Ribuan Penerbangan Terganggu, Ekonom Bongkar Efek Domino Erupsi Anak Krakatau

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mendesak pemerintah untuk mulai menghitung dampak biaya bencana secara utuh dan sistematis, mengingat gangguan konektivitas transportasi udara ini secara nyata memukul rantai pasok serta arus kas perekonomian nasional.

Data Kementerian Perhubungan per Selasa, 8 September 2026, mencatat sebanyak 2.961 penerbangan terganggu akibat paparan abu vulkanik, terdiri atas 2.339 penerbangan domestik dan 622 penerbangan internasional.

Dampak langsung tersebut memaksa sedikitnya 341 ribu penumpang mengalami pembatalan, penundaan, hingga pengalihan jadwal terbang.

“Apa yang sebenarnya berhenti ketika delapan bandara ditutup akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau?

Apakah hanya pesawat yang tidak terbang, atau sebagian perputaran ekonomi Indonesia ikut terhenti?” ujar Achmad Nur Hidayat kepada , Selasa, 8 September 2026.

Ia menegaskan bahwa persoalan ekonomi tidak lantas selesai hanya karena pesawat kembali terbang dan bandara kembali beroperasi.

Erupsi Anak Krakatau merupakan sebuah stress test nyata terhadap ketahanan konektivitas ekonomi Indonesia yang membuktikan betapa rapuhnya jaringan transportasi nasional karena terlalu bertumpu pada beberapa simpul utama, khususnya Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Menurutnya, kesalahan terbesar pemerintah dan pemangku kepentingan dalam membaca dampak erupsi ini adalah hanya menghitung kerugian finansial dari nilai tiket pesawat yang batal atau penurunan pendapatan maskapai semata.

“Orang tidak membeli tiket pesawat sekadar untuk berpindah tempat. Mereka bepergian untuk bekerja, berbisnis, berwisata, berdagang, mengikuti kegiatan pendidikan, atau mengirim barang.

Ketika penerbangan berhenti, transaksi ekonomi di belakang perjalanan tersebut ikut terganggu,” tegas Achmad.

Di antara 341 ribu penumpang terdampak, terdapat jutaan rantai aktivitas ekonomi yang terputus, mulai dari pekerja yang terlambat bekerja, pengusaha yang kehilangan kesepakatan bisnis, wisatawan yang membatalkan penginapan, hingga alur distribusi logistik barang yang terhenti.

Achmad memberikan kalkulasi ilustrasi konservatif di mana jika setiap penumpang terdampak harus mengeluarkan biaya tambahan rata-rata Rp500 ribu untuk penginapan, konsumsi, moda transportasi darat alternatif, atau biaya re-book tiket, maka ada sekitar Rp170,5 miliar biaya ekstra yang harus diserap secara mendadak oleh masyarakat dan dunia usaha.

“Angka itu bukan kerugian PDB secara langsung karena sebagian menjadi pendapatan hotel atau restoran. Akan tetapi, bagi rumah tangga dan perusahaan yang tidak merencanakannya, itu merupakan guncangan terhadap arus kas.

Tambahan pengeluaran ratusan ribu hingga jutaan rupiah dapat menjadi tekanan serius bagi pekerja, mahasiswa, pelaku UMKM, dan keluarga kelas menengah,” urainya.

Dampak dari bencana ini membengkak secara eksponensial mengingat Bandara Soekarno-Hatta memegang peran vital sebagai pilar utama jaringan ekonomi nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Produk Domestik Regional BrutoJakarta pada triwulan II 2026 saja mencapai sekitar Rp1.058 triliun atas dasar harga berlaku, di mana kelancaran transaksi bisnisnya sangat bergantung pada konektivitas udara.

Sektor kargo udara yang kerap terabaikan juga menanggung efek dominan.

BPS mencatat sepanjang 2025 penerbangan domestik Indonesia mengangkut sekitar 671 ribu ton barang bernilai tinggi dan sensitif terhadap waktu, seperti komponen elektronik, produk farmasi, komoditas e-commerce, dan suku cadang industri.

Keterlambatan pasokan komponen kecil ini dinilai sanggup menghentikan proses manufaktur yang nilainya jauh lebih besar.

“Satu penerbangan yang batal sebenarnya dapat berarti puluhan bahkan ratusan transaksi yang tidak pernah terjadi.

International Air Transport Associationmemperkirakan transportasi udara beserta aktivitas ekonomi pendukungnya berkontribusi sekitar 62,6 miliar dolar AS atau 4,6 persen terhadap PDB Indonesia dan terhubung dengan enam juta lapangan kerja.

Oleh karena itu, gangguan ribuan penerbangan tidak dapat dipandang sekadar masalah operasional maskapai,” kata Achmad.

Risiko Geologi Tinggi

Achmad menegaskan bahwa sebagai negara dengan risiko geologi tinggi, Indonesia tidak boleh lagi merancang sistem transportasi yang hanya efisien dalam kondisi normal, melainkan harus tangguhsaat krisis datang.

Penyiapan bandara alternatif seperti Kertajati, Ahmad Yani, Adi Soemarmo, Yogyakarta International Airport, dan Juanda harus dinaikkan statusnya menjadi sistem redundancy permanen yang terintegrasi penuh dengan jalan tol dan kereta api kargo.

Ia memformulasikan lima langkah strategis yang harus segera dieksekusi pemerintah, meliputi penguatan fungsi bandara alternatif sebagai kapasitas cadangan permanen, integrasi moda transportasi darat-udara, penyusunan protokol pengalihan kargo dan penumpang secara terstandar, modernisasi pemantauan abu vulkanik, serta transparansi penghitungan kerugian ekonomi bencana.

“Pemerintah perlu mulai menghitung kerugian ekonomi bencana secara sistematis, bukan hanya jumlah penerbangan batal. Kerugian pariwisata, kehilangan jam kerja, gangguan kargo, dan dampak UMKM harus dihitung.

Tanpa mengetahui harga sebuah gangguan, pemerintah sulit menentukan berapa besar investasi mitigasi yang layak dilakukan,” paparnya.

Achmad mengingatkan agar pemerintah dan pemangku kebijakan tidak kembali membiarkan isu kerapuhan konektivitas ini menguap begitu saja setelah abu vulkanik Anak Krakatau bersih dari runway.

“Pesawat akan kembali terbang dan abu akan hilang dari runway. Akan tetapi, jika setelah itu kita kembali melupakan rapuhnya konektivitas ekonomi nasional, kita tidak sedang belajar dari Anak Krakatau. Kita hanya sedang menunggu gangguan berikutnya,” bebernya.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.