadmap keberlanjutan yang direncanakan mulai diimplementasikan pada 2026.
Pencapaian 2025 pun menjadi penting ditelaah. Pendapatan naik 7,84 persen ketika emisi turun 18,55 persen.
Lalu penggunaan air turun 23,56 persen dan limbah padat turun 6,66 persen. Pada saat bersamaan, DRMA mengeluarkan investasi untuk PLTS dan mengubah sebagian aktivitas operasional menuju sistem berbasis listrik.
Data tersebut belum otomatis membuktikan bahwa seluruh pertumbuhan bisnis DRMA berasal dari program efisiensi lingkungan. Cakupan pengukuran lingkungan dan cakupan angka keuangan perlu dibaca sesuai metodologi laporan masing-masing.
Namun, arahnya cukup jelas untuk satu pertanyaan bisnis yang relevan.
Ketika skala manufaktur DRMA terus diperbesar, apakah efisiensi energi, pengurangan emisi, otomatisasi, dan diversifikasi produk rendah karbon mampu dipertahankan tanpa mengorbankan pertumbuhan?
DRMA memasuki 2026 dengan Sustainability Journey yang mulai diarahkan ke implementasi roadmap, sementara bisnisnya terus bergerak ke arah diversifikasi dan elektrifikasi.
Hasil 2025 memberi gambaran awal bahwa pertumbuhan pendapatan dan penurunan sejumlah indikator lingkungan dapat berjalan bersamaan.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.