IHSG Hari ini Diproyeksi Kembali Menguat, Level 6.013 Jadi Penentu

Inflasi AS Jinak, Wall Street Naik Tipis tapi Bunga The Fed Masih Jadi HantuBank NeoSoroti Fungsi AI di Perbankan, dari Layanan ke Kemampuan Prediktif

Rupiah menjadi salah satu sumber tekanan utama. Bank Indonesia mencatat JISDOR berada di level Rp17.998 per USD pada 29 September 2026.

Sehari sebelumnya, Reuters melaporkan rupiah bahkan sempat menembus Rp18.000 per USD untuk pertama kalinya sejak awal Agustus.

Pelemahan rupiah tersebut datang ketika tekanan eksternal sedang cukup kuat. Reuters mencatat yield Treasury AS 10 tahun mencapai 5,27 persen pada 29 September, level tertinggi dalam 19 tahun.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat dolar lebih menarik sekaligus memberi tekanan kepada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Bagi pasar saham, pergerakan rupiah menjadi penting karena dapat memengaruhi arus modal asing dan persepsi investor terhadap aset domestik.

Reuters juga mencatat IHSG sempat melemah hingga 2,2 persen pada perdagangan 29 September sebelum akhirnya memangkas sebagian penurunannya dan ditutup turun sekitar 0,6 persen.

Tekanan eksternal tersebut kemudian bertemu dengan kebijakan moneter domestik. Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 22–23 September 2026.

Suku bunga Deposit Facility dipertahankan 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen.

Keputusan tersebut tidak bisa dilepaskan dari upaya BI menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.

Bank sentral juga menyatakan akan memperkuat kebijakan untuk menarik aliran modal asing serta memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing.

Artinya, pasar saham masuk Oktober dengan dua cerita yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, suku bunga domestik masih ditahan pada 5,75 persen.

Di sisi lain, BI menghadapi tekanan eksternal yang membuat stabilitas rupiah menjadi perhatian lebih besar.

Data inflasi kemudian menjadi kepingan berikutnya. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Agustus mencapai 3,19 persen, naik dari 2,88 persen pada Juli.

Inflasi inti berada di 2,92 persen, sedangkan inflasi bulanan mencapai 0,21 persen.

Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi BI sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen. Namun, pasar masih menunggu data September yang dijadwalkan dirilis pada 1 Oktober.

Dalam jajak pendapat Reuters pada 25–29 September, ekonom memperkirakan inflasi September kembali meningkat tipis.

Data inflasi September karena itu menjadi salah satu informasi penting yang akan dibaca pasar bersamaan dengan perkembangan rupiah.

Bukan semata-mata karena satu angka inflasi akan menentukan arah IHSG, melainkan karena angka tersebut ikut membentuk ekspektasi mengenai ruang kebijakan moneter Bank Indonesia ke depan.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.