Hilirisasi 28 Komoditas Butuh USD618 Miliar, Airlangga Bidik Ekspor RI USD857 Miliar

RI Ketinggalan Vietnam, Airlangga Bongkar Jurus Mengejar Ekonomi Sembilan PersenDPR Tagih Perlindungan OJK-BEI Terhadap Investor Ritel saat IHSG Ambruk 30 Persen

Lonjakan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi mampu mengubah posisi nikel dari sekadar komoditas yang dijual dalam bentuk mentah menjadi bagian dari rantai industri dengan nilai ekspor jauh lebih besar.

Tetapi di sinilah persoalannya. Nilai ekspor yang melonjak tidak otomatis berarti seluruh kenaikan tersebut berubah menjadi nilai tambah yang tinggal di Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sepanjang 2025 Indonesia masih mengimpor bahan baku dan barang penolong senilai USD169,30 miliarPada tahun yang sama, impor barang modal mencapai USD50,13 miliar

Jika dua kelompok tersebut digabungkan, nilainya mencapai sekitar USD219,43 miliarAngka tersebut mencakup kebutuhan ekonomi nasional secara keseluruhan, sehingga tidak bisa serta-merta dianggap sebagai biaya impor untuk proyek hilirisasi.

Namun, besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa proses industrialisasi Indonesia masih sangat membutuhkan pasokan dari luar negeri.

Di titik inilah riset Bank Dunia soal kebijakan nikel Indonesia memberikan catatan yang menarik. Studi tersebut menemukan bahwa larangan ekspor nikel memang meningkatkan rasio nilai tambah domestik pada industri pengguna nikel.

Namun, penelitian yang sama menemukan adanya persoalan efisiensi dan ketergantungan yang masih tinggi terhadap baja impor.

Jadi ceritanya tidak sesederhana bijih nikel berhenti diekspor lalu nilai tambah otomatis menetap di dalam negeri. Ada rantai yang lebih panjang.

Indonesia harus membangun smelter, menyediakan energi, mendatangkan mesin, memperoleh bahan penolong, dan memastikan industri hilir memiliki pasar.

Semakin panjang rantainya, semakin besar pula pekerjaan rumah untuk memastikan sebanyak mungkin nilai ekonomi berhenti di dalam negeri.

Karena itu, target ekspor yang besar perlu dibaca bersama dengan struktur impor dan kemampuan industri domestik memasok kebutuhan produksi.

Apalagi pemerintah memperkirakan peta jalan hilirisasi 28 komoditas dapat menghasilkan investasi USD618,1 miliar, ekspor USD857,6 miliar, dan nilai tambah USD235,9 miliarAngka tersebut disampaikan Airlangga dalam pemaparan mengenai transformasi industri dan hilirisasi.

Dengan target sebesar itu, ukuran keberhasilan hilirisasi pada akhirnya bukan cuma soal berapa banyak smelter berdiri atau berapa besar ekspor meningkat.

Yang lebih penting adalah berapa bagian dari setiap dolar ekspor tersebut yang benar-benar menjadi nilai tambah domestik, masuk ke industri nasional, menciptakan pekerjaan, dan tidak kembali keluar dalam bentuk pembayaran atas bahan baku, mesin, teknologi, atau input produksi dari luar negeri.

Sebab kalau ekspor naik dua kali lipat tetapi ketergantungan impor ikut berlari, pemerintah tetap perlu menjawab satu pertanyaan yang agak mengganggu.

Hilirisasi Indonesia sedang memperbesar nilai tambah nasional, atau sekadar memindahkan bentuk barang yang diekspor?

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.