Perdagangan BEI Sepekan: IHSG Ambles, Kapitalisasi Pasar Tergerus

Elsierra Putri Yosita, Sekretaris Perusahaan BEI menyampaikan bahwa rata-rata volume transaksi harian pekan ini mengalami peningkatan sebesar 2,04 persen.

“Menjadi 29,20 miliar lembar saham dari 28,61 miliar lembar  pada pekan sebelumnya,” ujar dia dalam keterangannya dikutip, Sabtu, 26 September 2026.

Namun di satu sisi, BEI mencatat Indeks Harga Saham Gabungansepanjang pekan ini  mengalami penurunan signifikan hingga mencapai  3,09 persen.

“Sehingga ditutup pada level 6.241,892 dari posisi 6.441,159 pada pekan sebelumnya,” kata Elsierra.

Catatan IHSG tersebut diikuti oleh kinerja kapitalisasi pasar BEI yang pekan ini ambles hingga 3,20 persen menjadi Rp10.905 triliun dari Rp11.266 triliun pada pekan lalu.

Rata-rata frekuensi transaksi harian di bursa pekan ini juga mengalami koreksi menjadi menjadi 1,82 juta kali transaksi atau turun 3,95 persen dari 1,89 juta kali transaksi pada pekan lalu.

“Sedangkan rata-rata nilai transaksi harian mengalami perubahan sebesar 21,32 persen menjadi Rp11,98 triliun dari Rp15,22 triliun pada pekan sebelumnya,” terang Elsierra.

Adapun investor asing per kemarin Jumat, 25 September 2026, BEI mencatat nilai jual bersih mencapai Rp559,16 miliar dan sepanjang tahun 2026, investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp77,52 triliun.

Analis Bocorkan Dua Metrik Utama buat Investor Pemula

Dalam memilih instrumen investasi di pasar modal, calon investor kerap dihadapkan pada banyaknya indikator keuangan.

Mulai dari Price to Earnings Ratio, Price to Book Value, Return on Equity, hingga Debt to Equity RatioBagi pemula, melimpahnya data ini tidak jarang memicu kebingungan dalam menentukan langkah awal.

Literacy and Education Mandiri Sekuritas, Norman Yudha Aditya Andreswara, menegaskan bahwa sebelum membedah rasio yang rumit, investor wajib memeriksa kriteria fundamental paling mendasar dari sebuah emiten, yaitu kemampuan mencetak laba bersih.

“Kalau saya, yang paling krusial pertama itu Earnings Per ShareJadi kalau kita membicarakan fundamental, perusahaan itu harus profit.

Jangan sampai EPS-nya ada yang minus,” ujar Norman dalam edukasi wartawan secara daring di Jakarta, Rabu, 23 September 2026.

Menurut Norman, rekam jejak EPS yang ideal dapat dilihat dari konsistensinya selama tiga hingga empat tahun terakhir.

Mengacu pada data analisis riset pasar modal domestik Mandiri Sekuritas, emiten berkapitalisasi besaryang menghuni indeks acuan seperti LQ45 secara rata-rata mampu mencatatkan ROE di atas 12 hingga 20 persen dengan EPS yang tumbuh stabil.

Jika EPS emiten tidak pernah minus dan menunjukkan tren pertumbuhan saban tahun, hal tersebut menandakan kinerja laba bersih perusahaan terus bertumbuh secara sehat.

Setelah memastikan laba bersih emiten solid melalui EPS, investor baru disarankan melangkah ke tahap evaluasi valuasi menggunakan PER.

Indikator ini berguna untuk membandingkan harga saham antar-emiten di sektor sejenis, guna menemukan saham yang harganya masih terjangkau atau berada di bawah nilai pasar

“Jadi untuk pemula, dua metrik itu saja dulu yang diperhatikan: EPS terlebih dahulu, baru kemudian Price to Earnings Ratio,” paparnya.

Sinyal Bahaya Laporan Keuangan dan Notasi Khusus Bursa Selain memilah metrik utama, investor juga dituntut jeli melihat sinyal bahayapada laporan keuangan emiten.

Otoritas bursa sejatinya telah memasang notasi khusus atau “tato” peringatan bagi emiten yang bermasalah atau terlambat menyampaikan laporan keuangan.

Berdasarkan data statistik PT Bursa Efek Indonesiaper kuartal III-2026, terdapat lebih dari 250 emiten yang masuk dalam skema Papan Pemantauan Khusus (Full Call Auction/FCA) maupun menyandang notasi khusus seperti huruf Xdan L (keterlambatan laporan keuangan).

Namun, ada sinyal bahaya lain yang kerap terlewat oleh publik akibat terdistraksi oleh pergerakan harga saham di pasar sekunder.

Banyak emiten berharga gancet di area bawah yang sebenarnya mencatatkan rasio utang berisiko tinggi dengan Debt to Equity Ratiomelonjak melebihi 2 hingga 3 kali lipat.

Norman mengingatkan agar investor tidak mudah tergiur oleh lonjakan harga saham yang tidak ditopang oleh perbaikan kinerja keuangan yang riil.

“Juga menjadi red flag ketika laporan keuangannya banyak minus, tetapi harga sahamnya justru naik tajam.

Kembali lagi ke EPS, kalau perusahaannya tidak profit dan ada minus di EPS-nya, lebih baik kita tinggalkan saja, jangan ikut-ikutan,” tegas Norman.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.