Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata menilai, pergerakan IHSG masih akan sangat dipengaruhi kondisi regional dan global, terutama arah suku bunga bank sentral Amerika Serikatatau Federal Reserve, kenaikan harga minyak, serta tensi geopolitik.
Pada perdagangan Jumat 11 September 2026, IHSG ditutup di level 6.541,38, melemah 47,96 poin atau 0,73 persen.
Indeks sempat menyentuh level terendah 6.462,96, dengan level 6.500 menjadi salah satu area krusial yang perlu diperhatikan investor.
Liza mengatakan, sentimen dari The Fed menjadi salah satu faktor yang berpotensi membebani pasar saham. Ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga AS kini kembali mengarah pada kenaikan.
“Yang membentuk IHSG belakangan ini bisa dibilang dari kondisi regional juga. Apalagi ini proyeksi kenaikan suku bunga The Fed. Nah, ini semakin tinggi.
Menurutnya, tekanan terhadap ekspektasi suku bunga AS juga datang dari perkembangan inflasi di Negeri Paman Sam.
Inflasi pada level produsen maupun konsumen dinilai masih menunjukkan tekanan, sementara ketegangan geopolitik turut memperbesar risiko terhadap harga komoditas, terutama minyak.
Kondisi tersebut membuat harga minyak kembali menjadi perhatian pasar.
Liza menyebut, harga minyak Brent telah mendekati USD110 per barel, sedangkan West Texas Intermediateyang menjadi salah satu patokan harga minyak global telah berada di kisaran USD104-105 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut turut menjadi persoalan bagi Indonesia karena harga minyak telah berada di atas asumsi yang digunakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja NegaraPemerintah sebelumnya menggunakan asumsi harga minyak sebesar USD90 per barel.
“Intinya harga minyak sudah balik ke harga USD100 per barel ini. Ini siap-siap saja.
Negara harus, satu, memperbesar anggaran subsidi energi BBM atau dua, naikkan harga bensin. Jadi siap-siap saja para rakyat ini mungkin akan ada kenaikan harga BBM lagi,” jelasnya.
Liza melanjutkan, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan terhadap perekonomian apabila berlangsung dalam waktu yang lebih panjang.
Selain berdampak terhadap kebutuhan subsidi energi, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan ruang kebijakan pemerintah.
Di pasar keuangan, tekanan untuk IHSG pada semester kedua juga terlihat dari kenaikan yield obligasi di berbagai negara.
Menurut Liza, pergerakan tersebut berkaitan dengan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang dinilai berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
“Kalau suku bunga naik, yield obligasi naik, maka dampaknya ke market bagaimana? Ke equity market. Biasanya aset berisiko akan dihindari dulu,” kata Liza.
Dia menilai ekspektasi pasar terhadap suku bunga The Fed kini telah berubah cukup signifikan. Jika pada awal tahun investor berharap suku bunga AS turun, proyeksi tersebut mulai kehilangan pijakan.
Bahkan, berdasarkan survei terhadap ekspektasi Fed Fund Rate, suku bunga diperkirakan tidak kembali turun hingga akhir 2027 dan justru berpotensi meningkat.
“Jadi suku bunga The Fed yang dari awal tahun itu katanya akan turun, ini sudah enggak kelihatan lagi sampai tahun depan. Yang ada malah naik.
Sekarang mereka di level 3,5 sampai 3,75 persen. Itu enggak bakalan turun lagi sampai akhir 2027.
Malah diperkirakan naik 75 bps, menjadi 4,25 sampai 4,5 persen,” tuturnya.
Kondisi suku bunga global tersebut menjadi tantangan bagi pasar saham Indonesia pada paruh kedua 2026.
Investor diprediksi akan cenderung lebih selektif dalam menempatkan dana ketika imbal hasil aset berpendapatan tetap meningkat, dan ketidakpastian pasar global masih tinggi.
Tekanan tersebut semakin besar pada September ini. Liza menyebut secara historis September menjadi salah satu bulan yang kurang bersahabat bagi IHSG.
Berbeda dengan Juli dan Agustus yang cenderung mencatatkan kinerja positif, September dalam catatan historis 10 tahun terakhir justru lebih sering berada di zona merah.
“September itu secara historis merupakan bulan merah. Tidak seperti Juli Agustus yang hijau kemarin.
Selama 10 tahun terakhir September itu selalu bulan merah. Jadi chance-nya IHSG menghijau di bulan ini menurut kami kurang dari 40 persen,” jelas Liza.
Liza: Investor Wajib Perhatikan Tren Level IHSG Saat ini
Berikutnya, Liza melihat level IHSG saat ini perlu lebih diperhatikan investor. IHSG pada perdagangan 11 September 2026 ditutup di level 6.541,38 setelah bergerak dalam rentang 6.462,96 sampai 6.552,79.
Menurut perempuan ramah tersebut, indeks setidaknya perlu kembali menguat dan bertahan di sekitar level 6.550 hingga 6.600 untuk menjaga momentum.
Sebaliknya, penurunan lebih dalam hingga menembus 6.500 berpotensi mengganggu tren kenaikan IHSG yang sebelumnya terbentuk.
“Sekarang 6.521. Kita harus nangkring setidaknya di 6.550. 6.600 deh amannya. Apalagi kalau tembus ke bawah 6.500.
Tadi terendah sudah 6.400 sampai 6.200. Nah, ini artinya tren naik IHSG mulai kacau,” kata Liza.
Meski menghadapi sejumlah tekanan, Kiwoom Sekuritas belum mengubah pandangannya terhadap IHSG untuk keseluruhan 2026. Untuk target akhir tahun, perusahaan sekuritas tersebut memilih menggunakan proyeksi yang konservatif.
Liza menyatakan, level 7.000 menjadi target yang dinilai cukup realistis bagi IHSG hingga penghujung tahun apabila melihat kondisi pasar yang masih sangat dinamis.
“Untuk target IHSG akhir tahun, kita dari Kiwoom Sekuritas konservatif saja. Asal bisa masuk kepala tujuh saja atau 7.000 itu sudah cukup bagus buat kita. Kita konservatif, sudah gitu saja,” ujarnya.
Namun, Liza menekankan proyeksi IHSG semester II 2026 tidak dapat dilepaskan dari perkembangan global yang bergerak cepat.
Perubahan kebijakan bank sentral, harga komoditas, kondisi geopolitik, serta pergerakan pasar obligasi dapat mengubah arah pasar saham dalam waktu singkat.
Karena itu, Kiwoom Sekuritas akan terus memantau perkembangan pasar secara berkala. Proyeksi semester II 2026, menurut Liza, tetap perlu dievaluasi dari waktu ke waktu seiring perubahan kondisi ekonomi dan pasar global.
“Dengan kondisi dunia yang dinamikanya cepat berubah-ubah seperti ini, mau enggak mau harus kita monitor lagi from time to time,” pungkasnya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.