Tekanan tersebut berjalan bersamaan dengan aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp4,42 triliun dalam sepekan perdagangan.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup di level 6.121,70 pada Selasa, 29 September 2026, melemah 26,16 poin atau 0,43 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Jika ditarik dalam empat pekan terakhir, tekanan indeks terlihat konsisten. Pada 7 September 2026, IHSG masih berada di level 6.541,38.
Posisi tersebut kemudian turun menjadi 6.441,16 pada 14 September, 6.241,89 pada 21 September, dan terakhir 6.121,70 pada 28 September. Dengan demikian, IHSG telah kehilangan sekitar 419,68 poin atau 6,42 persen dalam rentang tersebut.
Tekanan juga nampak dari aktivitas investor asing. Data perdagangan periode 23-29 September 2026 menunjukkan nilai transaksi beli asing mencapai Rp19,39 triliun, sedangkan transaksi jual mencapai Rp23,81 triliun.
Dengan demikian, investor asing mencatatkan net sell Rp4,42 triliun di seluruh pasar. Dari jumlah tersebut, net sell di pasar reguler mencapai Rp3,13 triliun, sementara transaksi tunai dan negosiasi mencatat net sell Rp1,30 triliun.
Asing Jual, Investor Domestik Menahan Tekanan
Di tengah aksi jual investor asing, aktivitas investor domestik justru menunjukkan pola yang berbeda.
Dalam periode 23-29 September 2026, nilai transaksi beli investor domestik tercatat sekitar Rp40,14 triliun, sedangkan transaksi jual mencapai Rp35,71 triliun. Dengan demikian, investor domestik membukukan net buy sekitar Rp4,43 triliun.
Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan dari investor asing masih mendapatkan penyeimbang dari aktivitas investor domestik.
Namun, besarnya transaksi domestik juga perlu dilihat dari struktur perdagangan secara keseluruhan karena porsi aktivitas investor domestik jauh lebih besar dibandingkan investor asing.
Dalam periode tersebut, transaksi asing menyumbang sekitar 36,29 persen dari total nilai perdagangan, sementara investor domestik mencapai 63,71 persen.
Dari sisi volume saham, kontribusi investor asing tercatat 20,53 persen, sedangkan investor domestik mencapai 79,47 persen.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan IHSG tidak hanya ditentukan oleh aksi investor asing.
Ketika investor domestik masih melakukan akumulasi, tekanan jual asing dapat diredam sehingga indeks tidak mengalami penurunan yang lebih dalam.
Meski demikian, net sell asing tetap menjadi perhatian karena berlangsung ketika IHSG telah mengalami penurunan selama empat pekan berturut-turut.
Jika arus keluar asing berlanjut dan tidak lagi mampu diimbangi oleh pembelian investor domestik, tekanan terhadap indeks berpotensi kembali meningkat.
Pada perdagangan 29 September 2026 saja, IHSG bergerak di rentang 6.013,08-6.150,55 sebelum ditutup di level 6.121,70. Nilai transaksi tercatat Rp11,75 triliun dengan volume 357,45 juta lot dan frekuensi 1,80 juta transaksi.
Masih Ada Peluang Rebound
Di tengah tekanan empat pekan tersebut, MNC Sekuritas melihat masih terdapat peluang penguatan IHSG dalam jangka pendek.
“Kami memperkirakan, posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave c dari wavesehingga masih terdapat peluang penguatan dalam jangka pendek untuk menguji 6,152-6,196.
Namun demikian, waspadai koreksi lanjutan yang akan menguji 5,850-5,946,” kata analis MNC Sekuritas, dikutip Rabu, 30 September 2026.
MNC Sekuritas menempatkan 6.041 dan 5.984 sebagai level support IHSG. Sementara itu, level resistance berada di 6.297 dan 6.419.
Proyeksi tersebut membuat pergerakan IHSG pada perdagangan Rabu menjadi penting untuk melihat apakah indeks mampu mempertahankan area support sekaligus membuka ruang pemulihan menuju rentang 6.152-6.196.
Namun, risiko penurunan tetap perlu diperhatikan. Jika tekanan jual kembali meningkat dan IHSG kehilangan level-level support tersebut, skenario koreksi menuju area 5.850-5.946 menjadi perhatian dalam analisis MNC Sekuritas.
Dari sisi saham, MNC Sekuritas juga memberikan sejumlah strategi perdagangan. BBCA direkomendasikan Trading Buypada rentang Rp6.100-Rp6.150 dengan target Rp6.275 dan Rp6.400 serta stop loss di bawah Rp6.050.
Sementara ICBP dan MBMA masuk rekomendasi Buy on Weakness. ICBP memiliki area beli Rp6.375-Rp6.550 dengan target Rp7.000 dan Rp7.175.
Adapun MBMA berada pada area beli Rp474-Rp490 dengan target Rp520 dan Rp550.
MNC Sekuritas juga merekomendasikan UNTR dengan strategi Buy on Weakness pada Rp24.600-Rp24.900. Target harga yang diberikan berada di Rp25.650 dan Rp26.550, dengan stop loss di bawah Rp24.300.
Bagi investor, kombinasi pelemahan IHSG selama empat pekan dan net sell asing Rp4,42 triliun menjadi indikator penting untuk mencermati arah arus dana serta kemampuan indeks bertahan di atas level support.
Di sisi lain, proyeksi MNC Sekuritas menunjukkan peluang technical rebound masih terbuka dalam jangka pendek, meski risiko koreksi lanjutan belum hilang.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.