Tiga Indeks Wall Street Kompak Merah, Saham Apple Inc Terkoreksi 2,66 Persen

Kenaikan imbal hasil US Treasury kembali menjadi tekanan utama bagi pasar.

Investor juga sedang bersiap menghadapi sejumlah data ekonomi penting yang dapat mempengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Dow Jones Industrial Average ditutup turun 131,59 poin atau 0,26 persen menjadi 51.349,92. S&P 500 terkoreksi 12,85 poin atau 0,17 persen ke 7.670,84, sedangkan Nasdaq Composite turun 22,84 poin atau 0,09 persen menjadi 26.797,54.

Yield Treasury 30 Tahun Meroket

Tekanan terbesar datang dari pasar obligasi. Yield Treasury 30 tahun mencapai 5,6206 persem, level tertinggi sejak Juni 2002.

Sementara yield Treasury 10 tahun menembus 5,293 persen, tertinggi sejak Juni 2007.

Kenaikan tersebut menaikkan tingkat diskonto yang digunakan pasar untuk menilai arus kas masa depan perusahaan, sekaligus menaikkan biaya pendanaan korporasi.

Yield yang tinggi membuat instrumen pendapatan tetap menjadi lebih kompetitif terhadap saham.

Pada saat bersamaan, perusahaan menghadapi biaya modal yang lebih tinggi, terutama pada sektor-sektor yang membutuhkan pendanaan besar atau memiliki valuasi yang sangat bergantung pada proyeksi pertumbuhan laba dalam jangka panjang.

Namun, tekanan terhadap saham sempat mereda setelah yield bergerak turun dari level tertinggi intraday. Harga minyak juga terkoreksi setelah muncul indikasi pemulihan ekspor dari kawasan Timur Tengah.

Reuters mencatat harga minyak Brent masih berada di sekitar USD105 per barel dalam perdagangan sebelumnya, meski kemudian bergerak turun.

Pergerakan minyak menjadi penting karena kenaikan harga energi dapat kembali memperbesar tekanan inflasi.

Kondisi tersebut berpotensi membuat Federal Reserve lebih berhati-hati dalam memberikan pelonggaran moneter, atau bahkan mempertahankan opsi kenaikan suku bunga apabila tekanan harga kembali menguat.

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Berubah

Pasar mendapat sinyal yang relatif lebih hati-hati dari Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams.

Ia mengatakan bank sentral masih memiliki waktu untuk menilai data ekonomi sebelum menentukan kapan kembali menaikkan suku bunga.

Pernyataan tersebut mengubah ekspektasi pasar.

Berdasarkan FedWatch Tool CME Group yang dikutip Reuters, probabilitas kenaikan suku bunga sedikitnya 25 basis poin pada pertemuan Oktober turun menjadi 51,5 persen, dari hampir 70 persen pada awal perdagangan.

Di sisi lain, pandangan di internal The Fed belum sepenuhnya seragam. Sejumlah pejabat masih membuka kemungkinan kenaikan tambahan apabila inflasi tidak cukup cepat kembali menuju sasaran.

Perbedaan pandangan tersebut membuat setiap data ekonomi berikutnya menjadi semakin penting bagi pembentukan ekspektasi pasar.

Perhatian berikutnya tertuju pada data Personal Income and Outlays yang mencakup indeks harga Personal Consumption Expenditures

Departemen Perdagangan AS menjadwalkan rilis data PCE Agustus pada Rabu, 30 September pukul 08.30 waktu AS. PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian utama dalam penentuan kebijakan moneter.

Setelah itu, perhatian pasar beralih ke data tenaga kerja. Laporan Employment Situation untuk September dijadwalkan dirilis Jumat, 2 Oktober pukul 08.30 waktu AS.

Pasar Tenaga Kerja Mulai Menunjukkan Pelemahan

Sebelum data payrolls dirilis, indikator JOLTS memberikan sinyal bahwa permintaan tenaga kerja mulai melemah.

Jumlah lowongan pekerjaan di AS turun 256.000 menjadi 7,079 juta pada Agustus, di bawah konsensus ekonom yang disurvei Reuters sebesar 7,225 juta.

Sementara itu, Conference Board melaporkan indeks kepercayaan konsumen turun dari 88,6 pada Agustus menjadi 81,9 pada September, level terendah dalam sekitar 12,5 tahun.

Penurunan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran rumah tangga terhadap kondisi bisnis dan pasar tenaga kerja dalam beberapa bulan mendatang.

Kombinasi antara pelemahan lowongan kerja dan turunnya kepercayaan konsumen menciptakan dilema bagi The Fed. Di satu sisi, tekanan inflasi dan harga energi dapat membutuhkan kebijakan moneter yang tetap ketat.

Di sisi lain, pelemahan sejumlah indikator ekonomi meningkatkan risiko tekanan terhadap konsumsi dan aktivitas bisnis.

Saham AI Masih Menjadi Pusat Perhatian

Di tengah tekanan yield, sektor teknologi mendapat katalis dari perkembangan industri kecerdasan buatan.

Prospektus IPO Anthropic memperlihatkan pertumbuhan pendapatan yang sangat cepat, tetapi juga kebutuhan belanja infrastruktur yang besar.

Reuters melaporkan perusahaan mencatat pendapatan hampir USD4,6 miliar pada 2025 dan kerugian bersih sekitar USD42 miliar, sementara kewajiban belanja cloud, komputasi, dan infrastruktur mencapai sekitar USD518 miliar.

Antusiasme terhadap prospek IPO Anthropic ikut menopang saham teknologi. Meta Platforms naik 3,3 persen, menjadi salah satu saham megacap yang bergerak berlawanan dengan tekanan pasar secara umum.

Namun, pergerakan sektor teknologi tetap berlangsung selektif karena kenaikan yield memberikan tekanan terhadap valuasi saham pertumbuhan.

Apple justru menjadi salah satu penekan utama Dow setelah sahamnya turun 2,66 persen. Walmart turun 1,78 persen, sedangkan Johnson & Johnson terkoreksi 1,61 persen.

Di sisi lain, Boeing naik 1,78 persen, Amgen 1,31 persen, dan Caterpillar 0,82 persen.

Di S&P 500, Carnival melonjak 13,41 persen, Royal Caribbean naik 7,45 persen, dan Applied Materials menguat 5,16 persen. Fair Isaac menjadi penekan terbesar dengan penurunan 26,66 persen.

Lebarnya tekanan pasar juga terlihat dari breadth perdagangan. Di NYSE, saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 1,66 banding 1.

Di Nasdaq, rasio saham turun terhadap saham naik mencapai 1,47 banding 1.

Volume perdagangan mencapai 16,15 miliar saham, masih di bawah rata-rata 16,87 miliar saham dalam 20 sesi terakhir.

Pergerakan Wall Street saat ini memperlihatkan pasar yang berada di antara dua kekuatan: ekspektasi pertumbuhan, terutama dari sektor teknologi dan AI, serta tekanan makro dari kenaikan yield, harga energi dan ketidakpastian arah suku bunga.

Data PCE dan payrolls menjadi katalis berikutnya yang akan membantu pasar menilai apakah tekanan inflasi masih cukup kuat untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat atau mulai memberi ruang bagi perubahan ekspektasi suku bunga.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.