Berdasarkan data pergerakan pasar pukul 09.00 WIB, indeks domestik naik 5,19 poin atau setara 0,08 persen ke level 6.151,92 setelah sempat terkoreksi pada hari sebelumnya.
Pergerakan sektoral di bursa pada awal sesi berjalan cukup bervariasi. Sektor barang konsumen siklikal memimpin penguatan dengan menguat 0,37 persen, disusul sektor keuangan yang naik tipis 0,02 persen.
Di sisi lain, tekanan jual masih membayangi sejumlah sektor lain seperti transportasi yang merosot 0,30 persen, properti melemah 0,20 persen, serta sektor barang baku dan infrastruktur yang masing-masing terkoreksi 0,18 persen.
Sejumlah saham berhasil mencatatkan lonjakan harga secara signifikan dan masuk ke dalam jajaran top gainers di awal perdagangan.
Saham PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk dengan kode emiten BIKE dari sektor barang konsumen non-primer memimpin kenaikan dengan melesat 22,92 persen ke level 1.850 per saham.
Disusul emiten sektor perdagangan dan investasi PT Anugerah Kagum Karya Utama Tbkyang melonjak 19,72 persen ke posisi 85 per saham.
Selain itu, saham PT Alakasa Industrindo Tbkdari sektor perindustrian melambung 12,58 persen ke level 8.500 per saham.
Kenaikan turut dirasakan saham PT Idea Indonesia Akademi Tbkdari sektor jasa konsumen yang terangkat 9,55 persen ke posisi 195 per saham, serta emiten teknologi PT Kioson Komersial Indonesia Tbkyang menguat 9,52 persen ke level 92 per saham.
Namun demikian, beberapa emiten justru tertahan di zona merah dan masuk daftar top losers. Saham PT Express Transindo Utama Tbkdari sektor transportasi memimpin penurunan setelah terkoreksi 6,67 persen ke posisi 14 per saham.
Penurunan juga dialami emiten perkebunan PT Jhonlin Agro Raya Tbkyang tergerus 5,83 persen ke level 3.230 per saham.
Sektor keuangan dan properti juga menyumbang saham top losers, yakni PT Quantum Clovera Investama Tbkyang melemah 5,26 persen ke posisi 18 per saham, PT PP Property Tbkdari sektor properti yang turun 5,00 persen ke level 19 per saham, serta emiten industri barang konsumsi PT Harta Djaya Karya Tbkyang merosot 4,88 persen ke posisi 156 per saham.
IHSG Diproyeksi Masih Tertekan
Diberitakan sebelumnya, IHSG diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026.
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat indeks masih berada dalam fase koreksi setelah pada perdagangan sebelumnya turun 0,75 persen ke level 6.146.
Koreksi tersebut disertai munculnya tekanan jual. Dalam riset hariannya, Herditya memperkirakan IHSG masih berada pada bagian dari wave c dari wavepada label hitam.
Dalam skenario ini, indeks berpeluang menguji area 6.118-6.141 sebelum kembali mencoba mengisi celah kenaikan atau gap pada 6.227-6.231.
“IHSG terkoreksi 0,75 persen ke 6,146 disertai dengan munculnya tekanan jual,” tulis Herditya dalam riset MNCS Daily Scope Wave Kamis, 8 Oktober 2026.
Menurut dia, masih terdapat skenario penguatan bagi IHSG. Pada skenario label merah, indeks diperkirakan dapat menguji area 6.342-6.430.
Area tersebut bertepatan dengan cluster moving average atau MA20 dan MA60 yang menjadi salah satu acuan teknikal untuk melihat kecenderungan tren jangka pendek dan menengah.
“Posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave c dari wavepada label hitam dengan area penguatan diperkirakan akan menguji area gap di 6,227-6,231,” ujar Herditya.
Di sisi lain, investor tetap perlu memperhatikan batas bawah indeks. MNC Sekuritas menempatkan level support IHSG pada 6.091 dan 5.973. Sementara itu, resistance berada di 6.297 dan 6.376.
Dengan posisi tersebut, pergerakan IHSG hari ini akan sangat bergantung pada kemampuan indeks bertahan di area koreksi sekaligus menembus kembali level-level resistance terdekat.
Jika tekanan jual berlanjut, area 6.118-6.141 menjadi wilayah yang patut diperhatikan. Sebaliknya, pemulihan menuju 6.227-6.231 akan menjadi sinyal awal bagi peluang penguatan berikutnya.
Selain IHSG, MNC Sekuritas menyoroti empat saham yang menarik diperhatikan investor, yakni PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk, PT Darma Henwa Tbk, PT Hartadinata Abadi Tbk, dan PT Telkom IndonesiaTbk
IPOT Prediksi IHSG Rawan Tekanan ke 6.000
PT Indo Premier Sekuritas atau IPOT memprediksi Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada pekan ini 5 sampai 9 Oktober 2026 akan bergerak menguji area kunci di rentang support psikologis 6.000 hingga resistance terdekat di level 6.184 sampai 6.200.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi. menjelaskan, proyeksi rentang pergerakan tersebut didasari oleh posisi IHSG yang saat ini berada di area yang sangat menentukan.
Secara struktur teknikal, tren jangka pendek IHSG sebenarnya masih berada dalam kondisi bearish setelah gagal mempertahankan area 6.700, yang kemudian membentuk rangkaian lower high dan lower low hingga kembali menguji level psikologis 6.000.
“Level 6.000 merupakan level kunci sekaligus psychological support. Menariknya, IHSG sempat menembus ke bawah level tersebut secara intraday hingga 5.979,98 tetapi kembali ditutup di atasnya.
Ini memberikan sinyal bahwa breakdown 6.000 belum terkonfirmasi. Selama indeks mampu bertahan di area 6.000, peluang terjadinya technical rebound masih terbuka,” kata Imam Gunadi dalam riset Senin, 5 Oktober 2026.
Imam menambahkan, penutupan IHSG di level 6.036,89 atau menguat 0,46 persen pada akhir pekan lalu menunjukkan adanya respons beli dari pelaku pasar di sekitar area support.
Kondisi price action seperti ini sering menjadi fase awal pembentukan bottom jangka pendek, meskipun konfirmasi pembalikan arah baru akan tercipta jika indeks mampu bergerak naik menembus batas atas pergerakannya.
Imam menjelaskan resistance pertama yang menurut saya paling penting adalah 6.184 – 6.200. Level 6.184 pada chart merupakan resistance pertama dan secara teknikal menjadi semacam confirmation level.
Selama IHSG masih berada di bawah area tersebut, kenaikan dari 6.000 masih lebih tepat dianggap sebagai technical rebound, bukan perubahan tren.
“Jika indeks berhasil menembus 6.184 dan mampu bertahan di atasnya, struktur jangka pendek mulai membaik karena IHSG berhasil mengambil kembali area breakdown sebelumnya,” ujar Imam.
Selain faktor teknikal domestik, arah IHSG pada pekan ini juga akan sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar global dan rilis sejumlah indikator ekonomi utama.
Perhatian utama pelaku pasar internasional tertuju pada dokumen FOMC Minutes yang dijadwalkan rilis pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Dokumen tersebut akan membeberkan perdebatan internal jajaran Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed saat menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen hingga 4,00 persen pada September lalu.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.