China Ikut Pusing, Iran Diminta Redam Houthi yang bikin Jalur Minyak TerancamMUI Minta Suahasil Integrasikan Ekonomi Syariah ke dalam Kebijakan Fiskal Negara
Dalam desain E20 yang dipaparkan ESDM pada Juni 2026, pemerintah juga menempatkan diri sebagai pembeli utama atau off-taker produksi etanol yang dihasilkan petani dan pelaku usaha sektor hulu.
Skema tersebut dirancang untuk memastikan produksi etanol memiliki pasar sekaligus memberikan nilai tambah bagi sektor pertanian dan industri bioenergi nasional.
Pada saat E20 dibahas, pemerintah memproyeksikan konsumsi bensin nasional sekitar 40 juta KL per tahun. Dari kebutuhan tersebut, kapasitas produksi dalam negeri disebut hanya sekitar 14,3 juta KL.
Tambahan produksi dari Kilang Balikpapan sebesar 5,5 juta KL kemudian diproyeksikan membuat kebutuhan impor bensin menyisakan sekitar 20 juta KL per tahun.
Karena itu, E20 sebelumnya ditempatkan sebagai salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin. Pemerintah mengaitkannya dengan pendekatan yang telah digunakan dalam pengembangan biodiesel, dari B10 hingga B50.
Kini, setelah Presiden meminta penyusunan strategi E50, skala ambisinya menjadi lebih besar.
Jika E20 membutuhkan sekitar 4 juta KL etanol berdasarkan perhitungan pemerintah sebelumnya, maka peningkatan kadar campuran menjadi 50 persen akan menuntut kapasitas produksi etanol yang jauh lebih besar apabila basis konsumsi bensin tetap berada di kisaran 40 juta KL.
Di sinilah tantangan E50 tidak berhenti pada teknologi pencampuran bahan bakar. Pemerintah juga perlu menyiapkan ekosistem bahan bakunya, mulai dari ketersediaan komoditas pertanian hingga kapasitas industri pengolahan etanol.
Terlebih, bahan baku yang disebut pemerintah untuk E20 berasal dari komoditas yang juga memiliki rantai pasok tersendiri, yakni tebu, singkong, dan jagung.
Di sisi lain, pemerintah menempatkan E50 sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Bahlil menyebut konsumsi bensin domestik saat ini berada di kisaran 39–40 juta KL per tahun, sementara konsumsi solar sekitar 39 juta KL per tahun.
Kesamaan skala konsumsi tersebut menjadi alasan pemerintah melihat sektor bensin sebagai ruang berikutnya untuk mengurangi ketergantungan pada BBM impor.
Dengan demikian, perjalanan kebijakan biofuel pemerintah kini memasuki fase baru.
Jika B50 menjadi model yang ingin direplikasi, E50 akan membutuhkan bukan hanya target campuran yang lebih tinggi, tetapi juga kemampuan menyediakan etanol dalam skala yang jauh lebih besar.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.