Pemicunya datang dari sinyal positif hubungan Amerika Serikat dan Iran usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut pertemuan kedua negara di Qatar berlangsung dengan baik.
Dilansir dari Reuters, Kontrak minyak mentah Brent turun USD1,60atau 2,19 persen menjadi USD71,35 per barelSementara minyak mentah West Texas IntermediateAmerika Serikat melemah USD1,21atau 1,74 persen ke level USD68,28 per barel
Pelemahan tersebut membuat kedua acuan harga minyak itu menyentuh level terendah dalam lebih dari empat bulan terakhir.
Analis Saxo Bank Ole Hansen menilai pasar mulai melihat proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran sebagai perkembangan yang membawa angin segar bagi pasokan energi global.
“Negosiasi yang saat ini berlangsung di Qatar dipandang berjalan positif dan hal itu membuat harga minyak terus bergerak turun,” ujar Hansen.
Ia bahkan memperkirakan tekanan terhadap harga minyak masih bisa berlanjut. “Ada peluang kita akan melihat harga yang lebih rendah lagi,” katanya.
Sentimen pasar semakin menguat setelah Trump menyampaikan bahwa hubungan Washington dengan Teheran menunjukkan perkembangan yang baik.
“Kami berhubungan dengan sangat baik dengan Iran dan pertemuan-pertemuan yang baru-baru ini berlangsung di Qatar berjalan dengan baik,” kata Trump.
Pada hari yang sama, Amerika Serikat dan Iran juga menggelar pembicaraan teknis di Doha.
Berdasarkan informasi dari sumber yang mengetahui langsung jalannya negosiasi serta seorang pejabat Iran, kedua negara tengah berupaya mencapai kesepakatan mengenai kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz sekaligus mengamankan gencatan senjata yang lebih permanen.
Meski demikian, kedua negara masih menunjukkan perbedaan pandangan mengenai makna kesepakatan sementara yang telah dicapai. Dalam sepekan terakhir, Washington dan Teheran juga masih saling melancarkan serangan militer.
Sementara itu, dari sisi fundamental pasar, stok minyak mentah Amerika Serikat kembali mengalami penurunan.
Badan Informasi Energi Amerika Serikat melaporkan persediaan minyak mentah turun 3,8 juta barel menjadi 408,4 juta barel pada pekan lalu.
Jumlah tersebut menjadi level terendah sejak September 2018. Penurunan dipicu meningkatnya aktivitas kilang dalam negeri menjelang libur panjang Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli.
Namun demikian, penurunan stok tersebut masih lebih kecil dibanding ekspektasi analis dalam survei Reuters yang sebelumnya memperkirakan penurunan mencapai 4,5 juta barel.
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.