Ekonom Komentari Menkeu Baru Suahasil Nazara, Lebih Baik dari Purbaya?

Bagaimana Persepsi Pasar usai Suahasil Ditunjuk Jadi Menteri Keuangan?Ekonom Didik J Rachbini Minta Obligasi Jakarta Ditunda, Tata Kelola Pemprov DKI Harus Dibenahi

Karena itu, Achmad mengingatkan agar pergantian Menkeu tidak diterjemahkan sebagai pilihan antara fiskal agresif dan fiskal konservatif.

“Indonesia tidak membutuhkan pilihan antara fiskal agresif tanpa kepastian dan fiskal konservatif tanpa pertumbuhan. Indonesia membutuhkan fiskal produktif,” ungkap Achmad.

Konsep fiskal produktif tersebut, menurut Achmad, terlihat dari cara pemerintah menilai belanja negara. Belanja harus diarahkan pada program yang memberikan manfaat ekonomi, sementara subsidi perlu dievaluasi berdasarkan efektivitasnya.

Sedangkan untuk penerimaan negara, kata Achmad, penguatan pajak perlu dilakukan melalui peningkatan kepatuhan dan pengurangan kebocoran.

Sehingga, penerimaan negara melalui pajak tidak menambah tekanan kepada masyarakat yang sudah patuh.

“Belanja harus dinilai berdasarkan manfaat ekonominya. Subsidi harus dievaluasi berdasarkan efektivitas, bukan semata-mata dipangkas.

Pajak harus diperluas melalui kepatuhan dan pengurangan kebocoran, bukan dengan terus membebani kelas menengah,” papar Achmad.

Ekonom tersebut juga memandang, Suahasil sebagai Menkeu baru tengah berada di titik yang berbeda dari sebelumnya.

Ia tidak lagi hanya berada di jajaran yang membantu merumuskan dan menjalankan kebijakan fiskal, tetapi menjadi pihak yang bertanggung jawab langsung atas arah pengelolaan keuangan negara.

Pengalaman Suahasil di Kemenkeu menjadi bekal untuk menjalankan tugas tersebut. Namun, pengalaman yang sama juga membuat tuntutan terhadapnya lebih besar.

Achmad menyatakan, Suahasil memiliki pengetahuan dari dalam mengenai berbagai persoalan fiskal yang harus dihadapi pemerintah.

“Pengalamannya yang panjang di Kementerian Keuangan adalah modal sekaligus beban. Ia mengetahui masalah dari dalam.

Oleh karena itu, ia tidak punya alasan untuk sekadar mempertahankan status quo,” ujarnya.

Menurutnya, ukuran keberhasilan Suahasil nantinya tidak hanya terlihat dari kemampuan menjaga defisit tetap di bawah batas 3 persen PDB.

Pemerintah juga perlu menunjukkan perbaikan kualitas belanja, penguatan penerimaan negara, serta kemampuan APBN menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih produktif.

“Jika Suahasil hanya berhasil menjaga defisit di bawah 3 persen tanpa memperbaiki kualitas belanja, penerimaan, tata kelola Danantara, dan akuntabilitas fiskal, maka pergantian Menteri Keuangan ini hanya akan menghasilkan stabilitas administratif,” kata Achmad.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.