MUI Minta Suahasil Integrasikan Ekonomi Syariah ke dalam Kebijakan Fiskal NegaraIHSG Diproyeksi Masih Rawan Koreksi, Level 6.370 Jadi Penentu Arah Pergerakan
Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah pesawat tempur Arab Saudi menggempur Yaman. Di saat yang sama, kelompok Houthi yang didukung Iran meluncurkan drone dan rudal ke sejumlah kota di Arab Saudi.
Kelompok Houthi yang sejak pekan lalu bergerak di sejumlah wilayah Yaman sepanjang Laut Merah juga mengaku kembali menyerang Yanbu.
Citi memperkirakan eskalasi konflik dalam jangka pendek masih akan menopang harga minyak mentah dan produk olahan.
Bank tersebut memperkirakan Selat Hormuz baru berpotensi dibuka kembali pada kuartal IV 2026 dengan dukungan diplomasi regional.
Dalam situasi tersebut, diesel menjadi perhatian utama pasar minyak global. Timur Tengah merupakan salah satu pemasok utama diesel sekaligus jenis minyak mentah yang paling cocok untuk memproduksi bahan bakar tersebut.
Pasokan diesel juga semakin tertekan setelah serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak Rusia mengganggu produksi negara tersebut. Akibatnya, harga diesel mencatat rekor tertinggi.
Kontrak berjangka gasoil Eropa yang menjadi acuan harga diesel ditutup pada rekor tertinggi pada Selasa. Kontrak diesel sulfur ultra-rendah Amerika Serikat juga mencatat rekor tertinggi pada hari yang sama.
“Eropa kehilangan pasokan diesel dan bahan bakar jet dalam jumlah besar dari Timur Tengah.
Pada saat yang sama, ketegangan yang terus berlangsung di Eropa Timur mengganggu produksi sejumlah kilang minyak utama Rusia dan mendorong Moskow membatasi ekspor bahan bakar,” ujar analis pasar Frank Walbaum.
Pemerintah Rusia juga memutuskan memperpanjang pembatasan ekspor diesel bagi produsen bahan bakar hingga akhir Oktober. Laporan harian Vedomosti menyebut keputusan tersebut bersumber dari dua sumber yang tidak disebutkan namanya.
“Saya memperkirakan, kecuali terjadi kesepakatan damai atau situasi di Rusia membaik, harga diesel akan tetap mendapat dukungan,” kata Staunovo dari UBS.
Harga minyak boleh turun hari ini.
Namun, selama Selat Hormuz belum kembali normal, kilang Rusia masih terganggu, dan konflik Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda, pasar energi tampaknya belum punya alasan untuk benar-benar santai.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.