Gelar RUPST dan Pubex, BBSI Tahan Laba Bersih 2024: Rp124 Miliar BBSI Berhasil Tingkatkan DPK Menjadi Rp2,2 Triliun
Potensi bioetanolnya pun sangat bergantung pada teknologi yang digunakan. Penelitian mengenai konversi limbah jagung menjadi bioetanol mencatat rendemen sekitar 66,23 liter per ton bahan baku.
Dengan asumsi tersebut, 2,91 juta ton tongkol secara teoritis menghasilkan sekitar 193 ribu KL bioetanol.
Angka tersebut terlihat besar jika berdiri sendiri. Namun ketika disandingkan dengan kebutuhan nasional, skalanya menjadi berbeda.
Potensi teoritis sekitar 193 ribu KL itu hanya setara kurang lebih 9,7 persen dari kebutuhan bioetanol untuk E5 berdasarkan konsumsi bensin nasional sekitar 40 juta KL per tahun.
Artinya, tongkol jagung punya nilai tambah sebagai sumber energi, tetapi sendirian belum cukup untuk menjadi tulang punggung mandatori bioetanol nasional. Apalagi jika pemerintah benar-benar mengarahkan pencampuran menuju E10 dan E20.
Singkong menawarkan skala bahan baku yang lebih besar. Kementerian Pertanian mencatat produksi ubi kayu Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 15,18 juta ton.
Lampung menjadi sentra terbesar dengan produksi sekitar 7,9 juta ton, setara 47,32 persen dari produksi nasional.
Namun, singkong menghadirkan persoalan yang berbeda. Sebagian besar produksi tersebut memiliki fungsi sebagai komoditas pangan dan bahan baku industri.
Karena itu, gagasan ESDM menggunakan singkong pahit menjadi penting untuk menghindari persaingan langsung antara kebutuhan energi dan kebutuhan pangan.
Dari sisi keekonomian, sebuah studi teknoekonomi pabrik bioetanol berbasis singkong dengan kapasitas 30.000 KL per tahun memperkirakan kebutuhan bahan baku sekitar 195.000 ton singkong per tahun.
Angka tersebut setara dengan kebutuhan sekitar 6,5 kilogram singkong untuk menghasilkan satu liter bioetanol.
Studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Teknologi tersebut menghitung harga pokok produksi bioetanol sekitar Rp4.058 per liter. Sementara harga jual yang digunakan dalam studi itu mencapai Rp6.100 per liter.
Perhitungan tersebut tentu tidak bisa langsung dipindahkan ke kondisi 2026 karena biaya bahan baku, energi, logistik, pembiayaan, hingga teknologi produksi dapat berubah.
Meski begitu, angka tersebut memberikan gambaran mengenai mengapa pemerintah perlu membedakan formulasi Harga Indeks Pasarberdasarkan bahan baku.
Bioetanol dari molasses memiliki struktur biaya yang berbeda dengan bioetanol berbasis limbah jagung, singkong pahit, sorgum, sagu, maupun aren.
Pemerintah saat ini telah memiliki HIP bioetanol berbasis molasses. Kementerian ESDM menetapkan HIP tersebut sebesar Rp8.062 per liter pada 2026.
Selisih dengan biaya produksi dalam studi lama berbasis singkong memang cukup lebar, tetapi angka itu tidak tepat dibaca sebagai margin keuntungan produsen karena basis waktunya berbeda dan struktur formula HIP tidak identik dengan harga jual dalam studi tersebut.
Di sisi permintaan, pemerintah punya pekerjaan yang jauh lebih besar. ESDM menyebut kebutuhan etanol untuk implementasi E20 dapat mencapai 4 juta KL per tahun.
Angka tersebut bahkan berbeda dari perhitungan sederhana berbasis 40 juta KL konsumsi bensin, yang menghasilkan kebutuhan sekitar 8 juta KL bioetanol untuk E20.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa angka kebutuhan sangat bergantung pada cakupan bensin yang dikenai mandatori, asumsi konsumsi, serta tahapan implementasi kebijakan.
Karena itu, kapasitas produksi menjadi variabel penting yang tidak bisa dilewatkan dalam menghitung kesiapan program.
Reuters sebelumnya melaporkan pemerintah menargetkan produksi bioetanol sekitar 800 ribu KL pada 2028.
Dengan proyeksi konsumsi bensin sekitar 39,9 juta KL, kapasitas tersebut masih berada di bawah kebutuhan teoritis jika campuran E10 diterapkan secara penuh.
Dengan kata lain, pemerintah sedang menghadapi pekerjaan rumah berlapis.
Harga harus cukup menarik bagi investor, bahan baku tidak boleh mengganggu pangan, teknologi harus mampu mengubah biomassa menjadi etanol secara efisien, sementara kapasitas pabrik harus terus dikejar.
Tongkol jagung dan singkong pahit bisa menjadi bagian dari jawaban.
Namun, jika target akhirnya bukan sekadar membuat bioetanol tersedia, melainkan mengubah jutaan kiloliter bensin menjadi campuran E10 hingga E20, maka Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar limbah pertanian yang melimpah.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.