Target tersebut dinilai memiliki ruang penguatan yang relatif terbatas jika melihat posisi IHSG pada perdagangan 30 September 2026.
Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Investment Research Herald van der Linde mengatakan, target IHSG 6.200 telah dipertahankan HSBC dalam beberapa waktu terakhir.
Sementara pada perdagangan Rabu, 30 September 2026 pukul 15.05 WIB, posisi IHSG tercatat berada di level 6.095,86.
“Kami memiliki target IHSG sebesar 6.200 hingga akhir tahun, dan target tersebut sudah kami pertahankan cukup lama. Saat ini IHSG berada di sekitar 6.112,” ujar Herald kepada media di Jakarta, Selasa, 29 September 2026.
Jika mengacu pada posisi IHSG 6.095,86, target 6.200 HSBC hanya berjarak sekitar 104 poin atau setara dengan potensi kenaikan sekitar 1,7 persen.
Angka tersebut, menunjukkan HSBC tidak memasang asumsi pemulihan yang tinggi pada IHSG dalam tiga bulan terakhir di tahun ini.
Pergerakan IHSG sepanjang September juga menunjukkan tekanan yang masih membayangi pasar saham domestik. Berdasarkan data perdagangan hingga 30 September 2026, IHSG melemah 429,62 poin atau 6,58 persen dalam sebulan.
Pada perdagangan terakhir selama September, IHSG dibuka di 6.118,05 dan sempat menguat hingga 6.187,05. Namun, indeks kemudian bergerak turun hingga menyentuh level terendah 6.092,84 sebelum berada di 6.095,86 pada pukul 15.05 WIB.
Posisi tersebut juga memperlihatkan IHSG masih berada cukup jauh dari level tertingginya dalam rentang 52 minggu.
Dengan 52-week high di 9.174,47, posisi IHSG saat ini sekitar 33,6 persen lebih rendah dari level tersebut. Di sisi lain, IHSG masih berada sekitar 14,6 persen di atas level terendah 52 minggu sebesar 5.317,91.
Kondisi itu menjadi latar bagi proyeksi HSBC yang menempatkan IHSG di 6.200 hingga akhir tahun. Dengan posisi indeks di sekitar 6.096, target tersebut membutuhkan penguatan sekitar 1,7 persen.
Herald menyatakan, ruang kenaikan IHSG juga berkaitan dengan perkembangan arus modal dan stabilitas rupiah.
Menurut Herald, investor mulai kembali melihat Indonesia setelah sebelumnya perhatian pasar banyak terserap oleh saham, serta perusahaan yang berkaitan dengan tema kecerdasan buatan atau artificial intelligence
“Seperti yang disampaikan Fred (Chief Asia Economist HSBC), rupiah mulai stabil dan arus modal mulai kembali masuk,” katanya.
Perubahan perhatian investor tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi arah pasar saham Asia. Herald menyebut Indonesia saat ini berada di posisi menengah jika dibandingkan dengan pasar saham lain di kawasan.
Di Mana Posisi Indonesia pada Pasar Modal Dunia?
Herald juga menyebut, sejumlah pasar regional mendapatkan perhatian lebih besar karena pertumbuhan laba perusahaan yang sangat tinggi, terutama perusahaan yang berkaitan dengan tema AI.
“Bagaimana posisi Indonesia dibandingkan negara lain di kawasan? Indonesia berada di kelompok menengah,” katanya.
Dia mencontohkan pasar Korea Selatan. Pada awal tahun, analis memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan di Korea sekitar 50 persen.
Namun, proyeksi tersebut kemudian mengalami revisi besar hingga mencapai sekitar 320 persen pada pekan sebelumnya.
Sementara itu, pertumbuhan laba perusahaan di Indonesia diperkirakan berada di sekitar 10 persen, sedangkan India berada di kisaran 10 hingga 12 persen.
Perbedaan pertumbuhan laba tersebut membuat perhatian investor masih terkonsentrasi pada pasar yang memiliki eksposur kuat terhadap pertumbuhan berbasis AI.
Namun Herald menyampaikan, arus dana dapat berubah apabila investor mulai mempertanyakan keberlanjutan valuasi dan pertumbuhan di sektor tersebut.
“Namun, jika investor mulai khawatir bahwa sektor AI sudah terlalu mahal, maka mereka akan kembali mencari pasar yang menawarkan pertumbuhan non-AI, dan Indonesia bisa menjadi salah satu tujuan,” sebutnya.
Sempat Sentuh 18.000, Rupiah Ditutup Melemah Tiga Poin
Rupiah kembali bergerak di sekitar level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 29 September 2026.
Tekanan datang dari penguatan dolar AS, lonjakan imbal hasil US Treasury, serta kenaikan harga minyak yang memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi dan arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup pada Rp17.981 per dolar AS, melemah tipis 3 poin atau 0,02 persen dibandingkan posisi penutupan Senin di Rp17.978. Namun, pergerakan intraday menunjukkan tekanan yang lebih besar.
Rupiah sempat menyentuh Rp18.010 per dolar AS, menjadi level terlemah sejak awal Agustus, sebelum kembali bergerak di bawah Rp18.000 menjelang penutupan.
Pergerakan tersebut terjadi ketika pasar valuta asing global menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Imbal hasil US Treasury 10 tahun sempat mencapai 5,27 persen, level tertinggi dalam 19 tahun.
Kenaikan yield membuat aset berbasis dolar AS relatif lebih menarik sekaligus meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Bagi rupiah, kombinasi antara yield AS yang tinggi dan harga minyak yang meningkat menjadi persoalan yang saling berkaitan.
Harga Brent pada Selasa berada di sekitar USD106 per barel dalam perdagangan global, di tengah ketidakpastian konflik AS-Iran dan prospek pasokan energi.
Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan harga minyak membuat pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan pengetatan moneter lanjutan oleh The Fed.
Pandangan tersebut muncul setelah bank sentral AS pada 16 September menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen sampai 4 persen.
Dalam pernyataannya, The Fed juga menyebut inflasi masih berada pada level yang tinggi.
Pasar kemudian mencermati peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Ibrahim menyebut CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan pada Oktober berada sekitar 70 persen.
Angka tersebut merupakan ekspektasi pasar berbasis harga kontrak Fed Funds futures, bukan keputusan The Fed. CME sendiri menjelaskan FedWatch menghitung probabilitas perubahan suku bunga berdasarkan harga kontrak tersebut.
Karena itu, data ekonomi Amerika Serikat menjadi penting bagi arah rupiah dalam beberapa hari ke depan. Pasar akan mencermati data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE, ISM PMI, serta Nonfarm Payrolls.
Data tersebut dapat memengaruhi penilaian investor terhadap tekanan inflasi, kondisi ekonomi AS dan ruang perubahan kebijakan The Fed.
Tekanan rupiah juga tidak hanya berasal dari ekspektasi suku bunga. Fakhrul Fulvian, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, menyoroti kenaikan imbal hasil obligasi global sebagai salah satu pemicu pelemahan rupiah.
Menurutnya, kenaikan yield AS dapat meningkatkan daya tarik aset dolar sehingga mendorong penyesuaian pada mata uang negara berkembang.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, Indonesia justru menetapkan asumsi nilai tukar yang cukup jauh dari posisi pasar saat ini dalam APBN 2027.
Pemerintah dan DPR menyepakati asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS untuk 2027.
Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 6 persen, inflasi 2,5 persen, harga minyak mentah Indonesia USD75 per barel, dan lifting minyak 612,5 ribu barel per hari.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.