IHSG Dibuka Hijau Usai Menguat 0,38 Persen ke Level 6.644

IHSG Menguat di Sesi I: MEDS Jadi Bintang, Bank Jumbo HijauMEDS Meroket 33 Persen, Fundamental Pulih atau Sekadar Euforia Abu Vulkanik?

Berbicara sentimen global, Nafan mencermati perihal data ketenagakerjaan AS yang jauh lebih kuat dari ekspektasi. US nonfarm payrolls periode Agustus bertambah 162.000, dibanding konsensus sekitar 56.000.

Menurut dia, kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar bahwa The Fed masih akan bersikap hawkish atau menahan suku bunga tinggi lebih lama.

“Sehingga membayangi pergerakan bursa saham emerging market termasuk Indonesia,” jelasnya.

“Adapun Senin merupakan Labor Day sehingga NYSE dan Nasdaq libur. Hal ini membuat pasar Asia termasuk IHSG belum mendapatkan price discovery baru dari Wall Street,” tambah dia.

Sementara itu, harga minyak Brent telah naik sekitar 1,03 pesen ke level USD97,31 per barel akibat eskalasi konflik Amerika Serikat-Iran dan kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz.

Bagi Indonesia yang merupakan net importer minyak, jelas Nafan, harga minyak tinggi dapat memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan, inflasi, rupiah, dan margin perusahaan tertentu.

“Di sisi lain, para pelaku investor global juga kemungkinan masih bersifat wait and see menjelang data inflasi AS, terutama PPI pada 10 September dan CPI pada 11 September, karena kedua data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan The Fed pada pertemuan September,” ujarnya.

Dari sisi domestik, Nafan mencatat Rupiah terapresiasi 0,01 persen pada level Rp17.640/USD pada penutupan Senin kemarin.

Hal ini tidak lepas dari dukungan kenaikan cadangan devisa periode Agustus 2026 yang dilaporkan meningkat menjadi sekitar USD146,5 miliar, sehingga memberikan bantalan positif terhadap stabilitas eksternal Indonesia.

“Bahkan terjadi aksi rotasi sektor domestik dimana meskipun saham big-cap perbankan dan berbobot besar masih tertahan, beberapa saham berbasis komoditas dan industri ritel/konsumer pilihan masih mendapatkan aksi beli selektif yang dapat menahan penurunan IHSG lebih dalam,” terang dia.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.