Penguatan terjadi setelah aksi beli saat harga murah muncul menyusul penurunan tajam pada awal pekan.
Namun, pergerakan emas masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, terutama setelah pejabat bank sentral AS kembali membuka kemungkinan kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi.
Mengutip data perdagangan yang dilaporkan Reuters, harga emas spot naik 1,5 persen menjadi USD4.194,36 per troy ounce pada pukul 15.29 waktu setempat atau 19.29 GMT.
Dengan kenaikan tersebut, emas berada di jalur untuk mencatatkan penguatan mingguan sekitar 1,3 persen.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember 2026 naik 1,4 persen dan ditutup pada USD4.216,30 per troy ounce.
Kenaikan tersebut terjadi setelah harga emas menyentuh level terendah dalam dua bulan pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Ketika itu, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menekan logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil bunga tersebut.
Pemulihan harga pada dua sesi terakhir menunjukkan munculnya minat beli setelah koreksi. Namun, investor masih mencermati apakah penguatan tersebut dapat berlanjut atau kembali tertekan oleh perubahan ekspektasi suku bunga AS.
Kepala Analisis Pasar StoneX Rhona O’Connell, mengatakan pembelian saat harga melemah menjadi salah satu faktor yang mendorong pemulihan emas. Menurutnya, area USD4.000 per troy ounce mulai membentuk tingkat penopang harga atau support.
Meski demikian, O’Connell menilai ruang kenaikan emas masih perlu dilihat dalam konteks ekspektasi kebijakan moneter dan permintaan dari sektor resmi, termasuk bank sentral.
Ia menyoroti bahwa kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed berikutnya mungkin sudah diperhitungkan oleh pasar. Di sisi lain, pembelian bersih emas oleh sektor resmi juga menjadi faktor yang menopang permintaan.
Kondisi tersebut membuat arah harga emas tidak hanya bergantung pada pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi, tetapi juga pada perkembangan kebijakan moneter dan permintaan jangka panjang.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Membayangi Emas
Perhatian pasar tertuju pada pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem.
Pada Kamis, Musalem mengatakan bank sentral AS perlu kembali menaikkan suku bunga untuk membawa inflasi menuju target 2 persen.
Pernyataan tersebut memperkuat perhatian investor terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lanjutan. Jika inflasi tetap tinggi, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau menaikkannya kembali.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober sebesar 19 persen. Sementara itu, peluang terjadinya setidaknya satu kenaikan sebesar 25 basis poin hingga Desember mencapai 84 persen.
Angka tersebut menggambarkan ekspektasi pasar pada saat data dihimpun, bukan keputusan resmi The Fed. Perubahan data inflasi dan pernyataan pejabat bank sentral masih dapat menggeser perkiraan tersebut.
Bagi emas, perkembangan ini menjadi faktor penting karena logam mulia tidak menghasilkan bunga.
Ketika suku bunga meningkat, aset berbunga seperti obligasi dapat menjadi lebih menarik dibandingkan emas, terutama jika imbal hasil riil turut naik.
Sebaliknya, penurunan imbal hasil obligasi dapat mengurangi biaya peluang memegang emas.
Kondisi ini terlihat pada perdagangan Jumat, ketika imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun dari level tertinggi dalam lebih dari dua dekade yang tercatat pada Rabu.
Penurunan imbal hasil tersebut memberikan ruang bagi emas untuk pulih setelah tekanan pada awal pekan. Namun, pergerakan selanjutnya tetap bergantung pada bagaimana pasar menilai prospek inflasi dan arah suku bunga AS.
Data Inflasi AS Menjadi Katalis Berikutnya
Analis pasar utama Bybit, Han Tan, menilai rilis data indeks harga konsumen atau Consumer Price IndexAS pada pekan berikutnya dapat menjadi katalis bagi pergerakan emas.
Data inflasi akan memberikan petunjuk mengenai perkembangan tekanan harga di AS dan kemungkinan respons The Fed. Jika inflasi bertahan tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat menguat dan menekan harga emas.
Tan mengatakan inflasi yang masih sulit dikendalikan dapat mendorong The Fed menempuh siklus kenaikan suku bunga yang lebih agresif.
Dalam skenario tersebut, harga emas spot berpotensi kembali menguji level psikologis USD4.000 per troy ounce.
Sebaliknya, apabila inflasi menunjukkan perlambatan dan mengurangi kebutuhan pengetatan moneter tambahan, tekanan terhadap emas berpotensi mereda.
Meski demikian, arah harga tetap dipengaruhi faktor lain, termasuk pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, dan permintaan fisik.
Dengan posisi harga yang kembali mendekati USD4.200 per troy ounce pada perdagangan Jumat, pelaku pasar memiliki dua level penting untuk diperhatikan.
Area USD4.000 menjadi penopang psikologis yang disoroti analis, sedangkan keberlanjutan pemulihan menuju dan melampaui USD4.200 akan bergantung pada respons pasar terhadap data ekonomi berikutnya.
Kedua level tersebut bukan kepastian arah harga, melainkan acuan untuk membaca perubahan tekanan beli dan jual di tengah ketidakpastian kebijakan moneter.
Permintaan Fisik di India dan China Masih Terbatas
Selain faktor makroekonomi, permintaan fisik turut memengaruhi dinamika pasar emas. Permintaan emas di India dilaporkan lesu pada pekan ini setelah harga kembali meningkat.
Kenaikan harga dapat membuat sebagian konsumen menunda pembelian atau mengurangi jumlah emas yang dibeli.
Sementara itu, aktivitas perdagangan di China, sebagai salah satu konsumen emas terbesar dunia, relatif terbatas karena periode perdagangan yang lebih pendek akibat libur.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan harga belum sepenuhnya diikuti peningkatan permintaan fisik di dua pasar utama Asia tersebut.
Di sisi lain, pembelian bersih oleh sektor resmi, termasuk bank sentral, tetap menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor dalam menilai permintaan emas secara lebih luas.
Namun, besarnya kontribusi masing-masing sumber permintaan terhadap pergerakan harga perlu dilihat dari data yang tersedia.
Perkembangan permintaan fisik menjadi penting karena dapat memperkuat atau membatasi dampak faktor keuangan terhadap harga emas.
Ketika permintaan investasi meningkat tetapi pembelian fisik melemah, pasar menghadapi kombinasi faktor yang berbeda dalam menentukan arah harga.
Perak dan Logam Mulia Lainnya Ikut Menguat
Penguatan pada Jumat juga terjadi pada sejumlah logam mulia lainnya. Harga perak spot naik 2,4 persen menjadi USD60,77 per troy ounce.
Platinum melonjak 3,1 persen menjadi USD1.685,64 per troy ounce, sedangkan paladium meningkat 2,1 persen menjadi USD1.146,39 per troy ounce.
Meskipun ketiga logam tersebut menguat pada perdagangan harian, platinum dan paladium masih berada di jalur untuk mencatatkan kerugian mingguan.
Dengan demikian, kenaikan pada Jumat belum cukup untuk menghapus tekanan yang terjadi selama pekan berjalan.
Pergerakan serentak sejumlah logam mulia memperlihatkan adanya pemulihan harga pada akhir pekan perdagangan. Namun, karakteristik permintaan masing-masing logam berbeda.
Emas lebih banyak dipengaruhi fungsi lindung nilai dan permintaan investasi, sedangkan perak, platinum, serta paladium juga memiliki keterkaitan dengan aktivitas industri.
India Berlakukan Pajak Impor Logam Mulia
Faktor lain yang menjadi perhatian pasar berasal dari kebijakan perpajakan di India. Pemerintah India dilaporkan tidak memperpanjang fasilitas pajak bagi perbankan atas impor emas dan logam mulia lainnya.
Mengutip laporan media lokal yang disampaikan Reuters, bank-bank kini dikenai pajak barang dan jasa terintegrasi atau Integrated Goods and Services Taxsebesar 3 persen atas impor tersebut sejak April.
Sekretaris Pendapatan India Arvind Shrivastava, mengatakan perubahan itu bertujuan menyamakan perlakuan pajak terhadap impor emas dan logam lainnya melalui jalur yang berbeda.
Pemerintah telah menyampaikan perubahan tersebut kepada Dewan Pajak Barang dan Jasa, yang terdiri atas pejabat pemerintah pusat dan negara bagian.
Kebijakan tersebut menjadi tambahan faktor yang perlu diperhatikan dalam menilai kondisi pasar emas India. Namun, dampaknya terhadap permintaan dan harga global masih bergantung pada respons pelaku usaha serta konsumen terhadap biaya impor.
Secara keseluruhan, kenaikan harga emas pada Jumat mencerminkan pemulihan setelah koreksi tajam pada awal pekan.
Meski aksi beli saat harga murah menopang perdagangan, prospek selanjutnya masih bergantung pada data inflasi AS, ekspektasi suku bunga The Fed, pergerakan dolar dan imbal hasil obligasi, serta perkembangan permintaan fisik.
Rilis CPI AS pada pekan berikutnya menjadi agenda penting yang dapat mengubah ekspektasi pasar. Jika inflasi kembali menguat, risiko pengujian ulang area USD4.000 tetap terbuka.
Sebaliknya, meredanya tekanan inflasi dapat memberikan ruang bagi emas untuk mempertahankan pemulihannya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.