Upaya tersebut untuk memperluas lahan Kampung Haji Indonesia di Makkah dan Madinah.
Chief Executive OfficerDanantara Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, Indonesia telah memiliki tanah di Makkah. Tanah tersebut berstatus hak milik.
Luas tanah yang dimiliki Indonesia saat ini mencapai puluhan hektare. Menurut Rosan, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang diizinkan memiliki tanah dan bangunan di Makkah dan Madinah.
Menurut Rosan, kepemilikan tersebut merupakan hasil pembicaraan Presiden Prabowo dengan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman.
“Dan Bapak Presiden menyampaikan ke saya, jangan berhenti di situ, coba bicara lagi dengan Pemerintah Arab Saudi untuk diberikan lahan yang lebih besar dan juga lebih dekat.
Karena untuk menampung sebegitu banyak jemaah haji dan umrah, tentunya masih kurang,” ungkap Rosan dalam acara pelantikan pengurus Masyarakat Ekonomi SyariahProvinsi Jawa Tengah periode 2026-2031 di Hotel Padma, Kota Semarang, Jumat, 2 Oktober 2026.
Rosan yang juga menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariahmengatakan, kebutuhan lahan berkaitan dengan jumlah jamaah Indonesia.
Menurutnya, jumlah jemaah umrah Indonesia mencapai hampir dua juta orang setiap tahun. Sementara jemaah haji berkisar 220 ribu hingga 240 ribu orang setiap tahun.
Danantara Bangun 13 Tower di Makkah
Danantara rencananya akan membangun 13 tower di Kampung Haji IndonesiaMakkah. Pembangunan tersebut ditargetkan mulai akhir 2026.
Proses pembangunan bahkan ditargetkan berlangsung paling cepat November 2026.
“Alhamdulillah, boleh saya sampaikan bahwa kita sudah membeli hotel sebanyak 1.461 kamar dan juga sudah membeli tanah seluas hampir 5,4 hektare yang akan dibangun 13 tower.
Dan jaraknya, karena itu ada tolnya, kurang lebih 1,5 kilometer dari Masjidil Haram,” ucap Rosan.
Menurut Rosan, persiapan pembangunan 13 tower tersebut sudah berjalan. Saat ini, rancangan pembangunan tengah disiapkan.
“Jadi mungkin sekarang sedang digambar. Insyaallah nanti pembangunannya bisa kita mulai di akhir tahun ini atau awal bulan depan,” ujarnya.
Rosan menargetkan pembangunan 13 tower tersebut rampung pada 2029.
“Harapannya kalau ada yang ke Tanah Suci di Makkah, kalau mau melihat atau bahkan tinggal di hotel yang dimiliki oleh Danantara sekarang di Tanah Suci Makkah, nanti kita bisa bekerja sama dan juga sediakan tempatnya,” kata dia.
Rosan mengatakan, pemerintah Indonesia telah berupaya memiliki Kampung Haji di Makkah dan Madinah selama 30 hingga 35 tahun.
Menurutnya, upaya tersebut kini membuahkan hasil. Pemerintah Arab Saudi telah memberikan izin kepemilikan tanah kepada Indonesia.
“Karena sudah secara resmi Pemerintah Arab Saudi mengeluarkan surat kepada Pemerintah Indonesia, kepada Danantara, untuk memiliki hak milik, bukan sewa, hak milik untuk memiliki tanah di Makkah dan Madinah,” ucapnya.
Rosan mengatakan, proses tersebut membutuhkan perjalanan panjang. Ia bahkan mengaku delapan kali bertolak ke Arab Saudi dalam 12 bulan.
Perjalanan tersebut dilakukan untuk menunjukkan keseriusan Indonesia dalam memiliki lahan di Tanah Suci.
“Untuk menunjukkan bahwa kita memang serius, kita memang mempunyai dananya, dan Alhamdulillah, setelah proses panjang ini Pemerintah Arab Saudi mengubah undang-undangnya sehingga institusi asing boleh memiliki tanah di Makkah dan Madinah sejak Januari tahun ini,” ujar.
Setelah memperoleh kesempatan kepemilikan tersebut, Danantara kini berupaya memperluas lahan. Rosan mengatakan, lahan tambahan dibutuhkan untuk menampung jamaah haji dan umrah Indonesia yang terus datang setiap tahun.
Upaya tersebut juga menjadi bagian dari rencana pengembangan Kampung Haji Indonesia di Makkah dan Madinah.
Target Tampung 22.000 Jemaah
Upaya memperkuat layanan haji dan umrah Indonesia di Arab Saudi mulai diarahkan pada pembangunan ekosistem kawasan, bukan sekadar penyediaan akomodasi.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantaramenargetkan pengembangan Kompleks Haji di Makkah yang pada tahap awal diproyeksikan mampu menampung sekitar 22.000 jemaah, atau setara sekitar 10 persen dari total jemaah haji Indonesia setiap tahun.
Fondasi awal proyek tersebut berada di Kawasan Thakher, Makkah. Kawasan ini telah memiliki aset eksisting berupa Novotel Thakher Makkah dan menjadi bagian penting dari rencana pengembangan jangka panjang Danantara.
Kawasan Thakher memiliki luas sekitar 4,4 hektare dan berjarak sekitar 2–3 kilometer dari Masjidil Haram. Saat ini telah berdiri tiga menara dengan total sekitar 1.461 kamar.
Selain aset hotel yang telah beroperasi, kawasan tersebut juga memiliki sekitar 14 plot lahan yang dapat dikembangkan untuk kebutuhan komersial dan fasilitas pendukung.
Struktur aset tersebut menjadi basis awal bagi Danantara untuk memperluas fungsi kawasan. Pengembangannya diarahkan tidak hanya untuk menambah kamar hotel, tetapi juga membangun pusat layanan jamaah yang terintegrasi.
Fasilitas yang disiapkan mencakup area ritel, dukungan logistik, serta layanan penunjang kebutuhan jemaah haji dan umrah.
Dengan konsep tersebut, Kawasan Thakher diarahkan menjadi sebuah ekosistem layanan yang dapat digunakan selama periode penyelenggaraan haji maupun di luar musim haji.
“Kami ingin membangun ekosistem, bukan hanya hotel. Kawasan Thakher kami siapkan sebagai basis pengembangan layanan jamaah Indonesia yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan,” ujar Pandu.
Danantara Ikuti Lelang Kawasan Makkah
Selain mengembangkan aset yang sudah dimiliki, Danantara juga mencermati peluang memperoleh kawasan tambahan melalui mekanisme lelang yang dikelola Royal Commission for Makkah City and Holy Sites
RCMC merupakan otoritas yang menangani arah pengembangan Kota Makkah dan kawasan situs suci. Sejumlah plot ditawarkan dengan karakteristik lokasi, peruntukan, serta jarak berbeda dari Masjidil Haram.
Dalam mekanisme tersebut, investor harus melalui tahapan penawaran, evaluasi teknis dan finansial, hingga proses seleksi.
Karena itu, keterlibatan Danantara dalam proses tersebut belum serta-merta berarti seluruh lahan yang dijajaki akan diperoleh.
Strategi Danantara berjalan melalui dua jalur. Pertama, memperkuat Kawasan Thakher yang telah memiliki aset dan lahan.
Kedua, menjajaki kawasan lain melalui proses RCMC, termasuk lokasi yang berpotensi lebih dekat dengan pusat aktivitas haji dan umrah.
Groundbreaking Ditargetkan 2026
Pengembangan lanjutan Kawasan Thakher ditargetkan memasuki tahap groundbreaking pada 2026, sedangkan hotel tambahan diproyeksikan mulai beroperasi pada 2029.
Realisasi tersebut tetap bergantung pada kesiapan desain, perizinan, konstruksi, serta tahapan investasi.
Dari sisi skala, kapasitas awal sekitar 22.000 jemaah menunjukkan proyek ini dirancang sebagai bagian dari infrastruktur layanan haji dalam jangka panjang.
Dengan basis 1.461 kamar yang sudah tersedia dan lahan tambahan yang dapat dikembangkan, Danantara memiliki fondasi awal untuk membangun kawasan dengan fungsi yang lebih luas daripada hotel.
Investasi pun disiapkan secara bertahap, mulai dari optimalisasi aset eksisting hingga belanja modal untuk pembangunan fasilitas baru.
Pola tersebut membuat pengembangan Kompleks Haji Danantara berlangsung dalam beberapa tahap, sejalan dengan kesiapan lahan, perizinan, kebutuhan layanan jamaah, serta hasil penjajakan kawasan tambahan di Makkah.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.