Pipa Minyak Saudi Ditutup saat Houthi Makin Menguasai Laut Merah

Pemerintah Buka Rekening untuk 200 Juta Warga, INDEF: Ada Risiko Salah Sasaran dan Rekening DormantMemahami Kenapa Target 2026 Medcotak Naik Meski Produksi Tembus Batas Atas Guidance

Iran menyebut Houthi sebagai sekutu, tetapi secara terbuka membantah memberikan arahan militer. Teheran bahkan menyatakan Houthi bukan kelompok proksi Iran.

Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan pelayaran laut tetap aman bagi seluruh kapal, kecuali kapal-kapal Saudi yang menjadi sasaran larangan yang sebelumnya telah diumumkan.

Namun, bagi industri minyak, kalimat bahwa pelayaran masih aman tentu tidak serta-merta membuat pasar bisa tidur nyenyak.

Saudi Minta Bantuan Trump

Tekanan yang semakin besar di sekitar jalur energi membuat Arab Saudi akhirnya meminta bantuan Washington.

Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman disebut menelepon Presiden Amerika Serikat Donald Trump setidaknya dua kali pada Kamis untuk meminta bantuan militer dalam menghadapi Houthi.

Informasi tersebut disampaikan dua sumber yang mengetahui persoalan itu kepada Reuters.

Washington untuk sementara belum bersedia melakukan aksi militer langsung. Dua sumber tersebut mengatakan Amerika Serikat hanya menawarkan bantuan berupa berbagi intelijen dan dukungan penentuan sasaran.

Gedung Putih tidak menjawab pertanyaan Reuters mengenai komunikasi telepon antara kedua pemimpin tersebut.

Namun, seorang pejabat senior pemerintahan Amerika Serikat yang berbicara secara anonim mengatakan Washington terus melakukan dialog dengan Saudi dan pemerintah Yaman.

Situasi ini menjadi semakin sensitif karena kenaikan harga bahan bakar selama perang sudah mulai membawa konsekuensi politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu kongres November.

Di sisi lain, Badan Energi Internasional menyatakan pasokan minyak mentah Saudi telah jatuh ke level terendah dalam lebih dari tiga dekade.

Salah satu penyebabnya adalah serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Bab el-Mandeb oleh kelompok yang terkait dengan Houthi.

Dengan Selat Hormuz yang tersendat, Laut Merah yang semakin panas, pipa minyak Saudi yang ditutup, dan harga minyak kembali bercokol di atas USD100 per barel, pasar energi global kini menghadapi situasi yang jauh lebih pelik.

Sebab dalam perang, minyak tidak perlu ikut mengangkat senjata untuk membuat dunia terkena dampaknya.

Cukup satu pipa berhenti mengalir, satu selat terganggu, dan harga di pom bensin di berbagai negara bisa ikut merasakan panasnya Timur Tengah.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.