Harga Emas di Level USD4.600, Pasar Menanti Titah Wars

Kenaikan kali ini didukung pelemahan dolar AS, sementara investor menunggu pidato Chairman Federal Reserve Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole untuk mendapatkan petunjuk mengenai prospek inflasi dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Harga emas spot naik 0,4 persen menjadi USD4.607,90 per ons pada pukul 24.54 WIB. Penguatan tersebut terjadi setelah harga emas anjlok 1,4 persen pada perdagangan sebelumnya, yang menjadi penurunan harian terbesar dalam sepekan.

Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Desember ditutup naik 0,2 persen menjadi USD4.664 per ons.

Pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor yang menopang harga emas. Karena emas diperdagangkan dalam dolar AS, pelemahan mata uang tersebut membuat emas relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya tarik komoditas tersebut di pasar global.

Harga emas sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Mei pada awal pekan ini.

Penguatan emas dalam beberapa waktu terakhir juga berlangsung di tengah meningkatnya perhatian terhadap prospek dolar AS dan pasar obligasi Amerika Serikat.

Departemen Keuangan AS pada pekan sebelumnya meningkatkan pembelian kembali obligasi jangka panjang yang telah beredar.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar terkait prospek nilai dolar dan pasar surat utang.

Permintaan ETF Jadi Sentimen Positif 

Analis StoneX Bob Haberkorn mengatakan permintaan terhadap emas masih menjadi salah satu faktor pendukung harga.

Permintaan disebut berasal dari exchange-traded fundemas serta bank sentral yang menggunakan emas sebagai salah satu aset alternatif terhadap dolar.

Permintaan dari ETF menjadi perhatian karena arus dana ke produk investasi berbasis emas dapat memengaruhi permintaan di pasar fisik maupun finansial.

Sementara pembelian oleh bank sentral menjadi bagian dari diversifikasi cadangan devisa dari aset berbasis dolar.

Namun, pergerakan emas masih menghadapi faktor kebijakan moneter Amerika Serikat. Investor kini menunggu pidato pertama Kevin Warsh sebagai Chairman Federal Reserve dalam simposium tahunan Jackson Hole di Wyoming pada Jumatwaktu setempat.

Pasar akan mencermati pandangan Warsh mengenai strategi The Fed dalam mengembalikan inflasi ke target. Investor juga memperhatikan pandangannya terhadap peran pasar obligasi dalam strategi kebijakan moneter bank sentral.

Perhatian tersebut meningkat setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga masih berada di atas ekspektasi sebelumnya. Indeks Personal Consumption Expendituresnaik 3,7 persen dalam 12 bulan hingga Juli.

Angka tersebut sama dengan posisi Juni dan lebih tinggi dibandingkan proyeksi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,6 persen.

Data PCE menjadi salah satu indikator penting bagi The Fed dalam menentukan kebijakan moneter. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga.

Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga AS pada September turun menjadi 34 persen. Sementara peluang kenaikan suku bunga hingga Desember masih berada di level 74 persen.

Perbedaan ekspektasi tersebut menunjukkan perhatian pasar tidak hanya tertuju pada keputusan The Fed dalam waktu dekat, tetapi juga pada kemungkinan arah kebijakan hingga akhir tahun.

Suku bunga menjadi faktor penting bagi pasar emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.

Ketika suku bunga meningkat atau pasar memperkirakan suku bunga bertahan tinggi, daya tarik relatif emas dapat terpengaruh.

Sebaliknya, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar dapat meningkatkan perhatian investor terhadap emas.

Harga Perak dan Platinum Menguat

Selain emas, logam mulia lainnya juga mencatat penguatan pada perdagangan yang sama.

Harga perak spot melonjak 1,8 persen menjadi USD69,35 per ons. Platinum naik 1 persen menjadi USD1.848,08 per ons, sedangkan paladium menguat 1,3 persen menjadi USD1.344,72 per ons.

Kinerja tersebut menunjukkan penguatan tidak hanya terjadi pada emas, tetapi juga meluas ke sejumlah komoditas logam mulia lainnya.

Meski harga emas kembali naik setelah penurunan tajam pada perdagangan sebelumnya, pasar masih menghadapi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pergerakan harga.

Pelemahan dolar AS memberikan dukungan terhadap emas, sementara permintaan ETF dan pembelian bank sentral menjadi faktor lain yang diperhatikan investor.

Di sisi lain, prospek suku bunga The Fed menjadi faktor utama yang dinantikan pasar. Data PCE yang berada di atas perkiraan membuat inflasi kembali menjadi perhatian, sedangkan ekspektasi terhadap perubahan suku bunga masih bergerak.

Dengan demikian, penguatan emas pada perdagangan Kamis berlangsung di tengah kombinasi pelemahan dolar AS dan tingginya permintaan terhadap aset logam mulia.

Setelah kenaikan 0,4 persen, perhatian pasar selanjutnya tertuju pada pidato Kevin Warsh di Jackson Hole yang berpotensi memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan prospek suku bunga hingga akhir tahun.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.