IHSG Dibuka Melemah 0,44 Persen, Beberapa Saham Alami Lonjakan

IHSG Terpeleset di Pembukaan Perdagangan, Tengok Deretan Saham Top Gainers

Diprediksi Lanjut Koreksi

FORU Top Gainers, IHSG Ambruk ke Level 6.277

Harga minyak kemudian sedikit menyusut karena ada kabar bahwa mediator Qatar akan mengadakan pembicaraan dengan dua negara tersebut.

Di sisi lain, terjadi keterbatasan pasokan energi dunia akibat terganggunya lalu lintas kapal tanker di kawasan Timur Tengah.

Nafan mengatakan total pasokan global masih belum mampu mengimbangi tingkat permintaan yang tinggi, sehingga pasar tetap mengalami defisit pasokan, meskipun volume ekspor minyak dari Arab Saudi dan UEA sempat mengalami pemulihan parsial.

“Hal tersebut menyebabkan kenaikan harga crude oil WTI sebesar 0,95 persen di level USD93,29 per barel sehingga turut memperkuat kekhawatiran inflasi global.

Bahkan hal tersebut juga berpotensi memicu kebijakan moneter yang lebih ketat di berbagai negara berkembang maupun negara maju,” katanya.

Sementara dari sisi domestik, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah fase penyesuaian pasar terhadap implementasi harga minimum Rp1 dan perubahan mekanisme FCA atau Papan Pemantauan Khusus.

Nafan menilai penurunan IHSG pada Senin kemarin memang terjadi bersamaan dengan pemberlakuan kebijakan tersebut, sehingga terdapat kemungkinan sebagian investor masih melakukan price discovery dan reposisi portofolio, khususnya pada saham-saham yang sebelumnya berada di harga Rp50 atau masuk kategori FCA.

“Namun, pelemahan IHSG tidak tepat jika hanya dikaitkan dengan kebijakan Rp1, karena pada saat yang sama tekanan juga datang dari rupiah, kenaikan yield global, serta harga minyak,” tuturnya.

Sedangkan dari sisi makro domestik, kata Nafan, rupiah masih menjadi perhatian utama karena sudah terdepresiasi 0,50 persen menjadi Rp17.970 per dolar AS, sementara BI mempertahankan BI Rate di 5,75 persen pada Rapat Dewan GubernurSeptember 2026 lalu dengan perhatian terhadap stabilitas nilai tukar, sehingga ruang untuk pelonggaran moneter agresif menjadi lebih terbatas.

Nafan memandang kondisi tersebut membuat para pelaku investor cenderung lebih selektif terhadap saham yang sensitif terhadap suku bunga dan nilai tukar.

Ia menambahkan bahwa fokus para pelaku pasar di akhir kuartal III-2026 ini berada pada rilis kinerja laporan keuangan kuartal III-2026 yang akan segera dimulai, khususnya dari sektor perbankan maupun konsumer.

“Rilis kinerja keuangan yang melampaui atau sesuai ekspektasi pasar berpotensi menahan laju koreksi IHSG sekaligus memicu aksi pembalikan arah atau technical rebound,” ungkapnya.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.