Harga Emas Sepekan Luntur 3,4 Persen, Pengamat: Tekanan Masih Tinggi

Penguatan yield US Treasury dan posisi dolar AS yang masih menguat secara mingguan kembali menekan logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

Harga emas spot turun 0,9 persen menjadi USD4.140,06 per troy ounce pada pukul 14.33 EDT atau 02.33 WIB, sementara kontrak berjangka emas AS ditutup turun 1 persen ke USD4.162,30 per ounce.

Dengan pergerakan tersebut, emas spot berada di jalur penurunan sekitar 3,4persen sepanjang pekan.

Tekanan terhadap emas terutama datang dari pasar obligasi AS. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun sebelumnya mencapai level tertinggi sejak 2002.

Kenaikan yield meningkatkan opportunity cost memegang emas karena logam mulia tidak memberikan kupon atau bunga seperti surat utang.

Pada saat yang sama, dolar AS meskipun sedikit melemah pada perdagangan Jumat, masih berada di jalur penguatan mingguan sehingga membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Data Tenaga Kerja AS Pemicu Awal Kenaikan Emas

Pergerakan emas sempat berlawanan dengan tekanan tersebut setelah pemerintah AS merilis laporan ketenagakerjaan September.

Data nonfarm payrolls menunjukkan ekonomi AS hanya menambah 29.000 pekerjaan pada September, jauh di bawah konsensus ekonom yang disurvei Reuters sebesar 90.000.

Angka Agustus juga direvisi turun menjadi 133.000 dari laporan sebelumnya 162.000.

Tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,2 persen dari 4,1 persen, sementara pertumbuhan upah rata-rata hanya 0,1 persen secara bulanan sehingga pertumbuhan tahunan melambat menjadi 3 persen.

Data tersebut memperlihatkan pasar tenaga kerja AS mengalami perlambatan, meskipun Reuters mencatat belum terlihat indikasi pemutusan hubungan kerja secara luas.

Secara teori, pelemahan pasar tenaga kerja dapat mengurangi tekanan terhadap Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga. Ekspektasi tersebut sempat mendorong emas naik lebih dari 1 persen setelah data dirilis.

Namun, penguatan tersebut tidak bertahan hingga penutupan. Investor masih memperhitungkan bahwa Federal Reserve memiliki perhatian utama terhadap inflasi, terutama ketika harga energi dan tekanan biaya masih tinggi.

Han Tan, chief market analyst di Bybit, mengatakan pelaku pasar emas belum sepenuhnya meningkatkan ekspektasi bullish karena The Fed masih mempertahankan bias ketat.

Menurutnya, arah emas dalam beberapa bulan ke depan akan sangat bergantung pada seberapa jauh bank sentral AS dapat menerima pelemahan pasar tenaga kerja tanpa mengurangi fokus terhadap inflasi.

Peluang Kenaikan Suku Bunga di Oktober Turun Tajam

Perubahan terbesar terjadi pada ekspektasi kebijakan moneter AS. Setelah data tenaga kerja dirilis, pelaku pasar menurunkan perkiraan kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve Oktober.

Berdasarkan CME FedWatch yang mengukur ekspektasi melalui harga kontrak Fed Funds futures, peluang kenaikan suku bunga pada bulan ini berada di sekitar 22 persen, turun dari sekitar 70 persen pada awal pekan.

CME menjelaskan bahwa FedWatch menggunakan harga futures untuk menghitung probabilitas perubahan target suku bunga pada setiap pertemuan FOMC.

Perubahan tersebut secara fundamental seharusnya menjadi faktor pendukung bagi emas karena ekspektasi suku bunga yang lebih rendah mengurangi opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil.

Namun, pasar obligasi menunjukkan persoalan yang berbeda. Yield Treasury tetap tinggi, sementara inflasi AS belum sepenuhnya kembali ke target Federal Reserve.

Reuters mencatat inflasi masih menjadi pertimbangan utama bagi bank sentral dalam menentukan langkah berikutnya.

Dengan demikian, data tenaga kerja yang lemah tidak otomatis berarti tekanan terhadap emas berakhir.

Pasar masih menunggu data inflasi berikutnya dan komunikasi pejabat The Fed untuk melihat apakah perlambatan tenaga kerja cukup kuat untuk mengubah arah kebijakan moneter.

Emas Sudah Kehilangan Lebih dari 20 Persen 

Tekanan tersebut membuat koreksi emas semakin terlihat dalam beberapa pekan terakhir.

Reuters mencatat harga emas telah turun lebih dari 20 persen sejak konflik AS-Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari, dengan salah satu faktor tekanan berasal dari kekhawatiran bahwa konflik dan kenaikan harga energi dapat mempertahankan inflasi tinggi sehingga suku bunga AS berada pada level tinggi lebih lama.

Kondisi ini menciptakan hubungan yang cukup kompleks bagi emas. Di satu sisi, ketegangan geopolitik biasanya meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.

Namun di sisi lain, apabila konflik mendorong harga minyak dan energi naik, inflasi dapat kembali meningkat.

Hal tersebut berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat dan meningkatkan yield obligasi, yang justru menjadi tekanan bagi emas.

Harga minyak Brent yang masih berada di atas USD100 per barel juga menjadi bagian dari risiko inflasi tersebut. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi sekaligus memperbesar tekanan terhadap harga konsumen.

Tekanan Teknikal Masih Terbuka

Analis Marex Edward Meir, mengatakan gambaran teknikal emas masih terlihat lemah. Menurutnya, harga emas masih berpotensi mengalami tekanan apabila siklus kenaikan suku bunga kembali berlanjut.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pasar emas kini tidak hanya memperhatikan data ekonomi aktual, tetapi juga perubahan ekspektasi terhadap arah suku bunga.

Pelemahan data tenaga kerja memang mengurangi peluang kenaikan suku bunga dalam jangka sangat pendek, tetapi belum cukup untuk menghilangkan risiko kebijakan moneter ketat.

Di pasar logam mulia lainnya, perak turun 0,8 persen menjadi USD60,36 per ounce, platinum melemah 2 persen menjadi USD1.692,90, sedangkan palladium turun 0,5 persen menjadi USD1.165,75.

Ketiganya juga berada dalam posisi mencatat penurunan mingguan.

Dengan demikian, pergerakan emas pada pekan berikutnya akan sangat bergantung pada kombinasi data inflasi AS, pergerakan yield Treasury, dolar AS, serta komunikasi pejabat Federal Reserve.

Pelemahan pasar tenaga kerja telah menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Oktober, tetapi tingginya yield dan kekhawatiran inflasi membuat tekanan terhadap emas belum sepenuhnya berakhir.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.