Lagi-lagi Saham GOTO ARB!Morgan Stanley Lepas 450 Juta Saham GOTO, Jual di Harga Murah
“Kami memiliki target IHSG sebesar 6.200 hingga akhir tahun, dan target tersebut sudah kami pertahankan cukup lama. Saat ini IHSG berada di sekitar 6.112,” ujar Herald kepada media di Jakarta, Selasa, 29 September 2026.
Jika mengacu pada posisi IHSG 6.095,86, target 6.200 HSBC hanya berjarak sekitar 104 poin atau setara dengan potensi kenaikan sekitar 1,7 persen.
Angka tersebut, menunjukkan HSBC tidak memasang asumsi pemulihan yang tinggi pada IHSG dalam tiga bulan terakhir di tahun ini.
Pergerakan IHSG sepanjang September juga menunjukkan tekanan yang masih membayangi pasar saham domestik. Berdasarkan data perdagangan hingga 30 September 2026, IHSG melemah 429,62 poin atau 6,58 persen dalam sebulan.
Pada perdagangan terakhir selama September, IHSG dibuka di 6.118,05 dan sempat menguat hingga 6.187,05. Namun, indeks kemudian bergerak turun hingga menyentuh level terendah 6.092,84 sebelum berada di 6.095,86 pada pukul 15.05 WIB.
Posisi tersebut juga memperlihatkan IHSG masih berada cukup jauh dari level tertingginya dalam rentang 52 minggu.
Dengan 52-week high di 9.174,47, posisi IHSG saat ini sekitar 33,6 persen lebih rendah dari level tersebut. Di sisi lain, IHSG masih berada sekitar 14,6 persen di atas level terendah 52 minggu sebesar 5.317,91.
Kondisi itu menjadi latar bagi proyeksi HSBC yang menempatkan IHSG di 6.200 hingga akhir tahun. Dengan posisi indeks di sekitar 6.096, target tersebut membutuhkan penguatan sekitar 1,7 persen.
Herald menyatakan, ruang kenaikan IHSG juga berkaitan dengan perkembangan arus modal dan stabilitas rupiah.
Menurut Herald, investor mulai kembali melihat Indonesia setelah sebelumnya perhatian pasar banyak terserap oleh saham, serta perusahaan yang berkaitan dengan tema kecerdasan buatan atau artificial intelligence
“Seperti yang disampaikan Fred (Chief Asia Economist HSBC), rupiah mulai stabil dan arus modal mulai kembali masuk,” katanya.
Perubahan perhatian investor tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi arah pasar saham Asia. Herald menyebut Indonesia saat ini berada di posisi menengah jika dibandingkan dengan pasar saham lain di kawasan.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.