Minyak Brent Menuju USD100 Efek Perang Iran-AS TerbaruGeely Tambah Kapasitas Produksi EX2 di Purwakarta, ini Dampaknya ke Konsumen
Namun, pesta belanja asing tersebut hanya berlangsung sehari. Pada perdagangan 2 September, investor asing kembali mencatat net sell Rp326,61 miliar di pasar reguler.
Pada hari yang sama, IHSG terkoreksi tipis 0,06 persen ke level 6.595,77.
Pergerakan tersebut membuat posisi investor asing menjadi salah satu faktor yang patut diperhatikan untuk mengukur apakah penguatan IHSG masih mempunyai tenaga lanjutan.
Sebab, arus dana asing yang berbalik arah dalam waktu singkat menunjukkan investor global masih cukup selektif dalam menempatkan dana di pasar saham Indonesia.
Jika ditarik ke beberapa hari sebelumnya, aliran dana asing sebenarnya masih menunjukkan kecenderungan positif. Investor asing membukukan net buy Rp2,22 triliun sepanjang 26 Agustus hingga 1 September.
Namun, sebagian besar transaksi tersebut berasal dari pasar tunai dan negosiasi yang mencapai sekitar Rp1,93 triliun, sedangkan net buy di pasar reguler hanya sekitar Rp297,24 miliar.
Di pasar reguler, sektor perbankan menjadi salah satu sasaran utama. BBRI mencatat net buy asing sekitar Rp914,3 miliar pada periode tersebut, disusul BBCA sekitar Rp891,4 miliar dan BMRI sekitar Rp752,2 miliar.
Arus tersebut memberikan konteks tambahan terhadap posisi BBRI yang sedang dicermati secara teknikal.
Pada perdagangan 2 September, BBRI ditutup di level Rp3.390 atau naik 0,30 persen. Saham tersebut masih mencatat net buy asing sekitar 458 ribu lot.
Artinya, ketika IHSG secara keseluruhan mulai kehilangan tenaga, minat asing terhadap salah satu saham perbankan berkapitalisasi besar masih terlihat.
Dari sisi fundamental, ruang ekspansi BBRI juga masih terbuka. Laporan semester I 2026 menunjukkan total kredit konsolidasian BRI mencapai Rp1.580,42 triliun pada akhir Juni 2026, meningkat dari Rp1.460,73 triliun pada akhir 2025.
Pada periode yang sama, laba bersih mencapai Rp31,18 triliun atau tumbuh 17,5 persen secara tahunan.
Sementara itu, saham berbasis emas seperti ARCI dan BRMS menghadapi katalis yang berbeda.
Harga emas spot sempat turun ke level terendah dalam hampir sebulan pada 2 September sebelum berbalik menguat sekitar 1 persen ke USD4.376,41 per troy ounce, berdasarkan laporan Reuters.
Volatilitas emas tersebut membuat prospek saham tambang emas belum sepenuhnya berjalan satu arah. Namun, ARCI menunjukkan sinyal menarik dari sisi transaksi asing.
Saham tersebut mencatat net buy asing sekitar 231 ribu lot pada 2 September meski harganya terkoreksi 1,92 persen ke Rp1.275.
Kondisi eksternal juga belum memberikan karpet merah sepenuhnya bagi IHSG. Wall Street memang menguat pada penutupan 2 September, dengan S&P 500 naik sekitar 0,5 persen dan Nasdaq bertambah 0,2 persen.
Namun, pasar Asia masih menghadapi tekanan dari gejolak pasar obligasi, kenaikan harga minyak, serta kekhawatiran inflasi.
Harga minyak Brent yang kembali bergerak di sekitar USD95 per barel turut menjadi perhatian.
Kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi dan mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter, terutama bagi negara berkembang yang mata uangnya masih menghadapi tekanan.
Rupiah pun belum benar-benar keluar dari zona rawan. Pada perdagangan 2 September, rupiah dibuka di sekitar Rp17.761 per USD setelah sehari sebelumnya berada di kisaran Rp17.726 per USD.
Pelemahan rupiah menjadi faktor yang perlu diperhitungkan investor karena dapat memengaruhi arus modal asing dan persepsi risiko terhadap aset Indonesia.
Dengan kondisi tersebut, peluang IHSG untuk menguji 6.635 hingga 6.666 masih terbuka, tetapi perjalanan menuju level tersebut tidak berlangsung tanpa hambatan. Asing masih punya daya beli, tetapi belum menunjukkan konsistensi.
Wall Street memberi sentimen positif, sementara minyak dan rupiah justru menjadi sumber risiko.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.