Ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanaskan pasar energi dunia hingga mendorong harga minyak naik dan membuat investor di Wall Street buru-buru mengurangi risiko.
Harga minyak Brent, yang menjadi acuan internasional, melonjak 2,1 persen hingga menyentuh USD98,04 per barel atau sekitar Rp1,66 juta per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah Washington dan Teheran saling mengklaim melakukan serangan balasan atas insiden sebelumnya sehingga menimbulkan keraguan terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang sempat diumumkan beberapa waktu lalu.
Lonjakan harga minyak langsung menekan pasar saham Amerika Serikat. Dilansir dari AP, Kamis, 4 Juni 2026, indeks S&P 500 terkoreksi 0,6 persen dari posisi rekor tertingginya.
Indeks Dow Jones turun 445 poin atau 0,9 persen, sedangkan Nasdaq melemah 1 persen. Kondisi ini menunjukkan satu hal sederhana.
Investor kembali mengingat bahwa perang tidak pernah benar-benar murah.
Sejak konflik pecah, harga energi terus bergerak naik dan ikut mendorong tekanan inflasi global.
Dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara pengimpor minyak, tetapi juga mulai merembet ke pasar keuangan, sektor konsumsi, hingga biaya pinjaman. Meski begitu, pasar belum sepenuhnya kehilangan harapan.
Sejumlah pelaku pasar masih meyakini Amerika Serikat dan Iran pada akhirnya akan mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak.
Jalur laut tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Jika kembali beroperasi normal, pasokan minyak mentah global dapat meningkat dan tekanan harga berpotensi mereda.
Harapan itulah yang sejauh ini masih menahan kepanikan investor.
Bahkan sebelum gejolak terbaru muncul, kombinasi antara optimisme perdamaian dan kinerja keuangan perusahaan yang kuat sempat mendorong reli besar di Wall Street.
Jika S&P 500 mampu kembali menguat hingga penutupan perdagangan, indeks tersebut berpotensi mencatat kenaikan selama 10 hari berturut-turut, rekor yang belum pernah terjadi dalam tiga dekade terakhir.
Namun pasar tidak bergerak seragam. Di tengah tekanan geopolitik, sejumlah emiten masih mampu mencuri perhatian investor.
Perusahaan alat kesehatan Medtronic melonjak 5,1 persen setelah membukukan laba yang melampaui ekspektasi analis sekaligus menaikkan dividen bagi pemegang saham.
Peritel gim video GameStop juga naik 6,3 persen setelah mencatat pertumbuhan pendapatan 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Perseroan turut mengumumkan program pembelian kembali saham senilai hingga USD2 miliar atau sekitar Rp33,8 triliun. Sebaliknya, tidak semua laporan keuangan bagus berhasil memuaskan pasar.
Palo Alto Networks justru anjlok 6,3 persen meski melaporkan laba yang lebih baik dari perkiraan analis.
Investor tampaknya sudah memasang ekspektasi terlalu tinggi setelah harga saham perusahaan tersebut melonjak lebih dari 61 persen sepanjang tahun ini. Tekanan lain datang dari pasar obligasi.
Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun naik ke level 4,5 persen dari sebelumnya 4,46 persen. Sebelum perang pecah, yield masih berada di kisaran 3,97 persen.
Kenaikan yield menjadi ancaman tersendiri bagi perekonomian global. Semakin mahal biaya pinjaman, semakin berat pula beban rumah tangga dan dunia usaha.
Di Amerika Serikat, suku bunga kredit pemilikan rumah jangka panjang kini telah mencapai level tertinggi dalam sembilan bulan terakhir.
Kondisi tersebut juga berpotensi menghambat investasi korporasi, termasuk pembangunan pusat data kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang selama ini menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam.
Perusahaan-perusahaan kecil menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampak. Banyak di antara mereka masih bergantung pada utang untuk membiayai ekspansi usaha.
Tak heran jika indeks Russell 2000 yang berisi saham-saham berkapitalisasi kecil turun lebih dalam, yakni 1,4 persen.
Sementara itu, data ekonomi terbaru Amerika Serikat memberikan sinyal yang bercampur. Laporan Institute for Supply Management menunjukkan aktivitas sektor jasa tumbuh lebih cepat dari perkiraan ekonom pada bulan lalu.
Namun survei yang sama juga menemukan semakin banyak pelaku usaha mengeluhkan kenaikan biaya akibat tarif impor dan harga energi yang lebih mahal.
Salah satu pelaku usaha di sektor akomodasi dan makanan bahkan mengakui tekanan tersebut mulai terasa nyata. “Ini adalah definisi dari tekanan inflasi yang mulai memengaruhi kami,” ujar salah satu responden dalam survei tersebut.
Di luar Amerika Serikat, mayoritas bursa Eropa ikut melemah mengikuti sentimen yang berkembang di Wall Street. Pasar Asia bergerak lebih beragam.
Indeks Hang Seng Hong Kong turun 1,6 persen, sedangkan Nikkei 225 Jepang justru melonjak 2,5 persen dan kembali mencetak rekor tertinggi.
Euforia kecerdasan buatan masih menjadi bahan bakar utama pasar saham global. Di Wall Street, saham Marvell Technology kembali naik 5,3 persen setelah sehari sebelumnya melesat 32,5 persen.
Katalisnya datang dari CEO Nvidia Jensen Huang yang dalam sebuah konferensi di Taiwan menyebut Marvell berpotensi menjadi “perusahaan berikutnya yang bernilai USD1 triliun”.
Namun untuk saat ini, perhatian pasar tampaknya masih tertuju ke Timur Tengah. Sebab selama rudal masih beterbangan dan Selat Hormuz belum sepenuhnya aman, harga minyak berpotensi terus menjadi sumber kegelisahan baru bagi ekonomi dunia.
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.