JP Morgan untuk pertama kalinya sejak perang Amerika Serikat dan Israel versus Iran dimulai, mengaku tidak lagi memiliki skenario dasar yang jelas mengenai ke mana arah pasar minyak.
Pernyataan itu muncul ketika harga minyak masih bertahan di atas USD100 per barel, sementara permintaan global justru terus tertekan.
Brent pada Kamis waktu setempat, 17 September 2026, ditutup di sekitar USD104,82 per barel dan West Texas IntermediateUSD101,91. Harga tersebut memang turun sekitar 1 persen, tetapi tetap berada jauh di atas level sebelum konflik.
JP Morgan memperkirakan nilai wajar Brent untuk September berada di sekitar USD90 per barel. Artinya, harga pasar saat ini mencerminkan premi risiko yang cukup besar terhadap kemungkinan gangguan pasokan tambahan.
Persoalannya, pasar minyak saat ini tidak hanya bergerak berdasarkan hubungan sederhana antara permintaan dan pasokan.
Gangguan produksi dan distribusi di Timur Tengah, penurunan persediaan, risiko terhadap jalur pelayaran, serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dan Ukraina, serta perubahan perilaku konsumen membuat keseimbangan pasar menjadi jauh lebih kompleks.
JP Morgan memperkirakan sekitar 10 juta barel per hari pasokan telah terdampak oleh konflik.
Namun, harga minyak belum mengalami lonjakan yang lebih besar karena pasar merespons gangguan tersebut melalui dua mekanisme, yaitu mengurangi konsumsi dan menggunakan persediaan.
Data JP Morgan menunjukkan persediaan minyak mentah dan produk olahan global telah turun sekitar 555 juta barel sejak konflik dimulai.
Meski terdengar besar, angka tersebut hanya sekitar sepertiga dari penurunan yang sebelumnya diperkirakan bank tersebut.
IEA Keluarkan Laporan, Apa Isinya?
Pada saat yang sama, permintaan minyak global disebut berada sekitar 4,4 juta barel per hari di bawah level setahun sebelumnya. Penurunan konsumsi inilah yang membantu menutup sebagian besar kehilangan pasokan.
Dengan kata lain, pasar tidak sepenuhnya menyeimbangkan kekurangan minyak melalui kenaikan harga. Sebagian penyesuaian justru terjadi melalui penurunan konsumsi.
Fenomena tersebut terlihat semakin jelas dalam data terbaru International Energy Agency atau IEA. Dalam laporan September, IEA memangkas proyeksi permintaan minyak global 2026 dan kini memperkirakan konsumsi turun 2,5 juta barel per hari.
Penurunan tersebut 940.000 barel per hari lebih besar dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya. IEA menyebut tingginya harga bahan bakar dan terganggunya pasokan produk sebagai faktor yang menekan konsumsi.
Ini menjelaskan mengapa pasar minyak terlihat kontradiktif.
Di satu sisi, pasokan terganggu dalam skala besar sehingga harga terdorong naik. Di sisi lain, harga yang tinggi mulai menghancurkan sebagian permintaan.
Konsumen mengurangi penggunaan bahan bakar, perusahaan menyesuaikan aktivitas, dan industri mencari alternatif yang lebih efisien.
Mekanisme tersebut dikenal sebagai demand destruction atau penghancuran permintaan. Semakin mahal energi, semakin besar insentif untuk mengurangi konsumsi.
Pada titik tertentu, penurunan permintaan dapat menjadi penyeimbang bagi pasokan yang hilang.
Namun, mekanisme tersebut memiliki batas.
Ketika persediaan semakin menipis, pasar memiliki semakin sedikit bantalan untuk menghadapi gangguan berikutnya. IEA mencatat persediaan minyak global telah turun sekitar 507 juta barel sejak perang dimulai.
Pada Agustus saja, stok berkurang sekitar 95 juta barel atau sekitar 3,1 juta barel per hari.
Inilah yang membuat JP Morgan tidak dapat lagi menggunakan pola historis sederhana untuk menentukan harga minyak.
Selama masih tersedia persediaan besar, gangguan pasokan dapat ditutup dengan menarik stok. Namun, ketika stok semakin rendah, gangguan tambahan akan lebih cepat diterjemahkan menjadi kenaikan harga.
Risiko tersebut semakin besar karena masalah saat ini bukan hanya produksi minyak mentah. Infrastruktur energi dan jalur distribusi juga menghadapi tekanan.
Serangan terhadap fasilitas energi Saudi Arabia telah mengganggu salah satu jalur alternatif ekspor minyak.
Sementara itu, risiko terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb membuat distribusi minyak menjadi lebih mahal dan tidak pasti. Reuters melaporkan lalu lintas kapal melalui Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal.
Gangguan tersebut menciptakan perbedaan antara ketersediaan minyak secara teoritis dan minyak yang benar-benar dapat dikirim ke konsumen.
Minyak mungkin masih tersedia di suatu negara, tetapi apabila jalur pipa, pelabuhan, kapal tanker atau selat strategis terganggu, pasokan tersebut tidak serta-merta dapat masuk ke pasar global.
Itulah sebabnya harga minyak tetap tinggi meski permintaan melemah.
Kawasan Asia Jadi Penyelamat?
Di sisi lain, pasar juga belum sepenuhnya kehilangan penyangga. JP Morgan mencatat persediaan yang masih cukup besar di China, Eropa, Jepang dan Korea Selatan.
Stok tersebut dapat digunakan apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama.
Kondisi ini membuat pasar berada dalam posisi yang serba terbatas. Persediaan masih tersedia, tetapi terus menyusut.
Permintaan turun, tetapi belum cukup untuk menghilangkan tekanan pasokan. Produksi dapat meningkat di beberapa wilayah, tetapi gangguan geopolitik membuat tambahan pasokan tidak selalu mudah masuk ke pasar.
Perbedaan proyeksi antara IEA dan OPEC juga memperlihatkan ketidakpastian tersebut.
IEA memperkirakan permintaan minyak global turun cukup tajam pada 2026, sedangkan OPEC masih memperkirakan permintaan tumbuh, meskipun kembali memangkas proyeksinya.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa lembaga-lembaga pasar memiliki asumsi yang berbeda mengenai dampak konflik terhadap konsumsi dan perekonomian global.
Sementara itu, harga produk minyak memberikan sinyal tekanan yang lebih besar daripada harga minyak mentah. JP Morgan mencatat harga bensin AS mencapai USD4,37 per galon, sedangkan diesel mencapai rekor USD6,31 per galon.
Kondisi diesel menjadi perhatian khusus karena produk tersebut digunakan secara luas untuk transportasi barang, industri dan aktivitas ekonomi.
Jika harga diesel tetap tinggi ketika memasuki periode permintaan musiman yang kuat, tekanan biaya dapat menyebar lebih luas ke perekonomian.
Karena itu, pasar minyak sekarang menghadapi dua arah risiko yang berlawanan.
Jika konflik mereda dan jalur distribusi kembali normal, pasokan dapat pulih sementara permintaan yang sudah tertekan tetap lemah. Kondisi tersebut dapat mengurangi premi risiko dalam harga minyak.
Sebaliknya, apabila gangguan pasokan berlanjut dan persediaan terus menyusut, pasar akan semakin bergantung pada penurunan permintaan untuk menjaga keseimbangan.
Jika demand destruction tidak lagi mampu mengimbangi kehilangan pasokan, tekanan harga dapat kembali meningkat.
Pergerakan harga pada Kamis menunjukkan bagaimana sensitifnya pasar terhadap perubahan informasi.
Harga Brent turun sekitar 1 persen setelah Arab Saudi menawarkan tambahan pasokan melalui Oman, meredakan sebagian kekhawatiran mengenai gangguan ekspor. Namun, Brent tetap bertahan di atas USD100 karena risiko pasokan belum hilang.
Dengan demikian, “abu-abu” yang dimaksud bukan berarti pasar tidak memiliki data. Justru sebaliknya, data yang tersedia menunjukkan terlalu banyak variabel yang bergerak secara bersamaan.
Permintaan turun, tetapi pasokan juga turun. Persediaan masih ada, tetapi terus menyusut.
Harga tinggi menekan konsumsi, tetapi konflik masih mengancam distribusi. Ada jalur alternatif, tetapi kapasitasnya terbatas.
Dalam kondisi seperti ini, harga minyak tidak hanya mencerminkan keseimbangan barel yang tersedia dan dikonsumsi. Harga juga mencerminkan berapa besar risiko yang harus dibayar pasar untuk mendapatkan kepastian pasokan.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.