Pada pembukaan pasar pukul 09.00 WIB, IHSG melaju ke level 6.628,42 atau mengalami kenaikan sebesar 32,65 poin yang setara dengan 0,49 persen dari penutupan sebelumnya.
Laju IHSG di awal sesi ini bergerak pada rentang harga terendah di level 6.623,57 hingga menyentuh level tertinggi sementara di 6.638,60.
Aktivitas perdagangan juga mencatatkan volume sebesar 5,61 juta lot dengan nilai transaksi mencapai 277,94 miliar rupiah dan frekuensi sebanyak 47,01 ribu kali.
Sementara itu, berdasarkan data perdagangan hari sebelumnya, investor asing mencatatkan aksi jual bersihsebesar 326,61 miliar rupiah di seluruh pasar.
Penguatan IHSG dipicu oleh kebangkitan sebagian besar sektor saham di lantai bursa.
Sektor barang bakumemimpin kenaikan dengan menguat 1,31 persen, disusul sektor barang konsumen primeryang naik 1,03 persen, dan sektor energi yang tumbuh 0,95 persen.
Sektor lain yang turut menghijau antara lain kesehatan menguat 0,74 persen, transportasi naik 0,72 persen, infrastruktur melaju 0,65 persen, industri menguat 0,41 persen, properti naik 0,40 persen, barang konsumen non-primertumbuh 0,29 persen, serta keuangan menguat 0,24 persen.
Di sisi lain, hanya sektor teknologi yang bergerak di zona merah dengan koreksi sebesar 1,91 persen.
Sejumlah emiten berhasil menduduki jajaran top gainer pada perdagangan pagi ini. PT Indomobil Sukses Internasional Tbkmemimpin kenaikan pesat hingga 25,00 persen ke level 1.100.
Emiten asuransi PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbkmelesat 19,70 persen ke level 13.825, diikuti PT Indomobil Multi Jasa Tbkyang menguat 19,53 persen ke harga 202.
Selain itu, PT Olympus Strategic Indonesia Tbkmelejit 17,44 persen ke level 1.145 dan PT Satria Antaran Prima Tbkterangkat 14,81 persen menuju harga 310.
Sebaliknya, beberapa saham harus masuk ke dalam daftar top loser. PT Global Digital Niaga Tbkterkoreksi paling dalam hingga 12,32 persen ke level 356.
Emiten pertambangan PT Wilton Makmur Indonesia Tbkmelorot 6,93 persen ke posisi 94, diikuti PT Graha Prima Mentari Tbkyang turun 5,82 persen ke harga 178.
PT Armada Berjaya Trans Tbkjuga melemah 5,41 persen ke level 140, dan emiten energi PT Oxala Energy International Tbktertekan 4,72 persen ke posisi 202.
IHSG Diproyeksi Menguat
Sebelumnya diberitakan, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis, 3 September 2026, meski sehari sebelumnya indeks ditutup melemah tipis dan mulai dibayangi tekanan jual.
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau Didit memperkirakan IHSG tengah berada pada fase lanjutan penguatan. Secara teknikal, pergerakan indeks berpeluang menguji area 6.635 hingga 6.666.
“IHSG terkoreksi 0,06 persen ke 6,595 dan disertai dengan munculnya tekanan jual, area penguatan terdekat yang kami sampaikan pun sudah tercapai.
Kami memperkirakan, posisi IHSG sedang berada pada bagian dari wave v dari wave, sehingga terdapat peluang lanjutan penguatan untuk menguji 6,635-6,666 sekaligus menguji area gap yang terbentuk beberapa waktu lalu,” ujar Didit dalam riset hariannya, Kamis, 3 September 2026.
Menurut Didit, level 6.635 menjadi resistance terdekat IHSG, sedangkan resistance berikutnya berada di 6.705.
Di sisi lain, investor perlu mencermati level support 6.476 dan 6.373 sebagai area penahan apabila indeks kembali mengalami tekanan.
Prospek IHSG September 2026
Kiwoom Sekuritas Indonesia memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabunganakan bergerak menguat pada September 2026.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata menyampaikan IHSG berpeluang ditutup positif sebesar 40–45 persen pada September 2026. Angka ini sedikit di atas rata-rata probabilitas historis 33 persen
“Namun tetap condong ke skenario konsolidasi dengan bias pelemahan jangka pendek,” ujar Liza dalam risetnya, Senin, 31 Agustus 2026.
Liza memperkirakan IHSG bergerak pada kisaran 6.300–6.650 sepanjang September 2026, dengan tekanan terbesar di sekitar “minggu sibuk” bank sentral globaldan rebalancing FTSE Russell
Ia memandang konsolidasi ini sebagai jeda sehat di dalam tren re-rating yang lebih besar, sejalan dengan target akhir tahun 2026 Kiwoom Sekuritas di kisaran 7.250–7.700
“Dengan syarat progres pada lima uji re-rating terus berlanjut menjelang review MSCI November 2026,” jelas Liza.
Katalis dan Risiko yang Harus Diperhatikan
Kiwoom Sekuritas memproyeksikan pergerakan IHSG pada September 2026 bakal diselimuti sejumlah katalis dan risiko.
Dari katalis positif, Kiwoom menyebut kondisi ekonomi dalam negeri masih menunjukkan ketahanan kuat. Hal ini tergambar dari Pertumbuhan Produk Domestik BrutoIndonesia pada kuartal II tercatat mencapai 5,29 persen secara tahunan
Kepastian kebijakan moneter Bank Indonesia yang mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen, menurut Kiwoom Sekuritas, bisa memberikan rasa aman bagi pelaku pasar.
Namun hal ini dengan tetap membuka peluang pelonggaran apabila pergerakan nilai tukar Rupiah mendukung.
Dukungan terhadap IHSG juga datang dari tren kenaikan harga komoditas ekspor unggulan nasional, seperti minyak kelapa sawit, nikel, dan emas.
Dari sisi isu domestik, pasar merespons positif pergerakan relief rally setelah DPR menunjukkan komitmen terhadap pembahasan RUU Perampasan Aset.
Meski demikian, investor diimbau untuk tidak mengabaikan sejumlah faktor risiko yang berpotensi memicu volatilitas.
Kiwoom Sekuritas mencatat secara historis, September dikenal sebagai bulan dengan tren seasonality yang cenderung lemah bagi IHSG, dengan rata-rata kinerja mencatatkan minus 0,94 persen dan peluang penguatan hanya sebesar 33 persen.
Di kancah internasional, kewaspadaan pasar tertuju pada potensi arah kebijakan moneter hawkish yang serentak dari bank sentral utama dunia, yakni The Fed, ECB, dan Bank of Japanpada pertengahan September.
Dari pasar modal domestik, terdapat agenda rebalancing indeks FTSE Russell yang efektif pada 18 hingga 21 September, di mana sebanyak 39 saham Indonesia diperkirakan akan terdampak.
Sementara itu, Kiwoom Sekuritas memandang aksi jual bersihinvestor asing secara Year to Dateyang telah menembus Rp97,28 triliun masih menjadi tantangan tersendiri, mengingat pasar masih menunggu proses verifikasi indeks MSCI yang dijadwalkan pada November mendatang.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.